
"Masuklah kedalam lubang cahaya itu, dia akan membawamu kembali kedunia asal mu..'
ucap Kakek Huo San serius.
Andi mengangguk, kemudian berjalan memasuki gerbang cahaya tersebut.
Sebelum menghilang kedalam lubang cahaya itu, Andi menoleh kearah kakek itu dan berkata,
"Terimakasih.. banyak kek.."
Kakek Huo San menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut, melepas kepergian Andi.
Ditempat lain di dunia nyata, violin yang habis dari toilet mencuci muka nya, agar tidak terlihat terlalu menyedihkan wajah nya.
Selama 3,5 bulan ini, bukan hanya Andi yang mengalami perubahan, Violin sendiri juga terlihat banyak mengalami perubahan.
Tubuhnya pun menjadi lebih kurus, wajahnya yang biasanya sedikit chuby, kini terlihat tirus kurang bersemangat, jelas terlihat dia sangat lelah menjalankan hidupnya saat ini.
Violin sangat kaget, saat melihat garis lurus hijau dan bunyi suara yang panjang dan datar, dari mesin monitor detak jantung dan nadi Andi yang telah berhenti total.
Dengan wajah pucat dan panik, Violin buru-buru menekan bell darurat memanggil para medis.
Setelah itu dia sendiri berlari keluar dari dalam kamar rawat inap Andi sambil berteriak,
"Dokter,..Dokter..., Suster... suster..! Tolong,... Tolong...!"
Violin berteriak dengan wajah pucat dan air mata berlinang membasahi wajahnya.
Dia terus berlari kearah meja perawat jaga.
Para perawat dan Dokter jaga buru buru berlari menghampiri kamar Andi.
Setelah masuk kedalam kamar, Dokter jaga buru buru, melakukan pemeriksaan keadaan Andi.
Dia lalu dengan buru-buru memberitahu pada para perawat, agar menyiapkan alat pacu jantung.
Para perawat dengan sigap menyiapkannya.
Seorang perawat dengan sigap melepaskan baju, dan alat alat yang menempel di dada Andi.
Dokter kemudian membawa dua buah alat kejut jantung bertegangan tinggi, yang di gosokkan dulu, setelah di beri gel oleh suster perawat pendamping si Dokter.
Setelah alat sudah siap, alat tersebut langsung ditempelkan kedada Andi yang kurus.
Tubuh Andi langsung tersentak keatas, di buat alat pacu bertegangan tinggi tersebut.
Violin yang berdiri di belakang para perawat dan Dokter, yang sedang sibuk bertindak untuk melakukan pertolongan pada Andi.
Sudah tidak bisa menahan tangisan pilu hatinya, melihat keadaan Andi saat itu.
Violin terpaksa menggunakan kedua tangannya menutupi mulutnya, agar suara tangisnya jangan sampai menggangu kinerja dokter dan perawat yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Setiap alat kejut itu di tempelkan ke dada Andi, tubuh Andi akan tersentak hebat keatas.
Monitor detak jantung Andi pun sedikit naik garisnya keatas.
Tapi hanya sesaat saja, lalu kembali datar lagi.
Dokter terus melakukannya berulang kali, tapi melihat hasilnya di monitor tidak ada perubahan.
Dokter pun menghentikan penggunaan alat pacu tersebut dan menyerahkan ke perawat nya untuk di bereskan.
Dokter itu membuka penutup wajahnya, melihat kearah Violin, sambil menghela nafas tak berdaya, dia menggeleng kan kepalanya dan berkata,
"Maaf nona, kita sudah berusaha maximal, harap tabah dan relakan kepergiannya.."
Lalu dokter itu berjalan keluar dari dalam kamar tersebut.
Dua orang suster perawat, mulai melepaskan peralatan bantu yang menempel di tubuh Andi.
Lalu hendak menutupi wajah Andi dengan kain selimut putih.
Tapi Violin sambil menangis histeris, melarang mereka melakukannya.
Sambil menangis keras, Violin terus memukul mukul dada Andi dan berteriak,
"Tidak,.. tidak... tidak boleh begini...kak Andi...kak Andi... jangan pergi...jangan tinggalkan Violin... Violin tidak mau...hu...hu...hu..!"
