
Melihat panggilan datangnya dari nomor tidak di kenal, Andi pun mengangkatnya dengan heran dan berkata,
"Ya,..maaf sama siapa ya.."
"Halloo ini Andi kan, ini Pei Pei masih ingat tidak..?"
ucap suara dari seberang sana dengan penuh semangat dan ceria.
Andi sedikit kaget, di mana Pei Pei teman akrab Santi Viona yang sudah lama lost kontek, tiba tiba menghubunginya.
"Ehh ada angin apa ? kamu tiba tiba hubungi aku ?"
tanya Andi antusias.sambil tersenyum lebar.
"Tentunya angin baik kak Andi, kak Andi apa kabar sehat ?"
tanya Pei Pei sambil tertawa riang.
"Baik baik, sehat,.kamu sendiri gimana ? sekarang ada di mana ?"
ucap Andi sambil tersenyum.
"Aku sekarang ada di Singapore, keadaan ku baik dan sehat, tapi Minggu depan aku akan mampir ke kota B. untuk reunian bersama teman teman lama kak Andi ikut ya, biar ramai.."
ucap Pei Pei penuh semangat.
"Emang kapan acaranya ? di mana tempatnya ? jam berapa acaranya di mulai ?"
tanya Andi sambil tersenyum.
"Acaranya Senin depan, jam 7 malam di hotel Hilton kak, gimana bisa kan kak ?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Nanti di usahakan,.tapi gak janji,.. kalau nanti berhalangan, aku pasti akan mengabari mu.."
"Jangan kabari aku kalau gitu, harus datang ya, lama lama sekali,..ok kak..bisa lah aku yakin pasti bisa ok sip?"
ucap Pei Pei memaksa sambil tertawa.
Andi mengeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata,
"Aku kan harus ijin dulu ke nyonya ku, kalau ok aku baru bisa ikut.."
"hi,..hi,..hi,.. nyonya mu kan teman kita juga, ajak aja sekalian, dia pasti mau lah.."
"Kalau ada anak ajak aja biar ramai,.. "
ucap Pei Pei sambil tertawa ceria.
Andi menghela nafas dan tersenyum pahit, dia tahu Pei Pei pasti salah duga.
Mengira istrinya adalah Viona, tapi ini wajar..
Dahulu mereka berdua begitu dekat dan mesra, seolah tak terpisahkan.
Siapa yang nyangka, nasib mempermainkan mereka hingga seperti ini.
Bahkan untuk bertemu pun sulit, apalagi bersama sama seperti dulu.
__ADS_1
Andi tidak membantah Pei Pei lagi, karena gak bakal ada habisnya, bila berbantahan dengannya.
Toh saat reuni nanti bila dia muncul dengan Violin, Viona muncul dengan Rio,.semua orang juga pasti akan tahu dengan jelas nasib hubungan mereka.
Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Pei Pei Andi pun masuk kedalam apartemen dengan sepeda dan barang belanjaannya.
Sambil menyusun barang belanjaannya kedalam kulkas dan lemari, Andi berpikir seorang diri.
Entah bagaimana suasana canggungnya, bila nanti harus bertemu dengan Viona dan Rio di tempat acara itu.
Semoga saja tidak ada keributan yang memalukan antara dirinya dan Rio di tempat pesta itu.
"Apa Violin bersedia ikut kesana ?"
tanya Andi dalam hati.
Andi sedikit ragu, apakah Violin bersedia hadir di tempat itu menemaninya..
Mengingat jadwal kerjanya yang padat, di tambah dengan perbedaan usia, yang cukup jauh antara dia Violin dan teman temannya.
Setelah menyelesaikan menyusun. barang belanjaannya, Andi pun berkata sendiri..
"Biarlah, gak usah terlalu di pikirkan, nanti saat jemput Violin baru bahas dengannya."
Setelah berkata begitu, Andi pun duduk santai di sofa sambil nonton TV seorang diri.
Saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 9, Andi pun bergegas dengan sepedanya, pergi meninggalkan apartemen menuju RS M.
Saat tiba di ruangan praktek Violin, melihat pasien masih banyak, Andi pun pergi duduk santai di kantin.
