
Andi hanya tersenyum menanggapi curhatan Dody, sambil melihat-lihat hpnya.
"Tapi mama udah capek capek masak enak enak loh buat kalian, tuh lihat berbagai lauk enak sudah di sediakan.."
ucap Andi sambil menunjuk masakan yang ada diatas meja.
"Bosan lah kak, itu itu aja jurus nya tiap hari, kucing aja gak minat apalagi orang.."
ucap Dody sambil tertawa.
Andi pun ikut tertawa dan berkata,
"Dody Rina,.. semua ucapan kalian sudah ada di sini.."
"Mulai hari ini, bila kalian berani nakal dan tidak nurut dengan kakak mu,.."
"Rekaman ini bila sampai ketangan Mama, kira kira apa yang terjadi ya,..?"
ucap Andi sambil tersenyum santai.
"Kakak Ihh kakak jahat sekarang, pilih kasih Rina gak suka.."
ucap Rina cemberut hampir mewek.
Sedangkan Dody terlihat pucat dan buru buru berkata,
"Baik kak, Doddy janji akan selalu buru sama kak Violin tidak akan membantahnya lagi, ok.."
"Jadi tolong jangan kak,.. mama bisa sedih tuh dengarnya.."
ucap Doddy mencoba berdiplomasi
Violin keluar dari persembunyiannya dan berkata sambil tersenyum lebar,
"Sedih atau naik pitam, setelah di serahkan baru bisa tahu,.."
"Ayo kak Andi send aja ke mama, biar ada tontonan.."
ucap Violin sambil tersenyum makin lebar.
"Aduh mampus Kon,..kak Andi jangan kak ampun..Doddy bisa mati nih kak,.. beneran.."
"Kak Violin yang paling cantik dan baik seperti Dewi, tolong ampuni Dody kak.."
"Dody janji gak akan berani lagi.."
Violin tertawa tawa, lalu menggandeng tangan Andi dan berkata,
"Ayo kak kita pulang.."
"Kalian berdua jaga rumah baik baik, kerjakan PR kalian jangan main HP, dan malas malasan.."
"Jangan keluyuran, tungguin rumah sampe papa mama pulang, ngerti.."
ucap Violin galak.
Dengan suara malas dan lesu, Rina dan Dody menjawab dengan kompak,
"Ya,..kak.."
__ADS_1
Violin sambil tersenyum puas menggandeng tangan Andi meninggalkan kedua anak itu.
"Lihat gayanya, mau muntah aku, Dewi apa ? Dewi neraka ma ya ?"
"Cantikan kak Viona lah jauh, yang ini ma parah,..dasar nenek sihir.."
ucap Dody mengumpat, melampiaskan rasa keki nya, setelah melihat Violin pergi.
"Kamu bicara apa kakak denger loh semua,!"
teriak Violin dari ruang tengah..
"Kali ini kakak maafin tapi bila lain kali terulang, kamu akan tahu rasa..!"
teriak Violin kembali.
Violin dapat tahu dari Andi yang berpendengaran tajam.
Dody dan Rina sama sama meleletkan lidah, mereka berdua buru buru membawa sisa makanan mereka, masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
Andi dan Violin sambil tersenyum bahagia, berangkulan mesra meninggalkan rumah orang tua mereka, untuk langsung kembali kerumah mereka.
Letak rumah mereka tidak terpisah terlalu jauh, hanya pisah komplek saja, tapi masih dalam ruang lingkup yang sama.
Sehingga tidak perlu butuh waktu lama, mobil mereka telah kembali ke parkiran garasi rumah mereka.
"Di,.. garasi ini terlalu luas sepertinya,.."
"Lihat mobil mu di sini, mobil ku di sini."
"Sini masih bisa nampung 3 lagi..loh,.."
ucap Violin sambil memberi komentar dan menunjuk kesana kemari sambil berdiri di tengah tengah garasi yang luas itu.
"Di sini kan tempat parkir istri pertama, yang ini kedua dan yang itu ketiga.."
"Ka Andi,..! awas lihat bagaimana Lin membereskan mu.."
ucap Violin sambil menahan tawa mengejar Andi.
Andi buru buru melarikan diri mau lewat pintu garasi, tapi sayangnya dia lupa pintu garasi itu terkunci.
