AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MALAM KEDUA


__ADS_3

Setelah minum obat dan di kompres oleh Andi, sejam kemudian Violin terlihat sudah bisa bangun untuk duduk.


Dengan hati hati Andi menyuapkan sup sarang burung walet untuk membantu memulihkan stamina tubuh istrinya.


Violin tidak membantah, dia membuka mulutnya lebar-lebar, menikmati suap demi suap perhatian dan kasih sayang yang di tunjukkan oleh Andi kepadanya.


Setelah menghabiskan satu mangkuk sup sarang walet, Violin merasa tubuhnya mulai jauh lebih segar dia pun berkata,


"Sayang bantu aku ke kamar mandi ya, aku ingin mandi, rambut dan badan ku terasa lengket semua.."


"Ok kamu tunggu sebentar ya sayang,.. aku akan siapkan dulu air hangatnya.."


"Juga pakaian dan perlengkapan mu, agar kamu tidak sampai kedinginan dan semakin demam.."


ucap Andi lalu dia buru-buru bergerak membawa pakaian dan perlengkapan yang biasa Violin gunakan untuk di bawa kekamar mandi.


Setelah beres Andi baru menggendong Violin kekamar mandi.


Andi membantu melepaskan semua pakaian Violin, baru membantunya masuk kedalam bathtub air hangat yang sudah di siapkan sebelumnya.


"Mau mandi sendiri,? atau aku bantu ?"


tanya Andi pelan.


Violin tersenyum dan berkata,


"Aku bisa sendiri kok kak,.. aku sudah jauh lebih segar sekarang.."


Andi mengangguk dan berkata,


"Aku tunggu di depan kalau perlu apa panggil saja ya,.."


Violin sambil tersenyum mengangguk kecil ke Andi.


Andi menciumi kening Violin kemudian dia baru keluar dari dalam kamar mandi.


Andi memilih duduk di depan kamar mandi takut bila Violin membutuhkan dan memanggilnya dia tidak kedengaran.


Violin juga tidak berani lama, karena demamnya baru reda, dia masih merasa sedikit merinding bila kena angin dingin.


Selesai mandi gosok gigi, luluran mengeringkan rambut.


Violin pun langsung keluar dari kamar mandi, dia sangat kaget saat melihat Andi duduk di sana menunggunya.


"Kakak kok duduk di sini.?"


tanya Violin kaget.


"Gak papa, aku takut kamu membutuhkan sesuatu, memanggil ku, tapi aku tidak kedengaran.."


"Lin kamar sedang di bersihkan, kakak temani kamu istirahat di sofa dulu ya,..?"


Violin mengangguk, kemudian dia naik ke punggung Andi, yang sudah siap menggendongnya menuju ruangan di depan kamar mereka.


Andi sengaja memanggil petugas pembersih kamar untuk merapikan semua kekacauan yang dia buat bersama Violin subuh tadi.


Violin duduk di kursi sofa berbaring santai dalam pelukan Andi sambil menonton TV.


Beberapa waktu kemudian petugas pembersih hotel pun keluar dari dalam kamar dan berkata,


"Pak kamarnya sudah selesai di bersihkan, silahkan.."

__ADS_1


"Kami permisi dulu pak,.."


ucap petugas itu sopan.


Andi menoleh kearah petugas pembersih kamar, dia mengangguk pelan dan berkata,


"Terimakasih banyak, mas.."


Lalu dia bangun dari duduknya, mengantar petugas itu hingga keluar dari kamarnya, Andi pun mengunci pintu.


Kembali ke samping Violin menemaninya nonton.


"Kak Andi sudah makan belum ?"


tanya Violin.


Andi tersenyum dan berkata,


"Tadi pagi sudah, cuma siang belum, Lin mau makan ?"


"Kalau Lin mau kakak pesanin, nanti kita makan sama-sama."


Violin mengangguk dan berkata,


"Boleh,..Lin juga merasa sedikit lapar."


Andi pun bangkit, menggunakan pesawat telpon di kamar menelpon restoran, memesan beberapa macam masakan kesukaan Violin.


Begitu pesanan makanan mereka tiba, Andi dan Violin pun terlihat saling menyuapi makanan sambil tertawa bahagia.


