
Setelah menikmati makan minum bersama sambil ngobrol santai dan ringan.
Andi kemudian membawa rombongan itu kembali ke apartemen, sepanjang perjalanan pulang, semua orang tertidur pulas kecapekan.
Kecuali Andi yang terus fokus menyetir, Andi tentu lebih kuat fisiknya dan tidak mudah lelah.
Karena sejak kecil dia sudah menerima proses latihan berat dari kakek nya.
Di tambah lagi, sejak di kota J, dia hampir setiap hari berlatih keras, untuk menghadapi berbagai pertarungan kelas berat.
Tentu saja stamina dan fisiknya sangat terjaga dan terlatih dengan baik.
Sesekali sambil menyetir Andi melihat lewat kaca spion ke belakang sambil tersenyum puas.
Andi merasa cukup gembira dan bahagia, meski dirinya tidak bisa bersama Viona, dan memberikan kebahagiaan buat Viona.
Tapi bisa memberikan kebahagiaan buat keluarganya, Andi pun merasa cukup puas.
Andi melirik kearah Violin yang sedang tidur tersenyum sambil memegangi kalung dan gelang pemberian nya dengan erat, seolah olah takut hilang.
Andi pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum melihatnya.
Saat kendaraan Andi berhenti di parkiran apartemen, rombongan kecil itu, satu persatu baru mulai bangun dari tidur pulas mereka.
"Sudah sampai ya kita, nak Andi.."
tanya mama Viona sambil tersenyum malu.
Dia sedikit tidak enak hati, membiarkan Andi menyetir sendiri.
Sedangkan mereka semua asyik tidur pulas.
Seolah-olah Andi adalah supir mereka.
Andi mengangguk dan berkata,
"Ya ma, sudah sampai, kita bisa kembali ke apartemen mandi beristirahat.."
"Sekarang masih jam 4 sore, masih ada waktu 3 jam lagi, menjelang acara resepsi perjamuan.."
ucap Andi sambil melihat jam tangannya.
Tapi begitu melihat jam yang melingkar di tangannya, tak ayal ada perasaan sedih kehilangan yang kembali muncul menyelimuti perasaannya.
Sambil tersenyum pahit, Andi pun berkata,
"Ayo kita turun, dan kembali ke apartemen.."
Setelah berucap, Andi mematikan mesin kendaraan, lalu turun dari mobil.
Andi membantu menggendong Doddy yang masih asyik tertidur kelelahan bermain dan jalan jalan.
Sedangkan Rina di gendong oleh papanya, Andi berjalan paling depan, diikuti oleh Violin di belakang nya.
Mama dan papa Viona menyusul di paling belakang, sambil menggendong Rina.
__ADS_1
Setelah kembali ke apartemen dan mengembalikan Dody untuk tidur di kamarnya sendiri.
Andi pun langsung kembali ke kamarnya, duduk terpekur seorang diri sambil melanjutkan kegiatannya semalam.
Tapi sekali ini Andi hanya merokok sendiri dalam diam, dia tidak berani menyentuh minuman.
Karena nanti malam, dia harus bertugas menjadi supir pulang pergi buat keluarga Viona.
Andi terus merokok dan termenung seorang diri, hingga matahari terbenam, dia baru menghentikan aksi merokoknya.
Andi masuk kedalam kamar, lalu pergi mandi membersihkan diri, menggosok gigi dan berkumur dengan cairan antiseptik rongga mulut, hingga semua bau asap rokok nya hilang tuntas.
Andi baru berganti pakaian rapi lengkap dengan jas dan dasi, layaknya pengantin pria.
Setelah bercermin dan cukup puas dengan penampilannya, Andi pun keluar dari kamar nya.
Dan langsung pergi menunggu di dalam mobilnya.
Andi mengeluarkan sebotol parfum hadiah Violin, yang selalu dia simpan di mobil.
Andi menyemprotkannya beberapa kali ketubuhnya.
Baru dia mengeluarkan HP nya, mengabari violin bahwa dia telah siap menanti mereka di mobil.
Setelah mengirim pesan, Andi baru keluar dari mobilnya, sambil bersandar di pintu mobilnya.
