
Paman Fei menganggukkan kepalanya, lalu sambil tersenyum sinis kearah John dan Seno.
Paman Fei menerima sebuah tas dari Ahong, lalu di letakkan di atas meja yang terletak tepat di sebelah kursi John dan Seno.
Paman Fei mengeluarkan sebuah palu menimang nimang, lalu di ayun ayunkan.
Tapi dia menggelengkan kepalanya kurang puas, lalu dia mencari cari di dalam tas.
Akhirnya mengeluarkan sebuah palu yang jauh lebih besar tapi setelah menimang dan mengayunkannya seperti tadi.
Dia akhirnya mengembalikan kedalam tas dan berkata,
"Tidak ada yang lebih besar apa ?"
Anak buah paman Fei, langsung berlari kearah mobil Jeep yang parkir tidak jauh dari sana.
Dia mencari cari di dalam mobilnya, tak lama kemudian dia datang dengan sebuah palu besar yang biasa di gunakan untuk bongkar bangunan.
Anak buah paman Fei menghampiri paman Fei sambil menyeret palu besar itu.
Paman Fei tersenyum lebar melihat yang di bawa oleh anak buahnya.
Dia menerima palu itu lalu dia tes dengan menghantam sebuah tiang penyangga beton cor..
Tiang penyangga yang besar dan kuat itu langsung retak retak dan melesak kedalam begitu terkena hantaman palu itu.
John dan Seno yang dari tadi melihat gerak gerik paman Fei dengan wajah pucat.
Saat melihat tiang beton cor yang melesak kedalam, terkena hantaman palu, mereka berdua langsung menelan ludah mereka masing masing.
Kini terlihat paman Fei menghampiri John, dia megang megang lutut John.
John langsung meronta-ronta dan berteriak,
"Tolong,..!! tolong,..!!"
"Jangan jangan ampun,..!!
"Aduh mati aku,..!"
teriakannya ketakutan celananya kembali basah, air menetes netes kebawah membasahi sekitar tempat duduknya.
Paman Fei mengukur ukur, sebelum kemudian mengangkat palu besar itu keatas, siap dilepaskan kearah lutut John.
John sudah menangis histeris, akhirnya dia berkata,
"Baiklah,..Baiklah,..aku ngaku,..aku ngaku...!!"
"Mario yang menyuruh kami, ini semua atas permintaan Mario..!"
"Mario itu tangan kanan Bos Wang Xing .aku punya bukti rekamannya.."
Tunggu,.. tunggu,.. aduhhhhh,..nenek moyang ku...Ahhh...!!"
teriak John histeris, saat palu itu sudah melesat ke bawah.
"Baamm...!!"
John bernafas lega saat palu itu ternyata di hantam keatas lantai yang jaraknya beberapa senti dari jempol kakinya..
__ADS_1
"John kamu cari mati,..!"
tegur Seno sambil mendeliki John.
John mendeliki Seno kembali dan berkata,
"Keparat,..aku nyesal mengikuti ajakan mu..!"
"Bukan kaki mu yang di ancam tentu saja kamu bicara begitu.."
"Persetan dengan kalian, aku masih mau lihat matahari esok.."
ucap John kesal.
Paman Fei tertawa dan berkata,
"Bagus John, kamu sudah memilih jalan yang tepat.."
Sesaat kemudian paman Fei menoleh kearah Ahong dan berkata,
"Yang satu itu kamu aja yang urus Hong.."
Ahong mengangguk, lalu dengan wajah tanpa ekspresi,.dia membongkar tas di atas meja, mengeluarkan sebuah bor.
Ahong memain mainkan bor tersebut, lalu dia membawanya kehadapan Seno.
Ahong dengan kasar mendorong kepala Seno yang botak mendongak keatas, lalu menahannya di sana.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Ahong mengarahkan mata bor yang berputar-putar dengan suara berdengung dengung kearah mata kanan Seno.
Kini giliran Seno yang berteriak-teriak histeris, sampai terkencing kencing ketakutan.
"Aku nyerah,.. aku nyerah,.. aku akan berikan semua bukti keterlibatan Bos Wang Xing dalam hal ini kepada kalian.."
