
Di meja kini terlihat ada 5 piring nasi uduk, 3 paha dan 2 dada bebek goreng, sepiring kecil petai , 5 potong tahu dan tempe lengkap dengan sambal dan lalapan.
3 gelas es jeruk dan 3 gelas air putih hangat, serta 3 mangkuk air buat cuci tangan.
"Kok banyak banget di... mesannya .?"
tanya Viona.
Andi Tersenyum dan berkata,
"Kita malam ni harus makan dengan puas, karena tidak tahu kapan-kapan lagi kita bisa makan bersama-sama seperti ini.."
Viona pun terdiam dan menunduk dengan wajah sedikit termenung.
Andi mengambil sepiring kecil petai goreng, yang sudah di kupas dan berkata,
"Vi kamu doyan ini gak ?"
Viona melirik kearah piring kecil yang di pegang Andi dan berkata,
"Gak ihh itu kan petai yang bau, gak mau ahh."
ucap Viona takut sambil menutup hidungnya.
Andi tertawa melihat sikap Viona,
dia kini mengalihkan ke Santi dan berkata,
"Kamu gimana San ?"
Di luar dugaan Santi berkata,
"Wah ini baru mantap...hi..hi...hi..dah lama gua gak makan makanan sedap ini.."
Sambil tertawa, Andi meletakkannya didepan Santi.
Lalu Andi mengambilkan paha bebek goreng buat Santi Viona baru buat dirinya sendiri.
Melihat Viona kesulitan makan, karena bebeknya masih panas susah di kupas dagingnya.
Andi turun tangan membantu Viona mengupasnya, dan menaruhnya di tempat sambal untuk di cocol.
Andi mengambil nasi uduk tambahan sepiring di satukan ke nasi di piringnya.
Sisa sepiring lagi dia bagi dua, setengah dia berikan ke Santi setengah nya lagi dia berikan ke Viona.
Andi makan sambil membantu mengupaskan, sepotong dada bebek goreng buat Viona.
Lalu sisa potongan dada bebek goreng satunya lagi, Andi berikan ke piring Santi.
Mereka bertiga makan dengan seru dan tertawa-tawa senang.
"Waduh di.. aku kenyang banget deh ampun.."
__ADS_1
ucap Santi tanpa malu malu, dia memilih duduk mundur berselonjor meluruskan kakinya.
Viona mengangguk menyetujui ucapan Santi, dia juga mengikuti gaya yang di lakukan oleh Santi.
Andi hanya tersenyum, sambil pelan-pelan makan menghabiskan sisa lauk tempe tahu yang tersisa di meja.
"Di,.. sebaiknya kita tidak langsung naik motor deh, lebih baik kita jalan santai dulu dekat taman sini.."
ucap Santi memberi usul, saat melihat Andi sudah menyelesaikan pembayaran tagihan mereka.
Andi melihat kearah Viona, menunggu persetujuan pendapat Viona.
Viona tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu berkata,
"Usul Santi boleh juga, hitung-hitung bisa menurunkan makanan yang bikin perut buncit ini.."
Mendengar ucapan Viona Andi dan Santi pun tertawa.
Tak lama kemudian ketiga orang itu pun, bergerak meninggalkan tempat makan itu, berjalan menuju taman, yang di hiasi lampu kuning sebagai penerangan.
Sinar dari lampu lampu kuning itu memberi kesan romantis bagi yang lewat, maupun yang duduk-duduk Nongki-Nongki di sana.
Mereka berjalan sambil ngobrol, beberapa kali saat melewati bangku taman,
mereka memergoki pasangan muda-mudi yang sedang berciuman dengan mesra.
Melihat hal itu wajah Santi menjadi merah, menahan malu.
Tapi di lubuk hati terdalam nya ada satu dorongan ingin menikmati, dan merasakan seperti apa yang sedang pasangan itu lakukan.
Mereka hanya saling pandang sambil tersenyum, melihat pemandangan didepan mereka.
Saat mereka bertiga melewati daerah rerimbunan pepohonan, yang sedikit gelap. Tiba-tiba muncul 5 orang berandalan menghadang jalan mereka bertiga.
Salah satu berandalan, yang kelihatannya adalah pimpinan mereka.
