
"Tempat ini sudah tidak aman, kita harus cari tempat lain.."
ucap Andi kepada ketiga wanita yang satu mobil dengan nya.
Ketiga wanita itu hanya saling pandang tanpa berkata-kata.
Andi mengeluarkan ponselnya, dia melakukan panggilan telpon, begitu telponnya tersambung.
Andi langsung berkata,
"Halo Louis, kamu lagi sibuk ?"
"lagi ada di mana ?"
"Louis aku ingin main kerumah mu boleh, ? aku lagi ada di Zurich, bersama beberapa teman ku.."
"Di mana alamat rumah mu ? ok baik, aku segera kesana.."
Selesai melakukan panggilan telpon, Andi segera membawa mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Setelah menempuh perjalanan belasan menit, Andi menggunakan GPRS yang menuntunnya hingga sebuah komplek perumahan elite.
Untuk menuju kediaman Louis, Andi harus melewati sederetan pohon besar yang rindang di pinggir jalan dan danau buatan seta hamparan rumput lapangan golf yang luas, taman wahana main anak.
Akhirnya baru tiba di depan pintu gerbang masuk yang tinggi dan besar.
Andi baru mau melakukan panggilan, tapi pintu di hadapannya tiba tiba terbuka sendiri.
Andi pun tidak jadi melakukan panggilan dan kembali mengendarai mobilnya memasuki jalan besar, yang membawanya hingga memasuki halaman gedung kediaman Louis yang luas.
Di sana terparkir berderet-deret mobil mewah segala macam jenis dan merk.
Andi diam diam jadi teringat dengan rumah Bos Wang.
Setelah memarkirkan mobilnya, Andi bersama rombongan nya turun dari dalam mobil.
Berjalan menuju kediaman Louis yang besar dan mewah.
Louis sambil tersenyum lebar, datang menyambut Andi dan rombongannya.
Setelah bersalaman sebentar saling memperkenalkan diri, Louis mengajak Andi dan rombongannya masuk kedalam rumahnya.
Louis kemudian memperkenalkan Andi dan rombongannya dengan anak istrinya.
Ivan yang menemukan teman bermain, dengan gembira,.dia langsung mengikuti anak Louis yang mengajaknya pergi bermain.
Sedangkan Andi dan rombongannya mengobrol santai di ruang tengah bersama Louis dan istrinya.
"Louis kedatangan ku kali ini sepertinya akan merepotkan mu.."
ucap Andi mulai membuka pembicaraan.
Louis tersenyum lebar dan berkata,
"Apa yang bisa aku bantu di,.. katakan saja tidak perlu sungkan.."
Andi tersenyum tidak enak hati dan berkata,
"Louis aku ingin numpang tinggal beberapa hari di rumah mu bisa.."
Louis sambil tertawa menepuk bahu Andi dan berkata,
"Tentu bisa lah di,..itu bukan masalah,.kalian ingin tinggal berapa lama bebas.."
__ADS_1
"Anggap aja rumah sendiri, sebentar.."
ucap Louis sambil menoleh kebelakang dan sedikit berteriak,
"Lucy,...! Lucy,..!"
"Ya tuan,.."
ucap pembantunya, yang terlihat berlari buru buru menghampiri Louis.
"Ada pesan tuan ?"
tanya Lucy begitu tiba di hadapan Louis.
"Kamu tolong bantu ambilkan barang barang tamu kita, bawa kekamar tamu, siapkan 4 kamar ya.."
"Baik tuan.."
"Louis gak usah 3 kamar cukup.."
ucap Andi buru buru mencegah di siapkan sampe 4 kamar.
Louis menatap kearah Andi sambil tertawa dia berkata,
"Benar juga, kalau 4 kamar gimana mau bulan madunya..?"
"Ha,..ha,..ha,.. maaf teman.."
ucap Louis sambil tertawa.
Violin wajahnya langsung merah, karena Andi tadi mengenalkan dirinya ke Louis sebagai tunangannya.
Andi buru-buru menggoyangkan tangannya dan berkata,
"Louis bukan itu maksud ku, yang numpang di rumah mu hanya mereka bertiga.."
ucap Andi buru-buru mengklarifikasi.