Mendengar ucapan Seno, Ahong pun menghentikan mata bor yang tinggal beberapa centi didepan mata Seno.
Paman fei bangkit dari duduknya dan berkata,
"Bawa kedua orang menjijikkan ini pergi mandi berganti pakaian.."
"Kita akan membawa mereka kembali ke Nanjing.."
"Hei kalian berdua dengar baik baik berkooperatif lah, berikan semua bukti dan jadilah saksi yang baik di kantor polisi nanti."
"Bila tidak, kalian pasti akan menyesal.."
ucap Paman Fei sambil tersenyum dingin.
Seno dan John mengangguk angguk dengan cepat, seperti ayam sedang di suguhi gabah di hadapannya.
Kedua orang itu kemudian di giring ketempat agak jauh oleh bawahan paman Fei mereka di telanjangi kemudian di tembak dengan air buat pemadam kebakaran, hinga tubuh mereka terpental berguling-guling di atas lantai.
Baru mereka di sodori pakaian bersih. dibawah todongan senjata.
Kedua orang itu buru buru mengenakan pakaian bersih yang di sediakan tanpa berani mengeluh sedikitpun.
Setelah itu mereka berdua di kawal meningkatkan tempat itu, langsung menuju lokasi di mana John dan Seno menyimpan bukti bukti mereka.
Setelah itu mereka baru di giring menuju bandara.
__ADS_1
Di mana Nicole dan Berry sudah menunggu dengan santai di dalam pesawat.
Seno dan John tidak berani banyak bersuara, mereka berdua segera menyerahkan semua bukti yang mereka punya ke Nicole setelah mereka tiba di dalam pesawat.
Dua jam kemudian rombongan tersebut sudah tiba di kantor kepolisian Nanjing.
Setelah menyerahkan bukti copykan dan salinan serta menyerahkan kedua orang itu ke pihak kepolisian.
Akhirnya Andi pun di bebaskan dan diijinkan meninggalkan penjara di kantor kepolisian.
Selain itu Nicole juga membuat tuntutan balik ke Mario dan Wang Xing berdasarkan bukti bukti yang ada.
Andi sambil tersenyum gembira berjalan menghampiri Nicole dan Berry yang sedang menunggunya didepan kantor polisi.
"Terimakasih banyak, atas bantuan kalian berdua aku baru bisa kembali menghirup udara bebas.."
ucap Andi sambil mengulurkan tangannya menyalami Nicole dan Berry.
Berry menyalami Andi, lalu menarik dan merangkul Andi sambil berbisik,
"Senang bisa kembali berkumpul dengan mu, sahabat ku.."
Andi membalasnya dengan senyum terharu dan berkata,
"Terimakasih Berry, kamu selalu hadir di sisiku, setiap aku sedang berada di titik terendah.."
Setelah berangkulan dengan Berry, Andi kini menatap kearah Nicole.
Lalu mengulurkan tangannya kearah Nicole dan berkata,
"Terimakasih banyak Nicole, kamu memang selalu sangat bisa di andalkan.."
Nicole tidak menyambut uluran tangan Andi, melainkan maju memeluk Andi sambil melepaskan tangisan kebahagiaan nya.
Andi berdiri diam membiarkan Nicole melepaskan semua perasaan yang menekan dirinya beberapa hari ini.
Setelah tangis Nicole sedikit mereda, Andi baru berkata,
"Nicole tenanglah, saat ini bukan waktunya menangis.."
"Pekerjaan kita masih banyak, segera lah hubungi ayah mu.."
"Minta pada beliau hari ini juga, agar di selenggarakan rapat umum pemegang saham.."
"Aku akan menemani mu hadir ketempat tersebut.."
"Untuk menyelesaikan langkah terakhir kita.."
ucap Andi sambil perlahan lahan mendorong Nicole menjauhi nya.
"Apa rencana mu di,.. ?"
tanya Nicole heran.
Andi tersenyum dan berkata,
"Nanti saat rapat umum pemegang saham terselenggara, kamu juga akan tahu dengan sendiri.."
"Nicole meski penasaran, tapi dia menganggukkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Baiklah aku percaya dengan mu, aku akan telpon ayah sekarang.."