
Masuk kedalam ruang ganti, Andi langsung mengunci pintu ruangan ganti tersebut.
Andi menatap Violin dengan tatapan mata penuh kerinduan dan berkata,
"Kamu dengan siapa kemari ?"
"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini..?"
Violin sambil tersenyum sedih berkata,
"Aku melihat mu di tempat kak Viona, lalu aku mengikuti mu kemari.."
Andi maju menarik Violin kedalam pelukannya dan memeluk Violin dengan erat dan berkata,
"Aku sangat senang kamu kemari, aku benar-benar sangat bahagia.."
Violin diam saja tidak beraksi, hanya airmatanya yang jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Perlahan-lahan Violin melepaskan pelukan Andi dan mundur menjauhi Andi dan berkata,
"Aku datang kemari, hanya karena mengkhawatirkan keselamatan kakak, sekaligus memberikan dukungan moril buat kakak,.."
"Hanya itu tidak lebih, harap kakak jaga diri.."
"Permisi.."
ucap Violin kemudian berjalan melewati Andi, mengulurkan tangannya hendak membuka kunci pintu ruangan.
Tapi Andi dengan cepat memegang tangan Violin dan berkata,
"Lin jangan pergi, jangan pernah tinggalkan aku, berilah aku kesempatan sekali lagi, boleh ?"
"Aku benar benar sangat mencintai mu, kamu lah matahari ku, jadi aku mohon.."
Violin menggelengkan kepalanya, sambil menatap Andi dengan cucuran airmata yang semakin deras, dia berkata,
"Maaf kak semua sudah terlambat, belajarlah menerima kenyataan bahwa kita tidak berjodoh kak.."
"Bukan hanya kakak,.aku juga sedang mencoba belajar itu.."
ucap Violin sambil berusaha tersenyum sedih.
Lalu dia melepaskan pegangan tangan Andi dan mencoba meneruskan untuk membuka kunci pintu ruangan.
Tapi Andi tiba tiba memeluk Violin dan berkata,
"Tidak Lin jangan pergi aku mohon pada mu, maafkan lah kakak.."
"Kakak tidak sanggup kehilangan mu lagi.."
Andi memeluk Violin. erat-erat dalam pelukannya.
"Kakak ku mohon jangan seperti ini, ini juga tidak mudah buat ku.."
"Kakak tahu, aku kini adalah calon nya Do Do, dengan kita seperti ini.."
__ADS_1
"Aku sudah merasa sangat bersalah kepada nya, aku telah menghianati kepercayaan nya pada ku"
"Tidak Lin aku tidak akan melepaskan mu lagi."
"Aku sudah pernah sekali melepaskan dia pergi, dan hasilnya aku menyakitinya juga menyakiti diri ku sendiri."
"Jadi kini aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan ku untuk yang kedua kalinya.."
"ku mohon padamu Lin mengertilah, dan beri lah aku kesempatan sekali lagi.."
"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu lagi, apapun alasannya.."
ucap Andi tetap tidak bersedia melepaskan Violin, malah dia semakin mempererat pelukannya, saat dia merasa Violin ingin meronta melepaskan diri.
Sambil terus berusaha meronta sekuat tenaga melepaskan diri, Violin akhirnya terpaksa menginjak kaki Andi dengan keras, lalu mendorong tubuh Andi mundur menjauhi nya .
"Please kak jangan seperti ini, kita tidak boleh meneruskannya lebih jauh lagi..!'
"Sadarlah kak, jangan membuat ku memandang remeh kakak,..!"
Bentak Violin berusaha menyadarkan Andi.
Airmata semakin deras bercucuran membasahi wajahnya, dia bahkan menutupi mulutnya sendiri berusaha menahan suara tangisannya yang hampir meledak.
Andi menatap Violin dengan tatapan mata tak percaya dan berkata,
"Tidak Lin, aku tahu di hati mu masih ada aku, di hati ku juga selamanya hanya ada kamu.."
"Kak jangan seperti ini, diantara kita sudah tidak mungkin,..!"
"Aku sudah memberi kesempatan ke kakak 7,5 tahun, apa belum cukup..?!"
"Sudahlah,..itu sudah jadi masa lalu, tak perlu di bahas lagi.."