Hari itu seharian Violin lewatkan dengan istirahat tidur makan dan minum obat.


Andi ikut menemani dan menjaganya.


"Kak kita ulangi lagi yuk, acara kita yang tertunda.."


Andi tersenyum, lalu menciumi kepala Violin dan berkata,


"Kita tunggu saja kondisi mu benar benar pulih..baru kita lakukan lagi.."


"Tak perlu tergesa-gesa, kesehatan mu lebih penting.."


"Bersenang senang tentu harus dalam keadaan fit baru nikmat.."


"Kita lihat besok malam aja, ok ?"


ucap Andi sambil tersenyum sabar.


Violin bangun duduk di hadapan Andi dan berkata,


"Kak aku jadi sedikit ketagihan, boleh tidak sekali aja, aku kepingin.."


Violin menatap Andi dengan penuh harap dan wajahnya sedikit merah menahan malu.


Andi tersenyum dan berkata,


"Ciuman mesra saja ya, ? setelah itu kita bobok..ok?"


Violin mengangguk cepat, lalu dia memilih duduk diatas perut Andi dengan sepasang paha terbuka.


Violin memegangi wajah Andi lalu mendaratkan ciuman nya,.dari pelan sedikit demi sedikit semakin ber nafsu.

__ADS_1


Hingga akhirnya, mereka berdua terguling saling tumpang tindih diatas kasur.


Violin masih terus berada di posisi atas memimpin jalannya pertandingan. hingga akhirnya Andi berpindah bermain di lehernya yang jenjang.


Violin baru berpindah posisi di bawah ber de sah dan me rin tih halus.


Melihat melihat tubuh Violin mulai berkeringat, dan bergetar.


Sebelum Violin meng ge lin Jang tak terkendali dan kelelahan.


Andi pun sedikit demi sedikit menghentikan secara pelan pelan permainan nya dan berbisik di dekat telinga Violin.


"Cukup ya,.. kita tidur,.. besok malam baru di sambung."


Tapi di luar dugaan Andi Violin malah mengeratkan lingkaran tangan nya di belakang leher Andi.


Dia menatap Andi dengan tatapan mata sayu, dan menggelengkan kepalanya.


"Jangan hentikan kak,.. Lin mau.. please.. ya..kak.."


"Sekali aja,.."


Melihat raut wajah Violin, Andi jadi susah menolak nya.


"Baiklah janji ya sekali aja, gak boleh lebih..ok.."


Violin mengangguk cepat dan tersenyum manis.


Dengan penuh semangat, dia langsung memulai me ma ngut bibir Andi.


Andi membalasnya mengikuti ritme permainan Violin.


Hingga nafas Violin kembali mulai memburu, perlahan-lahan Andi baru pindah kembali ke bagian leher Violin yang putih halus dan jenjang.


Ciuman ciuman hangat dan mesra, di Sertai hi Sapan hi Sapan sedikit kuat di bagian tersebut.


Ditambah dengan sentuhan Li dah, di bagian telinga, rin tih an dan de sah an Violin pun menjadi semakin keras.


Tubuhnya mulai me liuk liuk liar seperti penari ular.


Keringat mulai membasahi keningnya yang halus.


Andi sebenarnya merasa kasihan dan ingin menghentikan permainannya, tapi di lain pihak dia takut Violin marah dan kecewa.


Akhirnya Andi terus melanjutkan permainannya, kini tubuh Violin mulai meng ge Lin Jang ge Lin Jang seperti cacing kepanasan.


Saat Andi perlahan lahan turun ke bagian bukit nya, yang indah besar dengan bagian ujungnya yang berwarna merah muda. terlihat sangat menantang.


Andi pun me nge cup nya pelan Menghembuskan sedikit nafas hangat nya disana, baru melanjutkan dengan permainan Li dah nya.


Sambil memberikan remasan lembut di Bukit kenyal itu.


Otomatis tubuh Violin me nge Jang hebat melengkung keatas.


"Hufff,..Owhh,..Ahhh,.."


"Sekarang kak,.. cepat masukkan..Lin gak kuat lagi..!"


"Owhhh,..Ahhh,..!"


"Lin kamu serius,..?"

__ADS_1


tanya Andi ragu ragu. meski rudalnya sudah bersiap di posisi nya.


__ADS_2