
Setelah menyelesaikan pembayaran, Andi menenteng berkantong kantong barang belanjaan yang cukup banyak, berjalan menghampiri Violin.
"Yuk sayang kita pulang,.."
Violin tersenyum manis dan berkata,
"Mau di bantu bawain sebagian kak,.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Gak usah kamu bantu ambil kunci mobil di saku celana ku saja.."
Violin mengangguk, tanpa sungkan dia memasukkan jarinya yang halus kecil masuk kedalam kantong celana Andi meraba raba di dalam sana.
Saat tidak sengaja tersentuh perkakas Andi, hingga wajah Andi menjadi aneh.
Violin hanya menanggapinya dengan tersenyum dan berkata,
"Gak papa kan kak,? kita kan sudah resmi."
Andi tersenyum masam dan berkata,
"Sudah ketemu belum kuncinya, jangan yang lain ."
Violin menarik keluar tangannya dari dalam saku celana Andi dan berkata,
"Ini sudah, yuk ke mobil.."
Andi mengangguk cepat, lalu berjalan mengiringi di samping Violin.
Violin merangkul lengan Andi dan bergelantungan manja di sana sambil tersenyum bahagia.
Andi juga ikut tersenyum bahagia, berjalan beriringan dengan Violin menuju halaman parkir.
Saat tiba didekat kendaraan mereka, Violin membantu membuka pintu bagasi, Andi yang menyimpan dan menyusun barang belanjaan.
Setelah itu mereka berdua baru kembali kedalam mobil, Andi terlebih dahulu membantu Violin memasang sabuk pengaman.
Setelah itu dia baru pasang punya nya sendiri, dan mengendarai mobilnya meninggalkan lapangan parkir supermarket 24 jam.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Andi sudah tiba di depan rumah mewah milik mereka berdua.
Pagar yang tadinya copot kini sudah terpasang dengan rapi kembali, termasuk tiang pendeteksi digital depan pintu gerbang juga sudah terpasang kembali.
Andi menggunakan kartunya di tempelkan ke mesin tersebut, pintu gerbang pun terbuka sendiri secara otomatis.
Sambil mengendarai mobilnya masuk kedalam halaman dengan satu tangan, tangan Andi yang lainnya memberikan kartu hitam itu ke Violin dan berkata,
"Ini punya mu,.. sayang.."
"Lah nanti kamu,..?"
tanya Violin spontan sambil menatap Andi.
Andi tersenyum dan berkata,
"Aku tentu ada lagi, kunci ada 3 satu aku satu kamu, satu lagi buat serep di rumah, kalau kalau kunci hilang atau jatuh di jalan.."
Violin mengangguk, lalu menyimpannya kedalam dompet.
Andi menggunakan remote membuka pintu garasi mobil, lalu memajukan mobilnya masuk kedalam garasi begitu pintu garasinya terbuka.
Setelah memarkir mobil, Andi membantu melepaskan sabuk pengaman Violin.
__ADS_1
Setelah itu baru membuka pintu mobil turun duluan, untuk mengambil barang belanjaan mereka berdua.
Sekali ini Violin turun tangan membantu Andi membawa barang barang meski Andi melarangnya.
Tapi dia tetap berkeras turun tangan membantu Andi membawa barang barang belanjaan mereka yang cukup banyak.
Melihat Violin berkeras ingin membantu, Andi pun tidak melarangnya lagi.
Dia membiarkan Violin ikut membantu, hanya saja dia memilih kantong yang ringan ringan buat Violin.
Sedangkan yang berat dia bawa sendiri.
Violin tentu tahu hal itu,.dia hanya tersenyum tanpa membantah pengaturan dari Andi.
Saat tiba di dapur mereka berdua sambil tertawa gembira mengatur dan menyusun barang belanjaan mereka kedalam lemari dan kulkas.
Setelah selesai, mereka berdua berangkulan mesra sambil menatap hasil kerja mereka sambil tersenyum puas.
Andi menciumi kepala Violin dengan lembut dan berkata
"Lin kamu duluan lah ke kamar, aku mandi di kamar mandi dapur aja."
Setelah berkata, Andi melepaskan pelukannya, lalu sambil berjalan menuju kamar mandi Andi kembali berkata,
"Nanti aku baru nyusul, boneka mu jangan lupa,.."
