
Setelah berkata Rio langsung menyeret tas besarnya, meninggalkan kamarnya.
Meninggalkan Viona yang sedang berlutut menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sendiri yang pucat dan kurus.
Tapi sesaat kemudian Viona segera bangkit dan berteriak,
"Tidak,..,! Rio,..! tunggu aku,..! jangan pergi ! jangan tinggalkan kami,..! Rio tunggu..!"
Teriak Viona keras keras, sambil memegangi perut bawanya menahan beban,.dan memegangi pinggang nya yang terasa pegal.
Viona berusaha secepat mungkin untuk mengejar dan menghentikan Rio agar tidak pergi meninggalkan dirinya.
Tapi Rio menoleh pun tidak, dengan cepat dia menuruni tangga, kemudian dengan sedikit terburu buru dia menyeret tasnya menuju teras rumah.
Viona masih terus memanggilnya dibelakang sambil berusaha secepat nya menuruni tangga mengejar Rio.
Karena terburu buru dan kurang hati hati, kaki Viona terpeleset di tangga tubuhnya langsung oleng kedepan .
Untungnya Viona berhasil meraih pegangan tangga,, tubuhnya sempat berputar sekali ditangga tapi tertolong oleh pegangan tangga Viona berhasil menyelamatkan diri nya serta kandungan nya.
Dia tidak sampai terjatuh dari tangga yang bisa berakibat fatal dengan kandungan dan nyawa nya.
Tapi aku at insiden itu, Viona tidak bisa menahan kepalanya terantuk dengan pegangan tangga.
Sehingga darah langsung mengucur turun ke pipi nya, tapi tanpa menghiraukan hal itu.
Viona terus melanjutkan upaya menuruni tangga secepat mungkin.
Akhirnya dia berhasil sampai di undakan tangga terbawah, lalu sambil berlari memegangi perut bawahnya dan melambaikan tangannya kearah Rio dia berteriak sekuat tenaga.
"Rio tunggu,...!! Jangan pergi Rio,..!!" tunggu aku,.."
teriak Viona sambil berusaha secepat nya menyusul Rio.
Saat tiba di halaman teras, Viona berdiri bengong dengan air mata bercucuran.
Saat melihat ada seorang wanita lain bertubuh tinggi langsing berwajah cantik dengan rambut panjang di cat coklat sangat anggun.
Sebuah kacamata hitam terlihat di sisipkan di atas keningnya, menambah kemodisannya.
Bila di bandingkan dengan Viona yang kurus pucat dengan perut besar dan daster ibu hamil yang besar.
Tentu Viona kalah jauh darinya, mungkin bila dulu sewaktu kuliah, jelas Viona jauh lebih cantik dari gadis itu.
Tapi kini setelah menikah tidak terawat, dan selalu bersedih,.di tambah lagi sedang hamil besar.
Viona sudah tidak mungkin bisa menandingi gadis itu, biar di lihat dari sisi manapun tetaplah dia kalah jauh.
Wanita cantik itu terlihat edang berdiri di samping mobil Rio sambil tersenyum manis menyambut kedatangan Rio.
Rio langsung mendekati wanita itu, memeluk dan menciumi pipinya dengan mesra.
Lalu Rio menyeret tasnya untuk di masukkan kedalam bagasi.
__ADS_1
Sedangkan wanita itu sambil menoleh kearah Viona dan melontarkan senyum mengejek, dia menganggukkan sedikit kepalanya kebawah.
Kaca mata hitam yang di selipkan di atas keningnya langsung turun kebawah menutupi matanya.
Sambil tersenyum penuh kemenangan, dia mengibaskan rambutnya, lalu dengan anggun dia melangkah masuk kedalam mobil.
Viona yang sesaat melongo di sana, saat Rio menutup pintu bagasi mobil.
Dia baru tersadar dan segera berlari mengejar kearah Rio sambil memegangi perutnya.
"Rio tunggu,.. Rio tunggu aku,..!
teriak Viona sambil mempercepat langkahnya.
Akhirnya dia berhasil mengejar dan menahan pintu mobil Rio, sebelum di tutup.
Viona berdiri di sana menahan pintu mobil Rio dengan air mata bercucuran dia berkata,
"Rio mengapa ? mengapa kamu tega ? mengapa kamu tega mau meninggalkan ku.."
