
"Ahh mati aku sekali ini."
batin Andi,
Andi menjadi gugup dan panik tidak tahu mau bicara apa, dia tidak menyangka Violin akan langsung menembaknya dengan pertanyaan ini.
"Aku...aku..."
ucap Andi sedikit gugup.
Melihat sikap Andi yang seperti nya sangat mencurigakan dan sedang menyimpan sesuatu darinya.
Apalagi sejak tadi Andi selalu berbicara sambil menghadap jendela dan menutup kepalanya dengan handuk.
Tadi pagi juga mengantar sarapan tanpa menemuinya.
Violin meski masih muda polos, tapi dia tidak bodoh.
Di segera menghampiri Andi dan menarik Andi agar menghadap kearah nya.
Lalu dengan cepat dia menarik handuk yang menutupi kepala dan wajah Andi.
Andi berusaha tersenyum sambil memalingkan wajahnya yang pada memar.
Violin menatap wajah Andi dengan terkejut, sepasang matanya membelalak indah, mulutnya sedikit terbuka.
"Kak Andi wajah mu kenapa ?"
ucap Violin cemas sambil berusaha menarik dagu Andi, agar wajahnya menghadap kearah nya.
Andi tersenyum Canggung tidak mampu menjawab.nya.
"Kakak jangan jangan uang pelunasan hutang, kakak peroleh dari hasil bertarung, benarkan..! ? jawab kak...!?"
ucap Violin yang wajahnya mulai basah oleh airmata nya yang bercucuran.
Dia sangat terharu dan sedih melihat pengorbanan yang Andi lakukan untuk membantu dirinya dan keluarganya.
Padahal di antara mereka tidak ada hubungan atau ikatan apa pun.
Satu satunya hubungan mereka dengan Andi adalah lewat Viona kakaknya, dan itupun mereka hanya teman baik saja.
Violin merasa pengorbanan Andi ini terlalu besar, dan mereka tidak layak menerimanya.
Apalagi saat teringat dimana dia dan keluarganya dulu, begitu membenci dan mengutuki Andi, sebagai pengganggu keharmonisan kakaknya dan Rio.
Violin semakin sedih dan merasa bersalah.
"Kakak mengapa... mengapa kakak lakukan hal itu,? kami tidak layak menerima pengorbanan kakak yang sebesar ini.."
"Mengapa kakak begitu bodoh dan begitu baik..aku...aku...hu...hu...hu..hu...!"
__ADS_1
Violin menundukkan kepalanya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dan mulai menangis tersedu-sedu.
Dia sudah tidak tahu mau berkata apa, selain menangis melepaskan semua perasaan menyesal terharu dan sangat merasa bersalah.
Hatinya sangat perih dan sakit saat melihat Andi terluka sampai seperti ini.
Hal inilah yang paling tidak ingin Andi lihat, tapi kini justru dia harus melihatnya.
Sambil menghela nafas panjang Andi berkata, "Sudahlah Lin jangan menangis lagi, maafkan kakak yang tidak jujur dengan mu."
Andi lalu mengulurkan tangannya membelai kepala Violin dengan lembut dan berkata,
"Lin kakak minta tolong jangan nangis lagi ok."
"Nanti bila terdengar oleh penghuni kamar lain, mereka akan mengira kakak sedang membully kamu.."
"Nanti bisa timbul salah paham tidak perlu."
Mendengar ucapan Andi, sambil menutupi mulutnya berusaha menahan tangisnya, Violin menatap Andi dengan cucuran air mata.
"Lin inilah alasan mengapa kakak menyembunyikan hal ini dan menghindari bertemu dengan mu."
"Karena kakak tidak ingin melihat mu menangis bersedih dan mencemaskan kakak.. seperti sekarang ini."
"Kamu jangan berpikir terlalu banyak, apalagi bersedih, kakak ingin kamu dan keluarga mu hidup bahagia dan berkecukupan."
"Dengan demikian perasaan bersalah kakak, karena tidak bisa melindungi dan menjaga kakak mu dengan baik, akan sedikit berkurang."
"Kakak akan jujur dan menceritakan semuanya pada mu, tapi berjanjilah kamu jangan bersedih lagi."
"Kamu mau kan berjanji... dan membantu kakak ?"