"Kak Andi bangunlah.. bangunlah kak...jangan tinggalkan Violin,..hu..hu...hu...!"
Mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan tersebut, menyusul Dokter jaga yang sudah pergi duluan.
Tapi tak di sangka pukulan pukulan yang Violin lakukan, malah membuat monitor detak jantung, kembali bergerak turun naik.
Detak jantung Andi kembali hidup dan berfungsi.
Violin tidak menyadari hal itu karena sedang menangis histeris penuh kesedihan.
Dia terus menelungkup kan wajahnya miring diatas dada Andi.
Perlahan lahan jari tangan Andi mulai bergerak gerak, lalu matanya yang terpejam perlahan lahan terbuka lalu menutup.
Andi belum terbiasa dengan cahaya di luar, karena matanya terlalu lama terpejam.
Saat mulai normal, Andi baru bisa membuka matanya melihat apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Andi dengan wajah bingung, dan kepala sedikit terangkat melihat kearah Violin.
"Nona kamu siapa ? apa yang terjadi..?"
tanya Andi dengan wajah bodoh, menatap kearah Violin dengan bingung
Mendengar suara Andi meski pelan, Violin sangat terkejut, dia segera menghentikan tangisannya, menatap kearah Andi dengan tatapan tak percaya dan kaget.
__ADS_1
"Kakak kamu...?"
tanya Violin kaget, hanya ucapan itu yang keluar dari mulutnya.
Setelah itu dia mengucek ngucek matanya sendiri, untuk memastikan dirinya tidak salah lihat.
Lalu dia mencubit tangannya sendiri , untuk memastikan dia tidak sedang bermimpi.
Setelah merasa kesakitan dan yakin itu bukan mimpi, Violin sambil tertawa gembira buru buru memencet tombol panggilan darurat kembali.
Lalu sambil tertawa gembira, dia memegang wajah Andi, tanpa malu malu, dia menciumi pipi kening mata bahkan bibir Andi.
Andi hanya bengong ditempat tidak tahu mau berbuat apa.
Karena dia sendiri benar'benar tidak tahu dan tidak ingat apapun tentang dirinya.
Bahkan namanya sendiri pun, dia tidak ingat sama sekali.
Sementara dokter jaga tadi dan perawat jaga, sangat kaget saat mendengar bunyi bell dari kamar 301.
Mereka menjadi heran, bukankah pasien di kamar tersebut, jelas jelas sudah meninggal tadi.
Kenapa masih di bunyikan bell tanda darurat.
Dengan wajah penuh penasaran mereka semua segera kembali kearah kamar 301.
Saat mereka masuk kedalam kamar dan melihat kondisi Andi yang sedang duduk, sambil menatap kearah mereka semua dengan wajah bingung.
Mereka semua sangat kaget, Dokter buru buru maju menghampiri Andi melakukan pemeriksaan.
Sesaat kemudian dia mengeluarkan HP nya, menelpon Prof Peter Ho ayah Ronaldo, dan menjelaskan situasi yang di hadapi nya saat ini.
Setelah mematikan ponselnya, Dokter itu menatap kearah Andi dan Violin secara bergantian kemudian berkata,
"Prof Peter Ho sedang menuju kemari, nanti akan di lakukan pemeriksaan lanjutan.."
"Aku keluar sebentar.."
ucap dokter itu lalu buru-buru keluar dari kamar tersebut, sambil menggaruk kepalanya sendiri dengan heran.
Sementara itu, melihat Dokter dan perawat sudah meninggalkan kamarnya.
Andi menatap heran ke Violin dan berkata,
"Siapa aku ? kamu siapa ? apa..apa yang sebenarnya terjadi..?"
Melihat Andi seperti lupa ingatan, Violin jadi teringat dengan ucapan Prof Peter Ho dan Dokter Vincen sebelumnya.
Bila Andi kembali sadar dari komanya, ada kemungkinan dia akan lupa ingatan.
Violin sedikit merasa sedih dan kasihan dengan Andi, tapi di sisi lain dia juga merasa gembira.
__ADS_1