AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KERICUHAN


__ADS_3

"Datang kesini kan yang penting happy, kalian pesan saja yang sesuai dengan selera kalian."


"Jangan pikirkan habis gak habisnya, yang penting cocok tidak dengan selera kalian.."


"Ayo Di..Vi..pilih sebebasnya, jangan pedulikan ucapan Santi.."


Ucap Sarah sambil tersenyum santai.


Santi mencemberutkan bibirnya dan berkata,


"Ya sudah kalian pilih aja pelan-pelan, aku sudah lapar aku duluan.."


Tanpa sungkan lagi Santi dengan antusias mulai mengambil hidangan di hadapannya.


Santi mengisi piringnya, kemudian dia mulai makan duluan, tanpa memperdulikan ketiga temannya yang lain.


Mereka bertiga sudah terbiasa dengan sikap Santi yang cuek dan ceplas-ceplos.


Setelah melihat-lihat Viona dan Andi saling pandang mereka berdua tertawa.


Karena mereka juga tidak tahu dengan pasti apa yang enak.


Semua gambar terlihat cantik, hanya saja mereka tidak yakin apa itu cocok dengan selera mereka.


Akhirnya mereka berdua hanya memesan tambahan minuman milkshake saja.


Sarah hanya tersenyum menanggapi pilihan kedua temannya, dia lalu menekan tombol bell di dekat meja.


Tak lama kemudian pelayan tadi kembali ke meja mereka, dia mencatat pesanan Andi dan Viona.


Mengambil kembali buku menunya dari Andi Santi dan viona.


"Mbak tinggalin buku ini satu di sini, biar kami bisa melihat lihat.."


"Baik..aku permisi dulu .."


ucap pelayan itu sopan.


Santi yang sedang asyik makan tidak lagi ambil pusing dengan orang di sekitarnya.


Dia hanya fokus dengan makanan nya.


Sedangkan Andi Viona Sarah asyik mengobrol sambil makan, mereka bertiga bercerita soal kedatangan Sarah yang bertemu dengan Davina dan Vero.


Viona mendengarkan cerita Sarah dengan antusias, sesekali dia melirik kearah Andi yang hanya tersenyum Canggung.


Sambil bercerita saat secara tidak sengaja Sarah mengedarkan pandangannya, dia melihat kehadiran kakaknya, yang duduk agak jauh dari tempat mereka.


Selain itu dia juga melihat Rio hadir juga di restoran tersebut, dia duduk tidak jauh dari tempat mereka.


Dan terus menerus menatap kearah Andi dan Viona dengan geram.


Melihat hal itu Sarah pun berkata,


"Vi coba kamu lihat arah jam 9.."


Viona menoleh kearah tersebut, dia sedikit terkejut melihat Rio sedang menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Viona pura-pura tenang,. dia kini menatap Sarah dan berkata,


"Sar gimana nih ? aku takut dia nekad berbuat onar dan membuat malu."


"Apa aku sebaiknya kesana memberi penjelasan padanya..?"


Sarah tersenyum dingin dan menggelengkan kepalanya,


"Kamu tenang saja kalau dia berani macam-macam di sini, nanti pasti ada yang membereskannya.


"Kalian duduk dan makan dengan santai di sini.."


Sarah kemudian menowel tangan Santi dan berkata,


"San arah jam 11 dipojok sana, coba kamu lihat.."


Santi mengikuti kata-kata Sarah,. karena mulutnya masih penuh makanan, dia mengambil segelas air putih di hadapannya, meminumnya untuk membantu mendorong makanan di mulutnya agar masuk.


Tapi saat melihat siapa yang duduk santai di sana, sambil minum Juice.


Santi hampir tersedak di buatnya, dengan grogi Santi buru-buru memalingkan wajahnya dan berkata dengan panik.


"Me.. mengapa dia ikut sampai ke sini sih..?"


Sarah tertawa dan berkata,


"Tentu saja mengikuti mu lah..mau ngikutin siapa lagi dia, kalau bukan karena kamu..?"


"Sarah ihh serius dong.."


ucap Santi mulai terlihat panik dan grogi.


Sarah tertawa dan berkata,


"Aduhhh..!"


jerit Sarah tertahan karena Santi telah menginjak kakinya dengan gemas.


