AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
VIONA KUMAT


__ADS_3

Viona membuka sepasang matanya menatap kearah Andi dengan airmata bercucuran berkata,


"Mengapa kamu begitu bodoh dan keras kepala di,..?"


"Kamu kenapa tidak melihat dengan jelas, aku bukan Viona mu yang dulu lagi.."


"Bahkan aku sendiripun sudah tidak mengenali diri ku sendiri, mengapa,...mengapa,..hik,..hik,..


hik..!"


Andi memegang pipi Viona dengan lembut sambil menggelengkan kepalanya dia berkata.


"Vi,..kamu dengarkan aku, meskipun seluruh dunia mengutuk ku dan menertawai kebodohan ku.."


"Aku tidak akan pernah bisa meninggalkan mu dan melupakan mu selamanya."


"Aku akan selalu mencintai dan menyayangi mu selamanya tanpa penyesalan."


Viona sudah tidak bisa menahan dirinya untuk menubruk kedalam pelukan Andi dan menangis tersedu-sedu di sana.


"Maafkan keegoisan ku di,.. maafkan aku,."


ucap Viona pelan sambil menangis sesenggukan dalam pelukan Andi.


Akibat terlalu lelah menangis, Viona akhirnya pingsan dalam pelukan Andi.


Begitu merasakan tubuh Viona terkulai lemas dalam.pelukannya,


Andi buru buru menepuk-nepuk pipi Viona dan berkata,


"Vi,.. bangun Vi,.. kamu kenapa sayang,..? jangan menakuti ku..!"


Teriakan panik Andi membuat suster Nani beberapa perawat dan dokter segera masuk.kedalam kamar.


Andi buru buru menggotong tubuh Viona yang ringkih untuk di baringkan di kasur dan membiarkan dokter dan perawat menjalankan tugas mereka.


Sambil menunggu dengan cemas, Andi terus menggenggam tangan Viona dan berkata pelan,


"Vi ku mohon bangunlah, jangan tinggalkan aku seperti ini, setidaknya berilah aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan ku.."


"Vi ayo bangunlah, jangan pernah tinggalkan aku lagi,."


"Pak Andi tenang saja, pasien tidak.apa apa dia hanya kelelahan saja."


"Sebentar lagi, dia juga akan bangun sendiri."


"lebih baik kita semua tunggu.di luar saja, agar pasien bisa istirahat dengan tenang."


ucap dokter yang menangani Viona.


"Dok aku ingin menemaninya di sini bolehkan, aku janji hanya duduk diam di sini menemaninya."


ucap Andi menatap kearah dokter itu dengan tatapan mata penuh permohonan.


Dokter itu menghela nafas dan berkata,


"Baiklah, biar pak Andi saja di sini, mari kita keluar semua dari sini."


Dokter itu meninggalkan ruangan tersebut di ikuti yang lainnya.


Kini di dalam ruangan tersebut hanya tersisa Andi dan Viona saja.


Melihat keadaan dan penampilan Viona saat ini, Andi tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis sedih.

__ADS_1


Andi menangis dengan sangat sedih hingga kesulitan bernafas, Andi menggunakan telapak tangannya menutupi mulutnya sendiri agar suara tangisannya tidak terdengar keluar.


Setiap menatap kearah Viona, Andi selalu tidak bisa menahan cucuran airmatanya.


Masih jelas terbayang dalam ingatan Andi, Viona yang cantik luar biasa.


Percaya diri anggun lemah lembut penuh perhatian cerdas dan selalu ceria.


Sangat sulit di percaya, sekarang bisa berubah menjadi seperti ini.


Tiba tiba HP di kantong Andi bergetar, menyadarkan Andi.dari lamunan sedihnya.


Andi segera berjalan menuju balkon untuk mengangkat panggilan tersebut, saat di lihatnya panggilan tersebut datang dari Violin.


Dengan perasaan bersalah, setelah menghela nafas panjang,.mengeraskan hati.


Andi baru mengangkat telpon tersebut dan berkata,


"Ya hallo Lin,.."


"Kak gimana udah ada kabar kak Viona ?"


"Kak Andi ada di mana? sudah makan belum?"


tanya Violin penuh perhatian.


Perhatian Violin yang begitu lembut dan penuh pengertian.


Membuat Andi harus memejamkan matanya menahan airmata penyesalannya tidak.rumtuh ke bawah.


