
"Ayo ikut dengan ku, nanti aku kenalin, teman ku banyak yang lagi cari pasangan.."
ucap Davina sambil tertawa dan menyeret Berry kedepan.
"Kamu aja gimana ?"
ucap Berry sambil tertawa nakal.
"Boleh kalau kamu punya pesawat aku mau...."
ucap Davina sambil tertawa melayani candaan Berry.
"Pesawat kertas atau mainan..boleh..?"
tanya Berry sambil tertawa, sebelum bayangan mereka menghilang.
Andi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya menanggapi candaan kedua orang itu.
Andi masuk kedalam kamar nya lagi, lalu buru-buru pergi mandi.
Setelah mandi dan berganti pakaian bersih, Andi pun buru-buru pergi ke ruang tamu.
Tapi sampai di ruang tamu, ruang tamu kosong, Andi segera berjalan ke halaman depan.
Sampai di halaman depan, Andi pun tersenyum melihat tingkah Davina dan Berry, yang ternyata mereka sedang duduk santai di teras halaman depan sambil makan Siomay.
Melihat kemunculan Andi, Davina segera melambaikan tangannya kearah Andi, meminta nya merapat ke mereka.
Andi sambil tersenyum berjalan menghampiri mereka berdua.
"Di,... siomay di sini enak banget ternyata, aku tadinya kurang percaya pas di beritahu sama Berry."
"Kukira dia cuma main main, tapi ternyata, hebat juga seleranya."
"Mantap aku suka,.."
ucap Davina penuh antusias.
"Mas dua lagi, satu buat dia, satu lagi buat calon ku..!"
ucap Berry sambil tertawa.
"Nih uangnya mas..!"
ucap Berry kembali..
"Tumben royal mas Berry, biasanya nunggu mas Andi Mulu.."
ucap si tukang Siomay sambil tertawa.
"Hushhh sembarangan...!"
ucap Berry sambil mempelototi si tukang Siomay langganan nya.
Mereka emang sudah akrab dan sudah biasa bercanda.
Si tukang Siomay menanggapinya dengan tertawa, tanpa memperdulikan respon Berry.
Davina hanya tersenyum, dia tidak terlalu menanggapi ucapan Berry yang tidak pernah serius.
Selagi mereka bertiga sedang asyik makan siomay, tiba-tiba sebuah motor parkir di depan halaman kost Andi.
Dari atas motor, setelah pengemudinya melepaskan helm dan jaketnya.
Ternyata yang mengendarai motor tersebut adalah seorang gadis muda yang masih mengenakan seragam SMP.
"Siapa itu di,..?"
__ADS_1
tanya Davina heran.
Sebelum Andi sempat jawab, Berry sudah memotongnya dan berkata,
"Sama dengan kamu lah pengagum pria ilusi."
Davina menjitak kepala Berry dengan gemas, tapi Berry keburu menghindar sambil tertawa.
Davina tidak menghiraukan Berry lagi dia hanya memberinya pelototan pura pura marah, kemudian menatap ke arah Andi dan berkata,
"Serius di...?"
Andi tersenyum masam dan berkata,
"Jangan dengerin dia, bisa gila nanti."
"Dia Violin adiknya pacar ku.."
ucap Andi memberi penjelasan.
"Lin tumben jam segini udah pulang ? emangnya sekolah Rina Doddy juga udah pulang..?"
tanya Andi heran.
Violin berjalan menghampiri mereka bertiga, dia sempat melirik Davina yang cantik dengan curiga, tapi hanya sekilas.
Karena keburu dapat pertanyaan dari Andi.
Violin sambil tersenyum gembira berkata,
"Hari ini aku bebas, guru ada rapat di sekolah jadi bisa pulang cepat."
"Rina dan Dody Sekarang, ayah yang ngurus jemputan mereka."
ucap Violin riang.
"Ayo gabung dengan kita makan Siomay mau ?"
Violin mengangguk cepat.
Andi pun berteriak,
"Mas Bagio satu lagi ya, !"
"Ok siap mas Andi.."
jawab tukang siomay itu gembira.
Berbeda dengan sikapnya terhadap Berry, terhadap Andi sikap tukang Siomay itu sangat sungkan dan penuh hormat.