Louis menatap Andi dengan heran dan berkata,
"Kok bisa gitu, ? kupikir kamu mau jalan jalan di Zurich,.."
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Bukan Louis, aku titip mereka disini, karena aku ada urusan penting.."
Violin memegang tangan Andi dengan erat, saat Andi menoleh kearah nya, Violin menggelengkan kepalanya.
Dia tidak ingin Andi pergi menempuh bahaya.
Andi tersenyum dan menepuk tangan Violin dengan lembut dan berkata,
"Tenang saja tidak akan ada apa apa.."
"Aku janji akan segera kembali menemui mu.."
Violin tidak membantah, tapi dari tatapan matanya dia kurang setuju,.dan agak cemas.
Andi kembali menatap kearah Louis dan berkata,
"Terimakasih ya Louis, maaf jadi merepotkan mu dan istri mu.."
Louis tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Jangan sungkan, hari ini kamu kemari, siapa tahu nanti giliran kami berlibur kerumah mu.."
Istri Louis juga ikut mengangguk membenarkan ucapan suaminya.
Andi mengangguk dan berkata,
"Baiklah,.. kalau begitu aku pamit dulu,.. terimakasih Louis .."
Andi menganggukkan kepalanya kearah Louis dan istrinya.
Setelah itu dia pun bangkit berdiri dan meninggal tempat tersebut.
Hanya Violin yang menemani Andi hingga ke mobil.
Setelah mencium kening Violin dengan lembut, Andi pun masuk kembali kedalam mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu di kediaman James yang sepi dan agak menyendiri.
Terlihat orang orang yang berseragam militer, sedang bergerak secara diam diam mendekati pondok kediaman James.
Mereka mengepung kediaman rumah James dari berbagai arah.
Puluhan orang bergerak dengan merunduk runduk dengan senjata lengkap di tangan memasuki halaman depan rumah James.
Mereka kemudian mulai melepaskan tembakan dari berbagai arah ke kediaman James.
Hanya terdengar letusan senapan mesin, dari para pengepung, rumah James sendiri tetap terlihat sepi.
Hanya kaca jendela dan dinding rumah berlubang lubang bekas di terjang peluru.
Pimpinan rombongan pengepung itu akhirnya memberi perintah untuk mendekati pondok James melakukan pemeriksaan.
10 orang pasukan musuh dengan hati hati bergerak mendekati pondok kediaman James.
Mereka membagi diri jadi 5 kelompok, kelompok pertama satu menendang pintu depan satu lagi mengcovernya dari belakang.
Kelompok kedua melakukan hal yang sama dari arah pintu belakang.
Sedangkan kelompok 3 4 dan 5 masing-masing bersiaga di kiri kanan jendela rumah.
Begitu kelompok pertama bergerak, kelompok Lain pun ikut bergerak.
"Brakkk..!!"
"Dor,..! Dor,...! Dor,..!"
terdengar bunyi pintu rumah James ditendang, kemudian disusul dengan suara tembakan yang meletus.
Di susul dengan pintu belakang rumah juga ditendang hingga terbuka, lalu suara senapan mesin pun meletus.
"Prang,..! prang,..! prang,..!"
terdengar suara kaca jendela di pecahkan kemudian suara tembakan senapan mesin pun di lepaskan.
Beberapa saat kemudian mereka baru menyerbu kedalam pondok.
Tapi cuma sebentar, mereka semua sudah keluar lagi dari dalam pondok, memberi kode keatasan mereka, bahwa pondok kosong.
Tiba tiba pondok kediaman James meledak, di susul dengan seluruh halaman rumah dan daerah sekitar kawasan rumah satu persatu ikut meledak.
Para pengepung yang jumlahnya hampir 50 orang pada terpental, lalu jatuh bergelimpangan di sekitar sana.
Petrov M Saha dan Kitaro yang mengamati dari atas mobil Jeep dengan teropong masing masing mengumpat kesal.
__ADS_1
Tidak sampai di sana kini para pengepung yang posisinya agak jauh, satu persatu juga tumbang di terjang peluru yang tidak tahu dari mana datangnya.
Bahkan setelah pasukan itu bertiarap di atas salju mereka tetap di serang oleh pasukan sniper.