
Andi mengangguk tanpa berkata apa-apa.
Andi hanya berkata dalam hati, sudah tahu mereka meresahkan kenapa gak ditangkap.
Malah di biarkan, lalu apa tugas kalian sebagai penegak hukum.
Kelihatannya gak beda jauh deh penegak hukum di sini dan di negeri ku.batin Andi dalam hati.
Lalu dia bergerak meninggalkan tempat tersebut.
"Hei anak muda tunggu..!'
panggil pak tua itu ke Andi.
Andi pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah pak tua itu dan berkata,
"Ya pak ? ada yang bisa saya bantu ?"
"Anak muda terimakasih banyak ya, maaf sikap ku sebelumnya di.."
ucap pak Tua itu merasa tidak enak hati.
Andi tersenyum dan berkata,
"Lupakan saja pak, itu bukan masalah.."
"Ada hal lainnya pak, kalau tidak ada aku permisi dulu.."
"Anak muda siapa nama mu, nama ku Boby.."
ucap pak tua itu sambil mengulurkan tangannya kearah Andi.
Andi sambil tersenyum menyalaminya dan berkata,
"Panggil saja saya Andi, pak.."
Sambil tersenyum malu malu pak tua itu berkata,
"Nak Andi, bila nak Andi ingin berwisata di sini, saya bisa menjadi tour guide nak Andi selama di pegunungan Alpen ini.."
"Mengenai bayaran nya bebas, nak Andi saja yang tentukan.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Aku kesini bukan untuk berwisata, tapi aku sedang mencari tempat tinggal yang sepi jauh dari keramaian."
"Tak perlu mewah mewah asal layak untuk tinggal sudah cukup ."
ucap Andi apa adanya.
Pak tua itu tersenyum lebar dan berkata,
"Bagaimana bila nak Andi ikut melihat lihat tempat tinggal ku, kalau kalau cocok.."
"Rumah ku kecil,.. tapi tanahnya cukup luas lebih kurang ada 3 Ha.."
ucap pak Tua itu sambil menatap Andi.
Andi mengangguk dan berkata,
"Boleh saja, kita bisa lihat lihat kerumah bapak.. bukan masalah.."
__ADS_1
Pak tua itu tersenyum senang,.dia buru buru berkata,
"Lewat sini nak Andi mari.."
Andi mengangguk mengikuti langkah pak tua itu.
Pak tua itu mengajak Andi berjalan kaki menuju sebuah terminal kecil, mereka menggunakan angkutan umum, menuju lokasi rumah pak tua itu, yang letaknya cukup jauh dari perkotaan.
Meski agak sedikit di daerah pinggiran kota letak tempat tinggal pak tua itu, tapi letaknya cukup strategis,
Tidak begitu jauh dari tempat tinggal pak tua itu, ada sebua kota kecil yang cukup hidup dan ramai, di sana ada pertokoan yang berderet-deret, juga ada pasar tradisional.
Jadi untuk keperluan sehari-hari tidak perlu khawatir, karena letaknya yang terpencil.
Andi cukup tertarik dengan rumah yang di tawarkan oleh pak tua itu.
Tapi Andi yang menyadari kelicikan pak tua itu, dia sengaja tidak mau menunjukkan rasa ketertarikannya.
Andi berpura-pura cuek dan tidak terlalu tertarik, hanya berkesan secara serampangan Andi bertanya,
"Jadi paman Boby mau jual dengan harga berapa..?"
Pak Tua itu sambil tersenyum berkata,
"30 ribu euro aja, bila nak Andi berminat..."
Andi menggunakan HP nya menghitung hitung, kemudian berkata,
"Harga itu terlalu mahal, kurang cocok dengan kondisi rumah ini, yang masih membutuhkan renovasi di sana sini.."
"Lupakan saja Pak Boby terimakasih waktunya, aku permisi dulu.."
ucap Andi langsung melangkah pergi.
"Dengan tanah seluas ini, harga segitu sudah di bawah pasaran nak Andi."
"Untuk wilayah Alpen Swiss yang menjadi pusat wisata, harga ini sudah sangatlah murah nak Andi."
