
Dalam perjalanan pulang, beberapa kali Andi di panggil oleh kupu kupu malam yang sedang mencari pelanggan yang butuh kehangatan.
Tapi Andi tidak menghiraukan panggilan manja mereka.
Setelah Andi pergi bahkan ada beberapa yang berkata,
"Dasar sombong, mentang mentang punya sedikit wajah tampan aja, sudah banyak lagaknya.."
"Bukan lagak kak, tapi Tongpes, lihat dia pulangnya nyeker gini juga dah tahulah kak.."
ucap kupu-kupu malam lainnya sambil tertawa mengejek.
Yang lainnya pun ikut ikutan menertawai Andi.
Andi meski mendengar jelas, tapi dia tidak mau menanggapinya.
Dia hanya terus berjalan menjauh sambil tersenyum menertawai nasib dirinya sendiri.
Bahkan kupu-kupu malam pun tertarik untuk menindasnya, sungguh malam yang sangat menyedihkan, pikir Andi sambil menertawai nasibnya sendiri.
Tanpa terasa, akhirnya Andi kembali juga ke apartemennya, setiba di dalam apartemennya yang luas dan sepi.
Andi langsung masuk kedalam kamar nya, melepaskan seluruh pakaiannya yang sedikit basah oleh keringat.
Lalu dia pergi mandi membersihkan dirinya, di dalam kamar mandi sambil menyalakan kran shower, Andi berteriak teriak seorang diri melepaskan kepenatan dan tekanan yang menghimpit hati dan perasaannya.
Sedangkan di tempat lain, Violin yang dengan lesu kembali masuk kedalam ruangan pesta perjamuan.
Dia kembali ketempat duduknya sebelumnya, duduk di sana seorang diri.
Tanpa kehadiran Andi di sana, dia merasa kesepian, semua sajian menu makanan dan acara hiburan terasa hambar dan tidak menarik.
Pikirannya tidak di tempat, dia terus memikirkan apa yang sedang Andi lakukan dan bagaimana keadaan Andi saat ini.
Ingin rasanya dia bergegas pulang menyusul Andi kembali ke apartemen, tapi dia terikat dengan tugas dan pesan Andi.
Sehingga dia mau tidak mau, harus duduk menunggu dengan sabar hingga pesta usai.
Violin yang sedang duduk suntuk seorang diri, baru tersadar dari lamunannya, saat mama dan papanya datang bersama kakaknyamenghampirinya.
"Lin mana Andi ? kok kamu duduk sendirian di sini..?"
tanya mama nya heran.
"Kak Andi sudah pulang duluan ma, ini dia titip kunci mobilnya ke papa."
"Dia minta kita semua jangan pulang, ikutin acara ini sampai tuntas baru pulang.."
Papa dan mama Viona saling pandang, mereka ngerti maksud Andi.
__ADS_1
"Ya udah, itu juga baik mungkin Andi sedang butuh waktu menyendiri.."
"Ayo kita kembali kedepan .."
ucap papa Viona mencoba mencairkan suasana.
Violin tidak banyak bantah, dia langsung ikut pindah duduk di depan, dia tidak mau menyulitkan posisi kakaknya.
Dia tidak ingin mengecewakan harapan Andi, yang ingin kakaknya bahagia dan tidak bersedih di hari bahagianya.
Dari sikap yang di tunjukkan oleh keluarganya, Viona yakin semua ini pasti sudah sengaja di atur oleh Andi untuknya.
Dari sikap Violin dan mamanya, kecuali papanya Doddy dan Rina.
Tidak ada satupun yang respek dan secara sukarela datang ke pestanya.
Mereka datang pasti hanya untuk memenuhi permintaan Andi, yang tidak ingin melihat dirinya malu, kehilangan muka di hadapan keluarga Rio.
Viona sambil tersenyum sedih tanpa berkata apa apa, dia segera kembali ketempat duduknya di samping Rio.
Pesta berjalan cukup lancar hingga usai.
Setelah selesai sesi foto keluarga dan berbasa-basi ringan, keluarga Viona pun meninggalkan tempat acara resepsi pernikahan Viona.