Andi dengan buru-buru mengeluarkan kunci rumah, tapi karena panik kuncinya malah terjatuh kelantai.
Sehingga dia pun tertangkap oleh Violin.
"Ampun,..ampun,..ampun sayang,..aduh ampun..!"
teriak Andi sambil tertawa-tawa, menanggapi aksi Violin yang sedang menggelitiknya.
"Hayo masih berani,..?"
ucap Violin gemas.
"Ha,..ha,..ha,..aku cuma bercanda,,..gak serius sayang.."
"Itu benarnya, untuk parkir mobil anak anak kita kelak sayang,..Ha,..ha,..ha,. aduh geli sayang, ha,..ha,..ha,..!"
ucap Andi menjelaskan dengan suara terputus putus menahan tawa.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Andi Violin baru tersenyum puas dan menghentikan aksinya.
Andi menggunakan kunci membuka pintu garasi, dan berkata,
"Silahkan sayang.."
Violin pun tertawa melihat aksi suaminya yang berlagak seperti pelayan.
Tapi baru violin melangkah masuk Andi langsung menyambar dan menggendongnya.
"Aihhh,..!!"
Violin berteriak kaget.
Tanpa memperdulikan respon Violin Andi langsung membawa Violin kedalam kamar mereka.
"Aduh,,hi,,hi,,hi,, ! geli,..ampun kak,.. hi,,hi,,hi...! geli kak,.. ampun...!"
jerit Violin terkekeh kekeh geli.
Karena Andi terlihat sedang menindihnya di kasur sambil mengelitiki pinggang Violin.
Dari posisi Violin nya tengkurap, hingga berbalik berhadap hadapan dewan Andi dan terkekeh-kekeh geli.
Beberapa saat kemudian ketika Violin nafasnya mulai memburu, Andi baru menghentikan aksinya.
Mereka saling bertatapan mesra, tidak tahu siapa yang memulai lebih dulu, tahu tahu sepasang bibir mereka sudah saling menempel jadi satu.
Mereka sama-sama menikmati momen penuh kebahagiaan itu,.dan melupakan cuaca di luar yang mulai gelap, dan hujan gerimis pun turun.
Semakin lama semakin lebat, kilat pun menyambar nyambar, suara petir terus bergemuruh keras, memekakkan telinga.
Hujan yang turun mengguyur bumi semakin deras, angin juga bertiup dengan sangat kencang, hingga pepohonan di sekitar halaman rumah Andi doyong kesana kemari, tertiup oleh angin badai yang berhembus dengan kencang.
Butiran es kecil mulai berjatuhan keatas tanah dan membentur kaca jendela kamar Andi dan Violin.
Ombak laut terlihat datang dari kejauhan menggulung gulung hingga tiba di bagian tepi menghantam beton bendungan pinggir laut.
Ombak baru pecah menimbulkan air yang muncrat tinggi ketepian halaman belakang rumah Andi.
Yang di batasi jalan dan tembok pagar halaman belakang.
Kedua insan yang sedang mabuk asmara, seolah olah tidak memperdulikan perubahan cuaca di luar sana.
Mereka berdua terus saling bergumul diatas kasur, melepaskan segala perasaan mereka yang penuh gelora.
Tanpa memperdulikan keadaan sprei kasur yang sudah berantakan, mereka berdua masih terus bergumul dan berciuman mesra. seperti tiada bosan bosannya.
Hingga hujan badai di luar sudah mereda, ombak di laut juga sudah kembali tenang.
Andi dan Violin baru terlihat terbaring lemas dalam posisi saling berpelukan.
Violin sudah terlebih dahulu tertidur pulas dalam pelukan Andi.
Andi sendiri belum tidur, dia hanya terus memandangi wajah cantik Violin dengan penuh kagum dan tersenyum penuh kebahagiaan.
Sesaat kemudian keduanya pun tertidur pulas, dalam keadaan pakaian lengkap
Violin tidur menyamping memunggungi Andi, sementara Andi tidur sambil memeluk Violin dari arah belakang.
__ADS_1
Meski Andi sangat bernafsu, dan Violin juga tidak akan menolak, bila Andi melakukannya.
Tapi Andi masih bisa mengendalikan diri dan tahu batas.