Bukan karena Andi gila hormat, tapi karena Tukang Siomay ini punya hutang Budi dengan Andi.
Sewaktu anaknya terkena demam berdarah, harus masuk rumah sakit, dia tidak punya uang.
Pinjam kesana-kemari tidak ada yang bersedia meminjamkan nya.
Tapi saat iseng dia curhat dengan Andi, tanpa banyak cakap Andi langsung memberinya 10 juta, untuk biaya rumah sakit anaknya.
Meski hutangnya ke Andi sudah di lunasi nya, tapi rasa hutang Budi itu, selama nya tidak pernah bisa dia melupakan nya.
Di saat dia sedang dalam kondisi kesusahan, bila bukan Andi mengulurkan tangannya.
Seperti seorang malaikat yang di kirim untuk menolongnya.
Saat ini dia pasti tidak bisa melihat anaknya lagi, itulah makanya si tukang Siomay ini sangat hormat dengan Andi.
Tapi meski begitu, Andi tidak pernah sekalipun bersedia makan Siomay gratis darinya.
__ADS_1
Bahkan Berry pun dilarang sama Andi untuk menerima makan gratis.
Hal ini semakin menambah rasa hormat dan sungkan si tukang Siomay terhadap Andi.
Si tukang Siomay iseng pernah menanyai Andi, kenapa waktu itu, dengan mudah tanpa banyak berpikir langsung percaya dan meminjamkan nya uang.
Andi menjawabnya.
"Mendapatkan harta kita harus membagikan nya ke yang butuh, mendapatkan ilmu kita harus mengajarkannya ke yang ingin mempelajarinya."
"Kita datang tidak bawa apa apa pergi pun tidak bawa, hanya rasa puas dan rasa sesal yang akan kita bawa pergi saat ajal tiba."
"Jadi kamu mau pilih yang mana,? kalau aku pilih pergi dengan rasa puas tanpa penyesalan.."
Jawaban Andi yang sederhana tapi mengandung makna yang sangat dalam itu sangat membekas di hati si tukang Siomay tersebut.
Membuat dia semakin kagum dan hormat dengan Andi
Violin memilih duduk di sebelah Andi, lalu bertanya,
"Kak Andi, siapa kakak cantik ini..?"
Berry baru saja mau buka mulut tapi sekali ini dengan cepat Davina menyuapkan sambal ke mulutnya sambil tertawa.
Beery gelagapan mencari air minum, dan terbatuk-batuk sehingga tidak bisa berbicara.
Berry sempat minum air yang disediakan oleh Bagio, tapi karena panas berry langsung memumtahkan nya,
lalu dia berlari menuju keran air di dekat taman.
Tanpa perduli itu air mentah, Berry langsung minum dari sana.
Sikap berry membuat Davina dan Violin tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Andi hanya tersenyum saja
Dia tidak sampai hati menertawai Berry yang sedang kepedasan dan tersedak.
Sesaat kemudian setelah melihat Berry sudah lebih tenang Andi baru berkata,
"Namanya Davina, dia teman kost kakak dulu di kota B, sebelum pindah kemari."
"Kamu boleh panggil dia kak Vina..kalau kamu ingin tahu tentang pesawat dan tempat wisata di berbagai belahan dunia."
"Dia adalah pilihan yang paling tepat.."
ucap Andi sambil tersenyum.
"Jangan dengarkan Andi, dia suka melebih lebihkan.."
ucap Davina sambil mengulurkan tangannya kearah Violin.
"Aku cuma seorang pelayan, di dalam pesawat."
ucap Davina melanjutkan.
"Ohh kakak seorang pramugari ya, ? pantes kakak terlihat sangat cantik anggun dan elegan..."
ucap Violin penuh kagum sambil menyalami Davina.
"Anggun apa ? jangan tertipu oleh penampilan luarnya, lihat ini akibatnya.."
ucap Berry dari jauh dengan tidak puas.
Violin dan Davina saling pandang kemudian mereka dengan kompak tertawa sambil menutupi mulut mereka.
Melihat dirinya malah di jadikan bahan tertawaan oleh kedua gadis itu.
Sambil bersungut-sungut dia berkata dengan kesal.
__ADS_1
"Awas bila suatu hari aku kaya, aku pasti akan menjadikan mu sebagai pelayan pribadi ku.."