
"Minggu ke tiga Kan ada libur tanggal merah 3 hari, Lin baru ikut kakak jemput kak Viona gimana..?"
Violin menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Gak kak, pertandingan kakak kan malam
Minggu, Lin mau tetap ikut Minggu pagi Lin langsung kembali.."
"Yang kak Viona, Lin lihat dulu, klo gakda pekerjaan atau tugas, Lin baru berangkat ke sana.."
Andi tersenyum tak berdaya dan berkata,
"Terserah Lin deh, cuma klo menurut kakak daripada Lin capek capek berangkat bolak balik, lebih baik Lin temani Papa mama nonton dirumah.."
"Kan acaranya live, selain lebih jelas, ada tayangan ulang dan diperlambat sehingga lebih jelas daripada nonton langsung di sana..."
Violin diam tidak menjawab, dia hanya berkata dalam hati.
"Kak Andi gak tahu seberapa khawatir dan takutnya Lin, Lin bukan ingin nonton pertandingan nya."
"Lin tuh ingin memberi dukungan pada kakak di sana dengan kehadiran Lin, selain itu Lin akan jauh lebih tenang hatinya bila berada di sana.."
"Bila terjadi sesuatu di luar dugaan, setidaknya Lin ada di sisi kakak.."
batin Violin di dalam hati.
Andi meneruskan makannya, dia tahu percuma saja ngelarang anak ini, karena dia tahu banget bagaimana keras kepala nya Violin.
Bahkan di banding Viona, Violin ini masih satu level diatas Viona.
Selesai makan, Andi membereskan kotak rantangan nya dan berkata,
"Lin kamu bersantailah sejenak, kakak mau ke dapur.."
"Mau ngapain ? nyuci rantang kan ? gak usah.."
"Kakak di sini saja, bentar lagi kak Viona pasti telpon, hari ini Rabu malam loh, kakak jangan kemana mana tungguin telpon kak Viona aja."
"Tar telponnya masuk gakda yang angkat, kak Viona pasti kecewa.."
"Rantangnya, biar Lin yang bawa pulang saja, sini.."
ucap Violin sambil merebut rantangan tersebut dari tangan Andi.
Andi terpaksa menyerahkannya dengan tak berdaya, hari ini memang Rabu malam.
Malam Kramat buat Andi, di larang di ganggu gugat..
Violin sambil tersenyum nakal berkata,
"Ya udah aku pulang dulu ya,.. bye selamat bersenang-senang.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Makasih banyak ya Lin, maaf merepotkan mu.."
"Udah Akh Lin pulang dulu, kak Andi nih, ada ada aja..gitu aja pake makasih segala.."
"Bye...!"
ucap Violin sambil melambaikan tangannya sebelum keluar dari kamar Andi.
Begitu keluar dari dalam kamar Andi, Violin menghapus airmatanya yang meloncat keluar dari matanya.
__ADS_1
Entah kenapa, melihat Andi begitu mementingkan kakaknya, violin merasa hatinya sedikit perih.
Setelah Violin pergi, Andi duduk termenung di depan HP nya sedetik demi sedetik menunggu telpon dari Viona.
Tapi saat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Viona tidak juga menelpon.
Andi hatinya mulai tidak tenang.
Dia segera mengirim pesan ke Viona,
"Vi kamu ada di mana ? kamu tidak apa-apa kan, telpon balik ya, aku mengkhawatirkan mu.."
"Segera kabari aku,..kamu baik baik saja.."
Setelah pesan terkirim, Andi kembali duduk diam menatap HP nya yang tergeletak dalam keadaan gelap.
Tidak ada tanda-tanda adanya panggilan masuk.
Setelah setengah jam berlalu, Andi mencoba melakukan panggilan berulang kali.
Tapi tetap tidak ada yang mengangkat nya.
Andi mulai semakin cemas dan bingung tidak tahu apa yang harus di lakukan.
Ingin rasanya dia langsung muncul di Mess Viona untuk melihat keadaan kekasihnya itu.