Setelah perasaannya sedikit tenang Andi baru berkata,


"Lin Viona sudah ketemu, kalau ada waktu ajaklah papa mama kemari untuk menemuinya.."


ucap Andi berusaha menahan agar tidak menangis.


"Kak Viona kenapa di,.. ? di mana dia sekarang ?"


Andi menghela nafas sedih dan berkata,


"Sulit di jelaskan, lebih baik kalian datang dan lihat sendiri, nanti aku share lokasinya ke kamu.."


"jaga kesehatan mu, jangan terlalu lelah dan berpikir terlalu banyak.."


"Aku baik baik saja, kamu tidak perlu khawatir.."


ucap Andi pelan.


Violin menghela nafas panjang dan berkata,


"Baiklah kak, aku akan mengatur waktu dan segera berangkat menemui kalian di sana.."


"Jaga diri mu kak, I love u,."


"Sama sama, kamu juga.."


ucap Andi singkat dan memutuskan panggilannya.


Setelah panggilan terputus, Violin berdiri duduk termenung di meja kantornya.


Dia meletakkan kacamatanya diatas meja sambil menghapus dua butir air bening yang mengembang di matanya.


Hatinya sangat sedih, insting wanitanya menangkap perubahan sikap Andi padanya,.yang tidak se mesra sebelumnya.

__ADS_1


Dia seperti punya firasat, akan ada suatu kabar buruk yang akan menimpa hubungan mereka.


Di mana setelah mengalami perjuangan yang sangat tidak mudah akhirnya mereka baru bisa kembali bersama.


Tapi kelihatannya ujian dan cobaan masih belum berakhir.


Andi sendiri setelah mematikan ponselnya, dia langsung bergegas kembali kesisi ranjang Viona.


Duduk diam termenung disana, sambil memperhatikan jam tangan pemberian Violin yang kini melingkari tangannya.


"Maafkan kakak Lin, kakak sungguh bersalah pada mu.."


Tiba-tiba Viona berteriak histeris dan bangun dari pingsannya.


Sepasang matanya bergerak gerak liar, dengan sangat marah, dia membentak Andi yang sedang duduk di dekatnya.


"Rio kamu bajingan, aku membenci mu,..!"


teriak Viona marah dan maju mencoba untuk mencekik leher Andi.


Tapi Andi bergerak sigap langsung menangkap kedua tangan Viona dan berkata,


"Vi,. tenanglah,..kamu yang tenang, aku Andi bukan Rio,..lihat baik baik..!"


"Bohong,..! aku mengenali mu,..! jangan coba-coba menipu ku lagi, sampai mati pun, aku tidak akan melupakan dan melepaskan mu bajingan..!"


"Jadi hantu sekalipun aku tidak akan melepaskan mu,..!"


"Lepaskan tangan mu bajingan busuk,.!"


teriak Viona sambil meronta-ronta penuh kemarahan.


"Vi,.. tenang,.. tenanglah,.. ini aku Andi,.!"


ucap Andi sedih melihat Viona yang sepertinya sedang kumat, sehingga tidak mengenali dirinya lagi.


Sepasang mata Viona masih bergerak gerak liar, sambil terus meronta-ronta, dia berteriak histeris.


"Kamu dan si ****** itu telah membunuh anak kita,.!"


"Kamu kembalikan nyawa anak ku, kembalikan...!"


"Aku akan mengadu nyawa dengan mu,..!!"


"Bajingan tak berjantung, aku sangat membenci mu,..!!"


Suara teriakan Viona dan keributan di dalam kamar, akhirnya mengundang suster Nani beberapa petugas keamanan bertubuh besar perawat dan dokter berhamburan masuk kedalam kamar.


Andi yang khawatir mereka akan bertindak sesuatu pada Viona.


Andi langsung menarik dan mendekap Viona erat erat dan berkata,


"Vi,.. kamu tenanglah,..ini aku Andi, bukan Rio..kamu jangan begini, tenang sedikit,..!"


"Ssshhh,..!"


Andi berdesis menahan nyeri, karna Viona yang meronta tidak bisa melepaskan diri.


Dia membuka mulutnya mengigit Andi dengan keras, hingga dada Andi terluka dan kemeja Andi mulai menjadi merah, karena darah yang mengucur akibat luka gigitan di dadanya.


Melihat hal ini para satpam sudah siap bergerak.


Tapi Andi mengangkat tangannya memberi kode mencegah mereka mendekat.

__ADS_1


.


__ADS_2