"Apa kamu tidak perduli lagi dengan anak kita ? apa kamu sudah lupa dengan semua janji mu pada ku ? mengapa kamu begitu tega ? apa salahku Rio ? jawab aku, tatap mata ku..!"
teriak Viona marah geram bercampur sedih dan kecewa.
Rio akhirnya menatap kearah Viona dan berkata,
"Kamu bukan cinta yang ku inginkan, aku hanya memanfaatkan mu untuk menyiksa dan membalas dendam kepada nya.."
"Terhadap mu bukan cinta, hanya sebatas kasihan saja, terhadap nya lah aku menemukan cinta sejati ku.."
ucap Rio sambil mencoba mendorong Viona mundur menjauh dari mobil nya..
"Tidak Rio aku tidak mau,..! kamu harus bertanggung jawab,.. ! kamu tidak boleh pergi dengan nya..!
ucap Viona tetap berusaha bertahan, menahan pintu mobil Rio.
Tiba-tiba Wanita cantik di sebelah Rio, maju melewati Rio dan menarik pintu mobil di sebelah Rio sekuat tenaga hingga menutup keras.
"Pergilah dasar tidak tahu malu,..!"
bentak wanita itu.
"Ayo Rio maju, jangan perdulikan dia..!"
teriak wanita itu marah..
Viona yang bagian bawah dasternya terjepit pintu mobil Rio langsung berteriak panik.
"Jangan Rio,..! tunggu aku,..!"
"Ahhhhh,.."
Sebelum Viona sempat menyelesaikan kata-katanya, mobil sudah melaju kencang kedepan.
__ADS_1
Viona hanya bisa menjerit kaget ketakutan, tubuhnya kehilangan keseimbangan akibat terseret mobil.
Akhirnya tubuhnya yang terseret mobil terpelanting dengan bagian perutnya jatuh lebih duluan membentur aspal, sebelum tubuhnya bergulingan diatas aspal kasar dan keras.
Viona langsung pingsan tidak sadarkan diri, dari bawah dasternya terlihat mengalirkan darah kental yang sangat banyak dan tidak berhenti hingga seluruh bagian bawahnya dasternya kini basah oleh darah.
Rio yang sempat melihat Viona terpental jatuh, akibat terseret oleh mobilnya.
Dia buru-buru menghentikan mobilnya, lalu turun dari mobilnya.
Berlari kearah Viona.
Lalu dia buru-buru menggendong dan memangku tubuh Viona.
Berusaha menepuk nepuk wajah Viona yang pucat diam tak bergerak, dengan seluruh tubuh lunglai dan dingin.
Rio terus berteriak,
"Viona,.. ! Viona,..! bangun Vi,..! kamu kenapa,..? ayo bangun...!!"
Vivian Lim juga menyusul datang dengan wajah pucat, dia menunjuk kearah bagian bawah tubuh Viona, dengan gugup dia berkata,
"Rio itu lihat..darah,.. banyak sekali,..!"
"Cepat panggilkan ambulance,.. !!"
teriak Rio yang juga ikut panik..
Vivian Lim dengan buru-buru menggunakan HP nya menelpon ambulance.
Tak berapa lama ambulance pun tiba, para medis pun langsung turun tangan membantu Rio membawa Viona kerumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
Rio dan Vivian Lim sempat panik dan cemas menunggu Viona yang sedang mendapatkan penanganan di dalam ruang ICU.
"Rio kalau dia mati kita bisa masuk penjara, aku gak mau,.. hu,..hu,..hu.. aku takut Rio,.. hu,..hu,..hu,..!"
ucap Vivian Lim ketakutan sambil menangis.
Rio segera memeluknya dan berkata,
"Kamu tenang saja, semua adalah kecelakaan, papa kita pasti bisa membereskan nya, tak perlu takut.."
"Kalaupun pihak mereka menuntut, mereka juga tidak akan menang, kamu tenang saja.."
"Satu James sudah tidak ada, dua Andi lupa ingatan , tiga orang tua Viona tidak punya uang untuk memperkarakan kita.."
"Kamu tenang saja, di negeri ini asal ada uang semua bisa.."
"Kamu tenanglah.."
"Itupun kemungkinan terburuk, dia sedang di tolong, mudah-mudahan tertolong."
"Maka semua akan jadi lebih mudah.."
__ADS_1
ucap Rio berusaha menenangkan kekasih gelapnya itu.