"Lin aku sudah sampai, kamu kerja dengan tenang, aku tunggu di kantin.."
Violin menerima pesan itu, dia melirik sekilas dan tersenyum senang,.sambil melanjutkan pekerjaannya.
Andi menunggu santai, sambil mengisi waktu, dia menelpon Berry untuk membicarakan perkembangan bisnis mereka di sana.
Selain itu, Andi juga menelpon Bos Wang berbicara santai tentang perkembangan bisnis di Nanjing saat ini.
Membantu memberi ide dan solusi atas kesulitan dan permasalahan yang terjadi.
Karena perbedaan waktu, Andi tidak perlu terlalu khawatir telponnya menganggu.
Hanya dengan Bos Wang begitu lihat jam sudah hampir jam 10 malam, Andi pun menyudahi pembicaraan mereka.
Setelah memutuskan panggilan Andi iseng menelpon Santi.
Begitu telpon tersambung terdengar suara Ivan yang mengangkat telpon.
"Halo om Andi apa kabar..?"
"Ehh Ivan , Ivan apa kabar ?"
"Baik om,.. mama,..!!"
"Ini ada om Andi nelpon ma,..!!"
teriak Ivan nyaring ke Santi.
Tak lama kemudian terdengar suara Santi yang lembut, berkata dengan gembira.
__ADS_1
"Di,.. tumben nelpon ? gimana kabar mu di sana ?"
"Baik San,"
"Ini San tadi Pei Pei teman mu nelpon, katanya Senin depan jam 7 malam di hotel Hilton kota B ada reunian,.. kamu dan Sarah ikut gak.."
"Sebentar Di,.. aku tanya Sarah dulu, dia didepan sedang sama kak Wong.."
ucap Santi kemudian dia buru buru pergi cari Sarah..
Tak lama kemudian terdengar suara Sarah dan Santi bergantian menjawab mereka akan ikut, mereka juga minta Andi harus ikut.
Andi sambil tersenyum berkata,
"Aku cuma kasih informasi, pergi tidaknya tergantung ijin nyonya bos.."
Kedua wanita yang pernah menyukai Andi itu pun langsung berkata,
"Itu mudah, kasihkan hp mu ke Violin, biar kami bicara dengan anak kecil itu.."
"Kalau berani nolak lihat nanti kami Giman hukumnya, saat kami datang ke kota J.."
ucap Santi dan Sarah sambil tertawa.
"Ehh,.. mana boleh kalian membully nya, dia tidak salah apa apa.."
"Biar aku saja yang memberitahunya, kami akan usahakan kesana, ok ?"
ucap Andi was was karena Santi meski akhir akhir ini sudah jauh berubah lebih sabar dan lembut.
Tapi aslinya dia masih brutal dan tomboi, begitu pula Sarah gak jauh beda dengan santi..
Andi tentu tidak mau kedua orang itu datang membully istri kecilnya.
Jadi dia buru-buru berjanji, sebelum mereka nanti beneran datang membully Violin.
Kedua gadis itu tertawa puas, setelah mendengar janji dari Andi .
Sesaat kemudian, Andi pun mematikan panggilan ponselnya.
Lalu melanjutkan bermain games yang dulu sering dia mainkan bersama Violin.
Baru bermain sebentar, tiba tiba Violin ikut online, bergabung membantunya menghadapi musuh.
Setelah berhasil mengalahkan musuh, Violin baru menulis pesan singkat.
"Aku otw ke kantin kak,.."
Andi juga membalas singkat, lalu mematikan ponselnya bersiap siap meninggalkan kantin.
Begitu Violin tiba Andi pun langsung menghampirinya, mereka berdua kemudian berangkulan mesra meninggalkan kantin.
Saat melihat Andi menggunakan sepeda datang menjemputnya, Violin pun tertawa terbahak bahak.
Dengan riang dia duduk di kursi penumpang, sambil merangkul pinggang Andi dengan erat.
Sesaat kemudian kedua orang itu pun sudah meluncur meninggalkan RS.
Sepanjang perjalanan mereka berdua tersenyum gembira, sambil menikmati segarnya angin malam..
__ADS_1