
"Ya sudah Lin pulang deh, tapi jangan lupa habis kuliah mampir kerumah, jangan kecewakan mama.."
ucap Violin sambil tertawa.
Setelah itu dia pun beranjak dari kamar Andi, meninggalkan Andi yang sesaat tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi tak lama kemudian, Andi pun buru-buru meninggalkan kostnya dan langsung berangkat menuju kampus.
Saat tiba di kampus, kelas perkuliahan sudah di mulai, Andi sedikit telat.
Tapi berhubung perkuliahan malam adalah perkuliahan yang di ambil oleh orang orang yang rata rata sudah bekerja.
Jadi di sini dosen pengajar sedikit lebih toleransi ketimbang perkuliahan normal biasanya.
Andi tidak berani langsung masuk, saat dosennya sedang memberi penjelasan,
Andi menunggu hingga saat ada jeda waktu.
Andi buru-buru masuk sambil menganggukkan kepalanya kearah dosen pengajar, lalu dia buru-buru mengambil tempat duduk dan fokus mengikuti perkuliahan.
Saat Andi keluar dari kampus hendak mengambil motornya, karena perkuliahan sudah usai.
"Di...Di....kak Andi ..tunggu...kak..!"
terdengar suara teriakan seseorang dari arah belakang Andi.
Andi terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
Andi pun tersenyum saat melihat siapa yang memanggil namanya barusan.
Dan kini sedang berlarian menyusulnya dari belakang.
"Kamu do..tumben malam malam gini masih berkeliaran di kampus ?"
tanya Andi heran.
Ronaldo mengatur nafasnya sesaat baru berkata,
"Kak Andi, boleh tidak kak Andi menunjukkan rumah tempat tinggal adik ipar kak Andi, ? yang bernama Lin...Lin.. Violin ya Violin benar, rumah Violin pada ku.."
Andi tersenyum lebar dan berkata,
"Dasar buaya,.. jangan macam macam loe.. Violin masih SMP terlalu muda untuk begituan, dia harus fokus sekolah dulu.."
"Udah ya, aku masih ada urusan penting, aku jalan duluan.."
ucap Andi sambil menepuk bahu Ronaldo yang berdiri seperti orang bodoh menatap kepergian Andi.
"Buaya dasar anjing, loe tuh yang buaya, udah dapat kakak nya, masih aja rakus pengen ngembat Adeknya."
__ADS_1
Dumel Ronaldo kesal sambil nendang tiang listrik di sebelah nya yang tak bersalah.
"Aduh...! bahkan loe si tiang karatan ini juga ikut ikutan membully ku, dasar anjing semua.."
ucap Ronaldo kesal sambil mengelus-elus tulang kering kakinya sendiri.
"Aku tidak boleh nyerah, ya aku tidak boleh sebegitu mudahnya menyerah."
"Ya aku harus mengikutinya dari belakang, secara diam-diam siapa tahu si anjing itu pergi kesana sendirian.."
gumam Ronaldo sendiri lalu dia buru-buru naik keatas motor gedenya , mengenakan helm kemudian melaju cepat mengejar kearah Andi pergi.
Tanpa kesulitan sama sekali, Ronaldo dalam waktu singkat sudah menemukan Andi.
Ini semua berkat skill Ronaldo dalam mengendarai motor gede buat kebut kebutan dan untuk satu hal ini dia memang jagonya.
Ronaldo sering mengikuti berbagai lomba kebut kebutan ilegal di jalan raya, saat tengah malam bersama teman temannya yang sebagian besar anak orang kaya.
Dan hebatnya Ronaldo tidak pernah kalah setiap turun balapan, sehingga mendapatkan julukan Dewa Balap.
Sedangkan Andi yang tidak suka kebut kebutan, saat bawa motor tentu saja dengan mudah tersusul oleh Ronaldo.
Ronaldo mengintil Andi dari jauh, tanpa Andi sadari sama sekali.
"Si Anjing ini bawa motornya seperti engkong engkong, mau kemana sebenarnya dia.."
dumel Ronaldo kesal.