Violin mengangguk dan berkata,
"Pergilah, aku tunggu di kamar,.."
"Jangan lama kak,.. aku gak ingin sendirian takut.."
ucap Violin manja.
Andi mengangguk dan berkata,
Violin mengangguk, lalu dia pun membalikkan badannya meninggalkan dapur.
Saat Andi tiba di dalam kamar, dia melihat Violin sudah tertidur pulas sambil merangkul boneka barunya.
Andi dengan hati-hati ikut berbaring di belakangnya, lalu dia ikutan tidur sambil mendekap Violin.
"Hmmm,.."
gumam Violin kecil, sedikit bereaksi saat Andi mendekapnya dari belakang.
Violin melepaskan pelukannya dari boneka nya, lalu berbalik membalas memeluk Andi .
Mereka berdua tidur sambil saling berpelukan.
Saat cahaya matahari pagi masuk kamar, Violin sambil sedikit menguletkan badannya, lalu sedikit berbalik badan ingin memeluk Andi.
Tapi saat menemukan tempat tidur Andi sudah kosong, dia pun terbangun.
Dia membuka matanya melihat kearah tempat tidur yang sudah kosong, violin bangun untuk duduk, merapikan rambutnya.
Turun dari kasur bercermin sejenak, lalu dia pun keluar dari dalam kamar, mencari keberadaan Andi.
"Kak,...! Kak Andi,..! Kamu dimana,..?!"
teriak Violin sambil mengedarkan pandangannya.
Andi yang sedang latihan di lantai tiga mendengar teriakkan Violin.
__ADS_1
Dia buru-buru menghentikan latihannya, keluar dari dalam ruangan gym yang tertutup kaca.
Andi menuruni tangga dengan terburu-buru dan berkata,
"Sayang aku di sini, kemarilah, kalau mau ikutan latihan kebugaran.."
Violin langsung tersenyum lebar, saat melihat Andi ada di tangga menuju lantai 3.
Dia segera berlari menyusulnya sambil tersenyum gembira.
"Boleh,. aku juga sudah lama gak olahraga pagi,.. habisnya males kalau sendirian.."
ucap Violin sambil maju merangkul lengan Andi.
"Aku sedang penuh keringat, kamu gak takut,..?"
ucap Andi sambil tersenyum.
""Aku ini dokter, darah dan air kencing pun dah biasa, apalagi cuma keringat.."
ucap Violin sambil menahan senyum.
Andi ikut tersenyum dan berkata,
"Ya,..ya,.. siap Bu dokter,.."
"Kak,.. emangnya kakak ku gak suka ya, kalau kak Andi sedang keringatan ?"
tanya Violin tiba-tiba.
Andi tersenyum dan berkata,
"Bukan kakak mu saja, umumnya wanita akan lebih menyukai pria yang bersih dan wangi, mereka akan lebih nyaman, bukan begitu ?"
Violin mengangguk dan berkata,
"Lihat sikon lah kak, kalau sedang berolahraga ya wajarlah berkeringat.."
"Emangnya saat bersama kakak, melakukan hal itu dengan kak Viona, kakak gak berkeringat,..?"
tanya Violin sedikit menjurus.
Andi memperat rangkulannya, dia tahu maksud pertanyaan Violin.
Sehingga sambil merangkul Violin, Andi memutar badan violin menghadap kearahnya.
Andi menatap Violin dengan serius dan berkata,
"Lin kakak dan kakak mu Viona, meski kami hidup bersama layaknya suami istri.."
"Tapi kami tidak pernah melakukan hal itu, kakak mu selalu pendarahan kakak tidak mungkin lakukan hal itu padanya.."
"Bila kakak dan kakak mu telah melakukan hal itu, karena dia sudah sembuh.."
"Kakak pasti tidak akan pernah berani mendekati mu lagi, kamu paham kan.."
Violin membalas menatap Andi dengan senyum bahagia dan berkata,
"Kenapa kak ?"
Andi menatap Violin dengan serius dan berkata,
"Kakak ingin kamu menjadi yang pertama dan terakhir buat kakak.."
__ADS_1
Violin sambil tertawa riang maju memeluk Andi dan berkata,
"Makasih ya kak, Violin sangat bahagia bersama kakak.."