Viona dan Rio mengantar keluarga nya hingga ke lapangan parkir.
Viona berpelukan dengan keluarganya, satu persatu dan mengucapkan terimakasih kepada mereka semua.
"Nak ini pilihan mu, jalanilah dengan baik dan sabar, kami semua berdoa dan berharap kamu bahagia.."
Mendengar pesan terakhir ibunya sebelum pergi, Viona mengangguk sambil mengigit bibirnya sendiri, dengan airmata berderai tak tertahankan.
Viona menatap sedih, saat mobil yang di kendarai oleh papa nya bergerak pergi meninggalkan dirinya.
Rio memeluk Viona dan berusaha menghiburnya, lalu mereka berdua pun berjalan masuk kembali kedalam hotel mewah itu.
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali Andi sudah menyetir membawa rombongan keluarga Viona meninggalkan apartemen tempat mereka semua menginap.
Andi terlihat sudah kembali segar dan normal, tidak seperti semalam saat hadir di pesta Viona.
Dalam perjalanan pulang ke kota J, Andi sengaja mengambil perjalanan melewati daerah puncak pegunungan yang berudara sejuk.
Dan banyak pemandangan hijau membentang.
Andi membelokkan mobilnya masuk kesebuah restoran besar, yang halaman parkirnya meski sudah cukup besar tapi masih saja terlihat penuh.
"Dody Rina hari ini kakak akan ngajak kalian makan main dan bersenang-senang, gimana kalian mau tidak..?"
ucap Andi sambil menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Mau..mau...mau..kak..kami mau..!"
teriak kedua anak itu gembira dan tertawa senang.
Mereka berdua sebenarnya sudah sangat jenuh, setiap hari cuma melihat orang bersedih marah marah tanpa mengerti apa sebabnya.
Kini tiba tiba mendapatkan tawaran dari Andi tentu saja mereka sangat gembira..
Sambil tersenyum lebar Andi berkata,
"Kalau begitu, Sekarang kita makan dulu hingga kenyang, baru kita main..di bawah restoran ini ada wahana bermain."
"Nanti kakak yang akan temani kalian main kesana..ok..?"
ucap Andi sambil tersenyum.
"Hore...hore...!"
teriak kedua anak itu gembira.
Mama dan papa Viona ikut tersenyum melihat kedua anak bungsu mereka, yang terlihat begitu gembira.
Bahkan Violin yang banyak diam dan muram pun ikut tersenyum, suasana pun mulai gembira kembali..
Rombongan kecil itu berjalan memasuki restoran yang suasana nya sangat ramai, penuh dengan pengunjung hampir semua tempat duduk di sana penuh.
Andi mencari cari melihat lihat semua pelayan di sana, tapi semua terlihat sibuk dan hilir mudik melayani pesanan dari para pelanggan.
Tidak ada yang datang menyambut kedatangan mereka.
Andi akhirnya teringat dengan cara Sarah dulu, Andi segera mencegat seorang pelayan pria yang sedang lewat di depannya dan berkata.
"Mas maaf menganggu sebentar,"
Pelayan itu berhenti di depan Andi dan berkata,
"Maaf pak saya sedang sibuk cari yang lain saja.."
Andi tidak marah menanggapi cara pelayanan seperti itu, sambil tersenyum Andi merangkul bahu pelayan itu dan berkata,
"Mas bila kamu bisa mencarikan tempat yang nyaman, dan memberikan servis pelayanan yang baik, maka bonus ini nanti milik mu.."
"Tapi bila kamu tidak mau..ya aku terpaksa cari teman mu yang mau.."
Ekspresi dan cara bicara pelayan itu langsung berubah, dia langsung berkata dengan cepat.
"Bisa...bisa..ada..ada..tenang saja, mari ikut saya pak saya akan atur kan semua nya dengan baik,.. bapak tak perlu khawatir.."
Dia segera memanggil temannya, lalu menyerahkan pekerjaan nya, di titipkan keteman nya.
__ADS_1
Setelah itu dia buru-buru, kembali ke Andi dengan sikap penuh hormat dan membungkuk bungkuk dia memberi hormat ke arah Andi dan rombongannya.