Ingin rasanya Ronaldo maju merendengi Andi, kemudian memutar gas di tangan Andi sampai Full.
Tapi itu semua cuma khayalan dan angan angan luar yang terbentuk oleh kekesalan nya saja.
"Demi tujuan besar orang harus sabar, ya ayah sering berkata begitu, benar sekali ini, aku mau tidak mau harus akui ucapan ayah sangat tepat."
Ronaldo memilih bersabar mengikuti Andi yang bergerak masuk ke sebuah komplek kecil yang agak becek dan kumuh.
"Sialan si anjing itu ngapain malam malam ketempat kumuh ini ? jangan benar si anjing mau ngorek sampah."
gumam Ronaldo sendiri sambil tertawa sendiri.
Tapi meski mengomel panjang pendek, dia terus mengikuti Andi dari jauh.
Akhirnya Ronaldo menemukan Andi berhenti di depan sebuah rumah sederhana.
Saat motor Andi memasuki halaman rumah tersebut, seorang gadis cantik berlari keluar dari dalam rumah menyambutnya.
Lalu dengan manja menggandeng tangan Andi masuk kedalam rumah nya.
Tentu saja Ronaldo langsung mengenali gadis itu, karena gadis itulah yang membuat nya tergila-gila sehingga sulit makan dan sulit tidur.
__ADS_1
Apapun yang sedang dia lakukan, wajah gadis itu akan selalu muncul di hadapannya.
Karena hal ini, dia bahkan membatalkan janji balapan nya, karena sedang kehilangan mood untuk itu.
Setelah memastikan itulah rumah Violin, Ronaldo pun meninggalkan tempat itu, tidak ikutan masuk.
Dia akan mencari kesempatan lain untuk mendekati Violin, dia tidak akan sebodoh itu, langsung ikut masuk kedalam rumah, tanpa di ajak.
Itu hanya akan menimbulkan kehebohan dan mempermalukan dirinya sendiri.
Sedangkan Andi setelah masuk kedalam rumah, dengan canggung duduk di hadapan mama Viona, yang terus memperhatikan wajah Andi yang babak belur dengan heran.
Akhirnya mama Viona tidak bisa menahan diri dan bertanya,
"Nak Andi itu kenapa dengan wajah mu..?"
Andi menjadi semakin gugup begitu di tanya soal itu, dia tidak biasa berbohong, dan tidak tahu mau beralasan apa.
Melihat hal ini, Violin lah yang berkata,
"Kak Andi kenapa diam saja, mama ku sedang bertanya kok gak di jawab, tenang saja mama ku sudah jinak gak kan gigit kok..."
Mama Violin mendeliki anaknya yang berbicara sembarangan.
Violin meleletkan lidahnya sambil tersenyum nakal.
Andi hanya bisa kembali menampilkan senyum canggung menanggapi candaan Violin.
Dia masih bingung dan belum menemukan jawaban yang tepat.
"Begini ma kelihatannya kak Andi terlalu kagum dengan kecantikan mama, sehingga sulit bicara, bila di paksain sampe pagi juga gak bakalan bisa jawab.."
ucap Violin berusaha melucu mencairkan suasana.
Meski kembali mendeliki putrinya, tapi bibir mamanya menyunggingkan senyum senang.
Wanita mana yang tidak akan senang bila di puji cantik.
Dan cara Violin sekali ini kelihatannya cukup berhasil menyenangkan hati mamanya.
"Kak bukan kah kakak tadi cerita ke Violin, kakak sewaktu membawa uang ke rumah Bu Norman untuk Nebus motor."
"Malah di kira maling yang bawa bawa tas, sehingga di pukuli warga hingga babak belur."
Andi dengan grogi memaksakan diri Tersenyum dan buru buru menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Memang begitulah ceritanya, terlalu konyol dan bloon, tidak layak untuk di bicarakan, sungguh memalukan.."
Ibu Wiliam Lin menatap Andi dan putrinya dengan curiga, tentu saja dia tidak mudah percaya begitu saja sebagai orang tua yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan.
__ADS_1
Tapi mama Violin tentu tidak akan membuka kecurigaan nya, di hadapan Andi.