Menatap Andi dengan tajam dan berkata,
"Tinggalkan dompet jam tangan dan kedua gadis itu, kamu boleh menggelinding dari sini,. cepat...!"
Andi berdiri gagah menatap mereka berlima dengan tenang, tidak terlihat emosi maupun takut sedikitpun.
Andi mendorong pelan Viona dan Santi mundur menjauh kebelakang nya.
"Kalian berlima tolong jangan halangi jalan kami, aku tidak ingin berurusan dengan kalian."
ucap Andi memberi peringatan.
Tapi ke lima orang itu malah menertawakan Andi, dan salah satu dari mereka berkata,
"Bocah tidak tahu diri, baiklah kami akan mengurus mu lebih dulu."
"Setelah ini, kamu boleh menjadi saksi kami bersenang-senang dengan kedua gadis cantik itu."
__ADS_1
Sepasang mata Andi tiba-tiba berubah mencorong seperti sepasang mata naga sakti.
Dia menatap kearah orang yang baru saja berbicara.
Orang tersebut tanpa sadar melangkah mundur setindak, hatinya tergetar melihat sepasang mata Andi yang sedang menatap dirinya.
Tapi hanya sesaat, keberanian nya kembali muncul saat menyadari tubuh Andi lebih kecil darinya.
Sedangkan mereka berlima, Andi cuma sendirian ditempat sepi ini, dia hanya ditemani dua wanita cantik.
Melihat kedua gadis cantik di depan mata, ***** kotor menutupi perasaan ngerinya tadi.
Sehingga dia dengan penuh semangat maju hendak menangkap dan menundukkan Andi.
Tapi baru saja dia mendekat, sebuah tendangan Andi mendarat di dagunya, membuat dia terpental kebelakang jatuh terlentang kehilangan kesadaran.
Tindakan Andi mengejutkan keempat rekannya, mereka buru-buru maju mengepung Andi , lalu dengan serentak mereka maju berusaha menangkap kaki tangan Andi.
Dengan tujuan ingin menjatuhkan Andi keatas tanah, kemudian mengunci dan meringkusnya, agar tidak bisa memberikan perlawanan lagi.
Tapi rencana tinggal rencana, Andi dengan mudah menghindari tangkapan mereka, dan membalas mereka satu persatu dengan tendangan keras dan akurat.
Ada yang mendarat di wajah hidung telinga perut dan kepala belakang.
Keempat orang sisanya dalam waktu sekejap jatuh bergelimpangan, ada yang mengaduh giginya yang copot, ada yang mengaduh hidungnya yang bocor berdarah.
Ada yang bergulingan menahan mules di perutnya.
Yang terakhir yang terkena tendangan di bagian belakang kepalanya terjerembab tidak sadarkan diri.
Karena otak di bagian belakang kepalanya, mengalami guncangan hebat, terkena tendangan yang di lepaskan oleh Andi.
Setelah agak tenang, ketiga orang sisanya kembali berdiri, yang dua orang mencabut pisau kecil dari pinggang mereka.
Satunya lagi memutar-mutar gear roda, yang terikat rantai diatas kepalanya.
Gear roda berputar cepat seperti baling-baling helikopter.
"Melihat ada yang bergerak menyerang Andi dengan gear roda, Viona berteriak ngeri ketakutan.
Dia menutupi wajahnya, sambil membalikkan badannya kebelakang.
Santi lebih berani, meski dia juga terbelalak pucat dan tubuhnya gemetar.
Tapi dia tetap melihat dengan sepasang mata terbelalak ketakutan.
Melihat rekan mereka sudah maju menyerang Andi dengan Gear roda, kedua rekannya yang lain langsung melompat menyusul menikamkan pisau mereka kearah perut dan dada Andi.
Andi terlihat tenang, saat gear roda mendekatinya, Andi menendang gear roda tersebut tepat ditengahnya.
Sehingga gear itu terpental menghantam wajah orang yang ingin menikam perut Andi.
Sedangkan tikaman kedua kearah dada Andi, di hindarkan dengan bergeser kesamping,
__ADS_1
Memanfaatkan daya dorong tenaga dan berat tubuh musuhnya.
Andi memutar arah tusukan nya, untuk menusuk kearah teman nya sendiri, yang sedang memegang senjata gear..