"Minggir lah kak, biarkan aku pergi.."
ucap Violin sambil menahan Isak kembali hendak berlalu dari sana.
Tapi tiba tiba Andi maju memegangi kedua tangan violin dengan erat, Lalu Andi berusaha menciumi Violin.
Violin berusaha menghindar dan berteriak,
"Jangan kak,..! tidak boleh,..! Jangan seperti ini,..!
Karena kalah tenaga Violin terus terdorong mundur kebelakang, hingga tubuhnya mepet ke lemari loker tiada tempat mundur lagi.
Andi tanpa menghiraukan perlawanan dari Violin, dia terus memaksa mendaratkan ciuman nya ke bibir Violin.
"Kakak,..jangan...Mmmphhh,..!"
Akhirnya kedua bibir mereka bertemu, sepasang mata Violin melotot ketakutan.
Tapi sesaat kemudian, Violin pun tidak berusaha melawan lagi, sepasang matanya terpejam rapat.
Hanya sedikit terdengar suara sedu sedan dari dadanya, tapi perlahan-lahan suara sedu sedan itupun hilang terganti dengan suara deru nafas yang memburu.
__ADS_1
Violin membalas ciuman Andi dengan penuh nafsu dan nafas semakin lama semakin memburu..
Sepasang tangannya tidak di pegangi oleh Andi lagi, karena tangan Andi kini berpindah membelai kepala dan pipi Violin dengan lembut dan mesra.
Kini sepasang tangan Violin malah melingkar di belakang leher Andi.
Mereka berdua saling melepaskan seluruh perasaan rindu dan cinta mereka yang terpendam selama ini.
Semakin lama pergerakan mereka berdua semakin bernafsu
Andi kini sudah berpindah menciumi leher Violin yang putih jenjang dan halus dengan lembut dan penuh perasaan.
Violin yang merasa seperti melayang terbang ke awang-awang, sepasang matanya langsung mendelik keatas, setengah terpejam.
Bibirnya terus mengeluarkan suara rintihan pelan tidak jelas, sepasang jemarinya yang lentik terus memegang belakang kepala dan rambut Andi dengan erat.
Dua berusaha menahan geloranya yang meledak ledak tak terkendali.
Saat merasakan ada benda keras yang menempel dan menggesek gesek di bagian terlarangnya.
Sepasang mata Violin langsung kembali terbuka lebar, dia kembali sadar dari gelora nafsunya, yang hampir menutupi seluruh kesadarannya.
"Kak Andi cukup,.. jangan diteruskan lagi, .."
ucap Violin dengan suara sedih dan agak sedikit tercekat di tenggorokannya.
Andi yang merasakan perubahan respon Violin, yang kembali dingin.
Andi pun mengangguk pelan, dan perlahan-lahan menjauhi Violin.
Sambil menatap Violin dengan tatapan sedih dan airmata yang jatuh menggantung di pipinya..Andi berkata,
"Maafkan kakak Lin, kakak pantas menerimanya, kehilangan dirimu adalah penyesalan terbesar dalam hidup kakak.."
"Kakak pantas menerima hukuman ini, kakak pantas menerimanya.."
ucap Andi sambil berusaha menahan suaranya, yang hampir berubah seperti suara orang yang sedang menahan tangis.
"Kakak,.. Jangan seperti ini.."
ucap Violin sambil berusaha menahan tangis.
Violin akhirnya membuka pintu ruang ganti dan berkata,
"Selamat tinggal kak Andi,.. jaga dirimu baik-baik.."
Violin menutupi mulutnya sendiri menahan suara tangisnya sendiri, lalu dia berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Setelah Violin pergi, Andi pun langsung berlari mengejarnya hingga lapangan parkir.
Andi berdiri di tepi lapangan parkir memastikan dirinya melihat Violin sudah masuk kedalam mobilnya dengan aman dan pergi dari tempat itu.
Andi baru menghela nafas panjang, melepaskan semua beban kesedihannya.
Andi jatuh berlutut di sana dengan kepala tertunduk dan menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Andi menangis pilu seorang diri di sana.
Andi sadar sepenuhnya setelah hari ini, kelak bila dia dan Violin kembali bertemu mereka akan menjadi dua orang yang paling asing tapi di saat bersamaan mereka juga pernah begitu dekat.