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Budget ku kurang, meski ini harga pasaran, uang gak cukup,.. aku bisa apa..?"
Andi juga termasuk seorang pengusaha yang cukup terkemuka, dia mana semudah itu percaya dengan harga di tawarkan oleh pak Boby itu.
"Tapi setidaknya nak Andi bisa sebutkan harga yang nak Andi inginkan.."
ucap Boby sambil menatap Andi dengan serius.
"Aku cuma punya budget 15.000 euro, aku paling bisa nawar 10.000 euro saja."
"Karena sisa 5000 euro,.harus ku cadangkan untuk renovasi.."
"Harga itu terlalu jauh dengan harga yang bapak tawarkan, apa boleh buat."
"Saya hanya bisa cari pelan pelan mungkin yang luas tanahnya lebih kecil."
"Tapi cocok dengan budget saya."
ucap Andi pura pura tidak berdaya, dan bersiap meninggalkan rumah Boby.
Wajah Boby menjadi suram dan lesu, mendengar penawaran Andi.
__ADS_1
Tapi di sisi lain, dia sedang sangat memerlukan uang.
Kini jalan satu satunya memperoleh uang adalah menerima penawaran Andi.
Andi sengaja membiarkan Boby sibuk berpikir, sedangkan dirinya terus melangkah meninggalkan tempat tersebut.
Untuk lebih praktis beraktivitas, Andi ingin kembali ke pusat kota, mencari penginapan, meletakkan barang barang bawaannya.
Setelah itu baru mencari mobil untuk memudahkan aktivitas nya, kedepan nya nanti.
"Tunggu pak Andi,..! tunggu,...!"
teriak Boby saat Andi sudah berjalan cukup jauh.
Andi menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Boby dan berkata,
"Ya pak,.. ada apa..?"
"Begini biar jangan sampai gak jadi, bagaimana bila pak Andi tambah lagi harganya jadi 14 ribu Euro. ?'
ucap Boby mencoba menawar.
Andi pun tersenyum dalam hati, dan berkata,
"Dasar Rase tua kena kamu sekali ini.."
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf pak tidak bisa, sisa 5000 untuk renovasi itu sudah perhitungan yang tidak bisa di ganggu gugat.."
"Biarlah aku cari tempat lain saja, sesuai dengan budget yang aku punya."
Setelah berkata, Andi pun melangkah terburu-buru meninggalkan tempat Boby.
Andi sengaja berpura-pura seolah olah dia memang sudah tidak berminat lagi.
Tapi ternyata sekali ini Boby tidak memanggil Andi,.dia berdiri menatap bayangan punggung Andi hingga hilang dari pandangan nya.
Andi sendiri sempat berpikir dan meragu, tapi hanya sesaat.
Akhirnya Andi sendirian kembali lagi ke pusat kota, mencari penginapan untuk tempat tinggal sementara nya.
Keesokan paginya saat Andi keluar dari penginapan tempat nya menginap.
Hendak pergi ke showroom mobil terdekat, di mana dia dapatkan informasi alamat tersebut dari pelayan penginapan.
Tiba-tiba terlihat Boby muncul di hadapannya membawa sebuah map dan berkata,
"Selamat pagi pak Andi, bagaimana tidurnya semalam nyenyak ?"
Andi tersenyum tipis dan berkata,
"Rumah masih numpang sama orang gimana mau tidur nyenyak..?"
"Ha,..ha..ha..ha..! pak Andi bisa saja,"
"Tapi saya juga tidak jauh lebih baik dari pak Andi tidurnya,.meski tidur dirumah dan di kamar sendiri pula.."
ucap Boby sambil tersenyum lebar.
"Pak Andi saya sudah pikirkan matang-matang, saya akan jual rumah saya ke pak Andi, ini sertifikat rumah dan tanahnya sudah ku bawa sekalian.."
__ADS_1
"Tapi tidak bisakah pak Andi,? bantu saya barang seribu dua ribu, tolonglah pak Andi ?"
Di dalam hati Andi tersenyum girang, tapi di luar Andi pasang Raih sedih, sesedih mungkin.