
Andi menghentikan tangisannya, menurunkan kedua tangannya yang menutupi wajah.
Perlahan-lahan Andi menoleh kearah belakang untuk memastikan asal suara tersebut.
Andi tersenyum sedikit di paksakan, setelah tahu siapa yang menegurnya barusan.
"Kamu kapan datang ? bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini ?"
ucap Andi sambil bangun berdiri.
Gadis itu tersenyum sedih dan berkata,
"Aku baru saja sampai dan langsung kemari untuk melihat keadaan kakak.."
"Seperti yang kamu lihat keadaan ku baik baik saja, kamu lebih baik pulang lah.."
"Jauhi tempat ini, tempat ini berbahaya, aku tidak mau kembali melihat kamu mengalami hal yang sama seperti istri ku.."
ucap Andi serius.
",Kak Andi tak perlu khawatir, aku sudah pernah kena, sudah sembuh dan aku sudah di vaksin.."
"Kalaupun kena lagi gejalanya akan jauh lebih ringan.."
"Aku tidak akan pergi meninggalkan kak Andi menghadapi semua ini seorang diri."
"Sebelum memastikan istri kakak baik baik saja dan sembuh kembali..aku tidak akan pulang ."
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Nicole kenapa kamu harus seperti ini..?"
"Apa kamu sadar apa yang sedang kamu lakukan saat ini, kamu sedang mempertaruhkan nyawa mu, untuk sesuatu yang tidak mungkin.."
"Apa kamu sadar kamu telah mengorbankan sekolah mu, karir mu dan kesehatan mu hanya untuk,.."
Andi tidak melanjutkan kata-katanya, hanya menatap Nicole dengan tatapan mata kasihan.
Nicole tersenyum sedih dan berkata,
"Aku tahu dan aku sadar betul hal itu.."
"Aku datang tidak punya maksud lain, selain untuk melihat apa yang bisa ku lakukan untuk kakak dan istri kakak.."
"Kakak jangan khawatir aku tidak akan membebani kakak,.."
"Beri aku sedikit waktu, perlahan-lahan aku pasti akan bisa lupakan perasaan ku terhadap kakak."
"Bila tiba waktunya aku pun akan menghilang, menjaga jarak dari kakak tidak akan menganggu kakak lagi..'
Andi menghela nafas panjang, dia benar-benar tidak tahu mau berkata apa.
Tiba-tiba ponsel Andi bunyi, Andi buru-buru mengangkatnya dan berkata,
"Ya halo dok,.. bagaimana keadaan mereka berdua..?"
"Ya,..aku paham,..aku segera kesana sekarang.."
ucap Andi lalu mematikan ponselnya.
"Dokter ya kak, apa katanya barusan ?'
tanya Nicole dengan wajah cemas.
"Ayo kita turun dan bercerita sambil jalan.."
ucap Andi cepat..
Nicole mengangguk dan mengikuti langkah Andi meninggalkan Roftop RS JMC.
__ADS_1
"Dokter barusan bilang, bayinya sudah di selamatkan dan dalam keadaan baik baik saja..'
"Sekarang sedang ada di mesin inkubator untuk di beri penghangat suhu badan.."
"Tapi kondisi Violin masih kurang baik.."
ucap Andi memberi penjelasan sambil berjalan menuruni tangga.
Mereka berdua kemudian menggunakan lift menuju ruang kerja dokter yang menelpon Andi barusan.
"Tok,..! Tok,..! Tok,..!"
"Masuk,..!"
Andi dan Nicole pun masuk kedalam ruangan dokter tersebut.
"Silahkan duduk pak Andi,.."
"Silahkan duduk nona,.."
ucap dokter itu sambil tersenyum ramah.
Andi dan Nicole pun duduk di hadapan dokter itu menunggu penjelasan.
Dokter itu merapikan meja nya, menyalakan lampu menunjuk hasil Rontgen paru paru violin ke Andi dan berkata,
"Pak Andi di sini anda bisa lihat, disini disini dan disini ada sedikit flex putih.."
"Ini menunjukkan ada infeksi dari virus itu, yang sudah menyebar hingga ke paru paru.."
"Hal inilah yang menyebabkan ibu Violin, istri bapak batuknya tidak berhenti, dan mengalami kesulitan bernafas.."
ucap Dokter itu memberi penjelasan lewat gambar.