Andi berdiri termenung menatap langit yang kelam sekelam hatinya, udara malam yang dingin, sedingin hatinya saat ini yang kesepian dan sangat jauh dari kehangatan cinta yang pernah dia rasakan dari Viona.
Semua impian dan harapan nya, setelah malam ini, semua hancur berkeping-keping tidak bersisa lagi.
Karena setelah malam ini dan malam malam selanjutnya, yang akan menikmati kehangatan cinta dan kasih sayang Viona bukan lagi dirinya.
Untungnya Andi tidak perlu menunggu lama dalam kesendirian nya.
Sesaat kemudian terlihat rombongan keluarga Viona sedang berjalan menghampiri nya.
Andi pun berusaha sebisa mungkin tersenyum menyambut kehadiran mereka.
"Ma pa Lin sudah siap,..? gak da yang tertinggal ?"
Andi menatap mereka sebentar, sambil membuka pintu buat mereka, melihat tidak ada reaksi, Andi lalu melanjutkan berkata,
"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang.."
Kedua orang tua Violin dan adiknya langsung masuk ke kursi penumpang bagian belakang.
Setelah kedua orang tua Violin masuk kedalam mobil bersama kedua adiknya, violin menahan lengan Andi dan berkata,
"Kak Andi, apa kakak yakin baik baik saja,..?"
Andi menatap Violin sambil berusaha tersenyum dia berkata,
"Jangan khawatir Lin kakak baik baik saja ."
"Kakak jangan memaksakan diri, bila tidak siap."
__ADS_1
"Kita batalkan saja, dan langsung pulang ke kota J saja gimana ?"
tanya Violin sambil menatap Andi dengan cemas dan ragu.
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Lin jangan khawatir, kakak siap kok.."
"Malam ini bagaimana pun caranya kakak pasti akan pergi menghadirinya, untuk memberikan ucapan selamat terakhir buat kakak mu.."
"Keputusan kakak sudah bulat tidak akan pernah berubah.."
"Masuklah ke mobil, kita segera berangkat jangan sampai telat.."
"Papa mama adalah bagian penting dalam acara ini, tidak boleh telat.'
ucap Andi berusaha menenangkan Violin yang perhatian pada perasaannya.
Violin menghela nafas kemudian mengangguk dan berkata,
"Baiklah kak, kapan pun kak Andi tidak siap dan ingin pulang.."
"Jangan menahannya, beritahu pada Violin, Violin pasti akan menemani kakak pulang.."
ucap Violin penuh perhatian.
Andi tersenyum membelai lembut kepala Violin dan berkata,
"Makasih banyak Lin, kamu memang adik kakak yang paling baik.."
"Tidak sia sia kakak menyayangi mu selama ini, makasih.."
"Masuklah ke mobil, kita jalan sekarang.."
ucap Andi lembut.
Violin mengangguk dan masuk kedalam mobil dengan perasaan galau.
Ada perasaan gembira karena Andi menyatakan dia sangat menyayangi dirinya.
Selain itu dia juga sangat puas bangga dan bahagia.
Dia dengan jelas mencium aroma parfum ditubuh Andi, adalah aroma parfum yang dia berikan ke Andi beberapa waktu.lalu.
Tapi disaat bersamaan hatinya juga sedikit kurang puas, karena Andi masih terus menganggap dirinya hanya sebatas adik saja.
Dia sangat ingin Andi menganggap dirinya lebih dari sekedar seorang adik, bahkan teman pun jauh lebih baik dari adik.
Di saat Violin sedang duduk melamun, menatap keluar jendela dengan perasaan campur aduk.
Mobil yang di kendarai Andi telah memasuki area parkir, tempat acara resepsi pernikahan, yang diadakan di hotel bintang 6 yang sangat mewah dan elegan.
Semua tamu yang hadir berpakaian sangat rapi dan elegan.
Sehingga kehadiran Andi yang berpakaian layaknya pengantin pria, tidak terlalu mencolok dan mengundang perhatian.
__ADS_1
Karena tamu yang lainnya pun banyak yang berpakaian rapi seperti Andi.
Tanpa memperdulikan tatapan mata pengunjung lainnya, Andi memimpin rombongan keluarga Viona berjalan masuk kedalam ruangan perjamuan yang super mewah itu.