"Rasakan tuh..biar tahu rasa.."


ucap Santi sambil menjulurkan lidahnya meledek Sarah.


Sarah meski sedikit kesakitan, tapi dia masih tidak berhenti menertawai Santi.


"Kalau kamu masih tidak bisa diam, aku akan mengajaknya duduk di sini.."


ucap Sarah sambil tersenyum nakal.


Santi mempelototi Sarah dengan sebal, tapi dia benar menjadi penurut tidak berani bersuara.


Dia meneruskan makannya dengan kepala tertunduk dalam-dalam, tapi makannya sudah tidak selahap tadi.


Dia lebih banyak terlihat termenung sambil mengaduk aduk makanan di piringnya.


Sementara Andi berusaha tetap terlihat tenang, padahal hatinya sebenarnya juga sedikit gelisah.


Dia hanya bisa membiarkan Viona bersikap gelisah, tanpa berani berusaha menenangkan nya.

__ADS_1


Andi takut bila dia berusaha menenangkan Viona, malah semakin menambah kemarahan Rio pada Viona.


Andi khawatir Rio akan melakukan sesuatu yang menyakiti Viona, bila dia dekat dekat dengan Viona.


Nanti semua usahanya bersama Viona untuk mengulur waktu kasus hutang ayah Viona, bisa terganggu dan kacau.


Viona semakin ketakutan saat Rio berjalan menghampiri meja mereka.


Andi sangat kasihan melihat kondisi Viona, tapi dia tidak berdaya untuk maju mencampuri nya.


"Viona bagus kamu ya, ? diam-diam kembali jalan dengan bajingan ini..!"


ucap Rio sambil berdiri di samping Viona.


Viona pun berdiri dari kursinya berhadapan dengan Rio dan berkata,


"Rio ini tidak seperti yang kamu pikirkan, kami datang bersama kemari berempat sebagai teman.."


"Sebagai acara perpisahan dengan Sarah, kita cuma makan bersama tak lebih dari itu.."


"Cukup Viona..! jangan menguji kesabaran ku..!"


"Ikut aku pulang sekarang juga.."


ucap Rio dengan kasar menarik tangan Viona.


Andi yang melihat semua ini, hanya bisa menahan sabar dengan mengepalkan tinjunya dan menggertakkan giginya.


"Rio ku mohon,.. kamu jangan bersikap begini.."


"Ini akan terlihat sangat memalukan.."


ucap Viona dengan mata mulai berkaca-kaca, dan tatapan memohon belas kasihan dari Rio.


"Memalukan kata mu,..! kalau tahu malu..kamu tidak akan membelakangi aku, berjalan dengan bajingan ini..!"


Santi dan Sarah serempak berdiri dari kursi mereka.


"Cukup Rio jangan menyakiti dan mempermalukan Viona di sini..!"


"Kamu tidak punya rasa malu, kami di sini semua masih punya..!"


ucap Santi sambil menendang tulang kering kaki Rio dengan hak sepatunya.


Lalu dia menarik lepas tangan Viona dari tangan Rio, dan mendorong Viona ke belakangnya bergabung dengan Sarah.


Viona langsung menangis tersedu-sedu dalam pelukan Sarah, dia sangat malu dengan kejadian ini.


Andi hanya bisa menatap dengan tak berdaya, hal inilah yang paling Andi takuti, dan akhirnya benar kejadian.


Rio kehilangan kendali dan menyakiti Viona, karena rasa cemburu buta, Dia tidak bersedia mendengarkan alasan dan penjelasan apapun.


Sedangkan dia tidak berdaya maju mencampurinya, bila dia maju ini akan membuat posisi Viona semakin sulit.


Rio sendiri tidak sanggup mempertahankan pegangan tangannya dari tangan Viona, karena tulang keringnya yang ditendang oleh Santi terasa nyeri dan kiut miut.


Setelah rasa nyeri di tulang kering nya mereda, dengan kesal Rio melayangkan tinjunya ke wajah Santi dan berkata,

__ADS_1


"Cari mati kamu, dasar ******....!"


Santi berdiri terpaku ditempat, tidak bisa mengelak, hanya memejamkan matanya ketakutan menanti datangnya tinju Rio mendarat di wajahnya.


__ADS_2