"Apa ada cara untuk menolong istri ku,. Dok..?"
tanya Andi penuh harap.
"Tapi untuk virusnya harus mengandalkan antibodi istri bapak untuk melawannya.."
"Paling baik bila ada bantuan transfusi darah dari orang yang pernah sembuh dari penyakit ini dan orang yang memiliki darah yang antibodinya tinggi.."
"Dengan cara ini mungkin bisa menangkal virus itu dan membunuh virus itu hingga tuntas."
"Tapi ini semua cuma spekulasi tidak ada kepastian science nya,.."
ucap Dokter itu.
"Asalkan ada sedikit harapan semua layak di coba,."
ucap Andi sedikit bersemangat.
"Dok ambilah darah ku di cek, apa mungkin cocok untuk istri ku.."
"Golongan darah kami kebetulan sama, sama sama A.
ucap Andi.
"Dokter saya juga golongan darahnya A, saya kebetulan pernah terkena penyakit ini dan sudah sembuh dari 6 bulan yang lalu, saya juga sudah di vaksin.."
"Coba darah saya juga di cek, apa bisa membantu ibu Violin.."
ucap Nicole bersemangat.
Dokter itu mengangguk girang dan berkata,
"Baiklah, kalau begitu silahkan ikut dengan saya.."
Lalu dia mendahului Andi dan Nicole berjalan meninggalkan ruangan kerjanya.
__ADS_1
Andi menatap kearah Nicole dengan penuh terimakasih dan berkata,
"Nicole terima kasih banyak.."
Nicole tersenyum dan berkata,
"Kakak ini selain kalimat itu, tidak ada kalimat lain kah.."
Andi menatap bingung kearah Nicole dan berkata,
"Maksudnya ?"
Nicole tersenyum lebar dan berkata,
"Sudahlah lupakan saja,.."
Andi sebenarnya bisa menebak, kalimat apa yang paling ingin di dengar oleh Nicole.
Tapi dia sadar kalimat itu tidak mungkin bisa dia ucapkan selain untuk Viona almarhum dan Violin istrinya saat ini.
Setelah diantar keruang cek darah dan diambil darahnya untuk di cek.
Tak lama kemudian terlihat Andi dan Nicole berbaring di dua kasur yang berdampingan dan hanya terpisah oleh kain tirai hijau.
Mereka masing masing menjalani pengambilan darah untuk nantinya di transfer ketubuh Violin.
Selesai pengambilan darah Nicole yang masih pusing terpaksa berbaring sejenak di sana.
Sedangkan Andi, dia langsung pergi menjenguk putranya, yang berada di ruangan tertutup.
Hanya lewat kaca jendela transparan, Andi bisa melihat bayinya yang masih merah, sedang tidur di dalam mesin inkubator.
"Kak bayi mu sangat tampan, mirip ayahnya.."
ucap Nicole yang baru datang menghampiri Andi.
Andi tersenyum dan kembali berkata,
"Terimakasih.."
Nicole menahan senyum mendengar ucapan Andi.
Andi pun tersenyum canggung dan berkata,
"Ayo kita pergi jenguk Violin saja Sekarang.."
Nicole mengangguk lalu berjalan beriringan menuju ruangan kamar di mana Violin sedang di rawat.
Andi dan Nicole diwajibkan mengenakan seragam yang mirip seragam astronot, baru boleh di ijinkan untuk menemui Violin yang sedang terbaring lemah dan pucat.
Tapi melihat kedatangan Andi dan Nicole, violin tetap memaksakan diri untuk tersenyum.
"Sayang gimana keadaan bayi kita ? laki perempuan..?"
tanya Violin dengan suara lemah.
"Bayi kita sehat, kamu tenang saja.."
"Jenis kelamin nya Sam seperti aku, sesuai keinginan mu.."
ucap Andi lembut.
Violin mengangguk dan berusaha tersenyum, lalu dia menoleh kearah Nicole dan berkata,
"Kak Nicole terimakasih ya, maaf jadi merepotkan mu jauh jauh datang kemari.."
Nicole menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Itu bukan masalah, yang paling penting saat ini adalah kamu harus cepat sembuh.."
__ADS_1
"Jangan biarkan dia terus berkhawatir dan bersedih.."
ucap Nicole serius memberi semangat ke Violin.