Tapi itu tidak mungkin punya, kalau pun sekarang berangkat sampai di pabrik tempat kerja Viona juga pasti udah subuh
Sampai sana pun, Andi juga gak bakal bisa bertemu Viona yang berada di dalam Mess pabrik yang di jaga dengan ketat.
Andi terduduk lesu, melihat jam sudah pukul 10 malam, Andi kembali melakukan panggilan sekali lagi.
Telpon kembali tersambung tapi tidak di angkat angkat, setelah melakukan panggilan berulang kali, akhirnya telepon diangkat.
"Halo...halo...Vi...Vi...kamu di mana..gimana keadaan mu..kamu baik baik kan..?"
Tapi telpon yang tersambung dan di angkat tidak ada suaranya di seberang sana, suasana terasa hening mencekam.
Sesaat kemudian telpon pun dimatikan, setelah itu panggilan Andi tidak bisa masuk lagi.
Karena telpon sudah di matikan dari sana.
Andi sungguh cemas di buatnya, tapi dia benar-benar tidak bisa apa-apa.
Dalam kebingungan dan putus asa, akhirnya Andi memutuskan menelpon Santi.
Begitu telpon Santi diangkat terdengar suara serak di seberang sana dengan pelan berkata,
"Santi baru saja tidur, ada apa ya di..?"
Andi mengenali suara itu adalah suara James, dia pun buru-buru berkata,
"James maaf ganggu, tapi aku sangat khawatir dengan Viona aku takut dia terjadi sesuatu.."
"Aku sudah telpon dia berulangkali tidak diangkat terakhir di angkat sebentar tidak menjawab malah di matikan begitu saja."
"Setelah telpon di matikan, tidak bisa tersambung lagi, mungkin di matikan dari sana."
"Ini sangat tidak biasa, Aku benar benar takut..James kamu tolong bantu aku boleh ? tolong bantu aku pastikan Viona baik'baik saja.."
"Kalian bertengkar..?"
tanya James pelan.
__ADS_1
Andi menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata,
"Tidak kami baik'baik saja.."
"Baiklah aku akan pergi mengeceknya, sebentar lagi aku hubungi kamu lagi.."
ucap James singkat.
"Baik makasih banyak ya James..maaf merepotkan mu."
ucap Andi tidak enak hati.
"Tenang saja kalian teman Santi dan Sarah, aku pasti akan bantu kalian.."
setelah berkata, James pun memutuskan sambungan nya.
James berjalan pelan-pelan keluar dari dalam kamar nya, kemudian dia melakukan panggilan rahasia lewat telpon khusus nya.
Begitu tersambung langsung terdengar suara berat dari seberang sana,
"Ya panglima ada pesan apa ?'
"Billy tolong lacak ke pabrik PT PC,.gadis bernama Viona apakah dalam keadaan baik baik saja.."
ucap James tegas.
"Siap laksanakan panglima.."
jawab anak buah James telpon pun di matikan.
Tidak berapa lama kemudian, telpon James kembali berbunyi.
James segera mengangkatnya dan berkata,
"Ya Billy gimana..?'
"Menurut laporan orang kita di sana, nona Viona tidak berada di Mess pabrik."
"Dari jam 6 sore dia bersama sama teman Mess nya sudah keluar dari pabrik pergi belanja keperluan mingguan.."
"Tapi sampai kini, mereka semua belum juga pulang.."
"Bagaimana panglima..?"
tanya Billy balik.
"Kamu segera selidiki ke supermarket terdekat di mana mereka biasa belanja, cari tahu kemana mereka pergi.."
ucap James mengerutkan alisnya.
"Baik panglima.."
ucap Bily capat.
"Sayang di sini kamu rupanya,"
terdengar suara lembut dari arah belakang James sambil melingkarkan sepasang tangannya di pinggang James.
James sedikit kaget saat menyadari istrinya tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Ehh sayang bukannya tadi udah tidur, kok bangun lagi..?"
tanya James untuk menutupi rasa gugupnya.
__ADS_1