Tapi kak...ini .. ini...Ini bisa membahayakan keselamatan kakak, Violin takut... Violin tidak mau kehilangan kakak.. Violin... Violin..."
ucap Violin yang kesulitan menyelesaikan kata-katanya.
Andi kembali membelai lembut kepala Violin dan berkata,
"Lin kakak berjanji, sebelum kamu sukses menjadi seorang dokter seperti cita cita mu, kakak tidak akan pernah pergi meninggalkan mu."
"Percayalah pada kakak, kakak saat ini sangat membutuhkan dukungan mu, untuk mewujudkan rencana kakak dan Viona."
Mendengar penjelasan Andi, Violin hanya bisa mengangguk kecil, lalu dia langsung menubruk kearah dada Andi.
Violin memeluknya dengan erat melepaskan semua kesedihannya, lewat tangisan tanpa suara, sambil menyandarkan kepalanya di dada Andi
"Ufghhh...!"
desis Andi menahan nyeri.
Karena tubrukan Violin justru tepat membentur beberapa lukanya, terutama luka rusuk yang retak.
__ADS_1
Violin yang merasakan ada yang janggal dengan reaksi Andi, dia buru-buru melepaskan pelukannya, lalu sambil menatap Andi dengan cemas dia berkata,
"Kak Andi kamu kenapa ?"
Andi tersenyum canggung dan berkata,
"Tidak apa-apa Lin hanya sedikit luka luar di bagian sini saja, tidak perlu di pikirkan."
Violin menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas,
"Tidak kak,.. Lin tidak percaya, lepaskan baju kakak, biar Lin lihat dan memeriksanya."
Andi tersenyum Canggung, dia tidak bisa membantah selain menuruti permintaan Violin,
Andi kemudian dengan perlahan melepaskan baju kaosnya di hadapan Violin.
Kini di hadapan Violin terpampang sebentuk badan yang berotot dan atletis, tapi sekujur badannya di hiasi luka memar di mana-mana.
Bila dalam keadaan biasa, Violin pasti akan menatap dengan kagum, tubuh yang padat kekar penuh otot dengan kulit yang putih bersih dan mulus.
Tapi kini kondisinya berbeda, Violin berdiri mematung, airmatanya perlahan-lahan kembali mengucur dengan deras membasahi pipinya yang halus, saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, luka yang di alami oleh Andi.
Semua ini terjadi karena Andi mengorbankan diri dan nyawanya demi mencari uang, untuk membantu kehidupan dirinya dan keluarganya.
Pengorbanan Andi yang begitu besar bahkan berusaha menutupi semuanya dan menyimpan semuanya sendiri, membuat Violin sudah tidak bisa berkata apa-apa.
Selain kembali menangis tersedu-sedu dengan airmata bercucuran deras membasahi wajahnya, yang putih dan mulus.
Beberapa saat kemudian saat Andi ingin memakai kembali bajunya, Violin berkata,
"Kak mana obat luka nya,? biar Violin yang bantu kakak mengoleskan obatnya.."
Andi mengerti maksud Violin, bila hal ini bisa membantu mengurangi kesedihan Violin, kenapa tidak pikir Andi.
Andi mengangguk dan berkata,
"Obatnya ada di kasur, kamu boleh bantu obati tapi jangan bersedih dan menangis lagi.'
"Kedepannya masih akan lebih banyak lagi, l
luka yang memerlukan mu untuk merawat kakak, kamu mau kan bantu kakak.."
Violin mengambil obat luka dari ranjang, lalu kembali berdiri di hadapan Andi dan berkata,
"Apa maksud ucapan akan makin banyak luka,? kakak boleh maju bertarung tapi usaha kan jangan terluka."
"Bukankah kakak tidak ingin melihat Lin bersedih dan menangis, untuk itu kakak tidak boleh terluka, dengan begitu Lin pun tidak perlu bersedih."
Andi tersenyum mendengar alasan Lin yang agak di buat buat dan maksa, mana ada pertarungan tanpa luka.
Bisa menang dan keluar dengan selamat saja sudah harus bersyukur.
__ADS_1
Lagipula lawan lawannya bukanlah orang orang pengangguran tanpa kerjaan, mereka semua adalah ahli beladiri dan profesional di bidang Masing-masing.
.