AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
BERTEMU LELUHUR DALAM KOMA.


__ADS_3

Begitu melihat mereka keluar dari dalam ruangan. Berry langsung tertawa sambil menutup mulutnya, hingga wajahnya menjadi merah, saat melihat tingkah laku kedua orang tua Andi


Violin langsung mencubit perutnya dengan gemas dan menegur Beery dengan tatapan mata nya.


Berry terpaksa menghentikan tawanya, sambil meringis dia berkata,


"Pantes aja urusan Andi begitu ribet, rupanya nurun dari bapak nya.."


"Cinta dua generasi yang tak putus oleh waktu..'


ucap Berry sambil tersenyum lebar.


Lalu dia buru-buru meninggalkan ruangan, sebelum Violin menumpuknya dengan pisau buah di tangannya.


Semua teman dekat Andi pada datang menjenguknya, mulai dari James Santi, Vero dan suaminya, Davina, dan Apek Keng Keng CS,


Hingga Sarah pun jauh jauh pulang dari London, hanya untuk menjenguk dan menjaga Andi selama beberapa hari, baru kembali pulang ke London meneruskan perkuliahannya.


Kedua orang tua Andi pun mulai bergiliran datang menjaga Andi,


Violin yang waktunya cukup banyak tersita.


Sehingga banyak ketinggalan pelajaran sekolah , Dia terpaksa harus kembali masuk sekolah


Bila tidak ingin di keluarkan dari sekolah tersebut.


Violin pagi pergi sekolah, hingga pulang sekolah, dia baru mampir ke RS menjaga Andi, sambil mengerjakan pr nya di sana.


Ronaldo bila ada waktu luang, dia selalu datang keruangan Andi untuk menemui Violin.


Ronaldo yang sudah mulai praktek kerja di rumah sakit ayahnya, tentu saja sangat senang.


Karena sambil kerja, hampir setiap hari, dia bisa berdekatan dengan Violin yang selalu ada di sana.


Violin juga senang dengan kehadiran Ronaldo yang cerdas, semua pr sekolahnya, menjadi lebih mudah di kerjakan.


Karena Ronaldo selalu siap membimbing dan mengajarinya.


Hingga malam secara bergantian mama papa violin, datang menggantikan Violin, agar Violin bisa pulang kerumah untuk beristirahat.


Hari hari berlalu dengan cepat, tidak terasa 3,5 bulan sudah berlalu, tapi Andi masih tidak kunjung bangun.


Andi masih belum ada perubahan dan reaksinya, dia hanya terbaring dengan sepasang mata tertutup rapat, sedangkan tubuhnya kian hari kian menyusut.


Tubuhnya yang dulu kekar berotot, kini terlihat kurus dan ringkih.


Hal ini terlihat sangat mengkhawatirkan, pagi ini karena hari Minggu tidak ada kegiatan belajar di sekolah.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali violin sudah datang membawa sup ayam obat, yang sengaja dia masak buat Andi.


Agar bisa membantu menjaga kondisi dan stamina tubuh Andi, yang semakin lama semakin mengkhawatirkan.


Dengan telaten dan hati hati Violin duduk di sebelah Andi menyuapinya, sedikit demi sedikit sesuap demi sesuap.


Meski sebagian banyak terbuang, karena mulut Andi yang selalu tertutup dan tenggorokannya tidak siap menerima makanan dari luar untuk masuk.


Tapi Violin tidak putus asa, dia tetap dengan sabar menyuapi dan mengelap sisa cairan yang kembali keluar dari sudut bibir Andi.


Sambil menyuapi Andi, Violin tak berhenti bersedih dan meneteskan air mata, melihat kondisi Andi yang semakin lama semakin menyedihkan.


Setelah semangkuk sup ayam itu habis, Violin sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Dia langsung meletakkan mangkuk sup kosong itu, di atas meja kecil di samping tempat tidur Andi.


Lalu dia sendiri berlari ke toilet untuk melepaskan kesedihannya.


Sementara itu Andi yang sedang koma, di alam bawah sadarnya.


Dia muncul di suatu tempat yang sepi tenang, di tengah hamparan rumput pendek yang luas, tak bertepi.


Saat mengedarkan pandangannya kesekeliling, sejauh mata memandang hanya ada langit cerah, dengan langit biru dan awan putih menghiasi langit.


Dengan hamparan rumput hijau menghiasai bumi.


Tapi tetap saja tidak ada sahutan selain gema suaranya sendiri, yang memantul balik.


Karena jenuh bosan tidak tahu apa yang harus di lakukan, Akhirnya Andi memutuskan berlatih ilmu warisan kakeknya.


Pada awal latihan Andi sulit fokus, karena semua kenangannya bersama Viona sering muncul.


Membuat dirinya terpaksa menghentikan latihannya, duduk termenung dengan airmata berlinang.


Setelah kondisi perasaannya sudah tenang, Andi baru kembali melanjutkan berlatih.


Tapi setelah semakin lama , Andi akhirnya mulai bisa mengendalikan perasaannya sendiri.


Andi mulai bisa mengatasi rasa kesedihan dan iba dirinya, meski begitu dia belum bisa sepenuhnya melupakan bayangan Viona dari pikirannya.


Di hari ke 7 Andi berlatih, Andi sudah berhasil menguasai hingga jurus ke 10 dari Fu Mo Se San Cang.


Di hari ke 7 di mana Andi sedang asyik berlatih seorang diri, tiba-tiba di hadapannya muncul seorang kakek beralis putih berjenggot putih.


Hingga jubah yang dia kenakan pun berwarna putih


Begitu kakek itu muncul, dia langsung menemani Andi berlatih, dan melayani semua jurus serangan Andi dan mengimbanginya.

__ADS_1


Hingga kesepuluh jurus andalan, sudah Andi kerahkan, dia tetap tidak berhasil mengalahkan kakek itu.


Sebaliknya Andi berulang kali terpental kesana sini menyambut jurus ke 11 12 dan jurus ke 13, yang kakeknya itu tunjukkan padanya.


Setelah menunjukkan cara memainkan jurus ke 11 hingga ke 13 kakek itu berkata,


"Cucu ku Andi Huo, kamu dengar baik baik, akulah Huo San leluhur mu dulu.."


"Pencipta Fu Mo Se San Cang ini.."


ucap Kakek itu sambil menatap Andi dan tersenyum ramah.


Andi sangat terkejut mendengar hal tersebut, dia buru buru berlutut di hadapan Huo San dan berkata,


"Leluhur aku yang rendah mohon petunjuk dari mu.."


,"Bangunlah tak perlu banyak peradatan, mari kita duduk dan ngobrol ngobrol."


ucap Kakek itu sambil duduk bersila di depan Andi.


Andi menganggukkan kepalanya dan ikut duduk di hadapan Huo San.


Dia duduk di depan leluhurnya, sambil menunggu arahan dan petunjuk dari leluhurnya.


Kakek itu tersenyum lembut penuh pengertian, kemudian dia berkata,


"Di antara semua keturunan ku, adalah Huo Yen Cia dan kamu yang paling berbakat."


"Sayangnya Yen Cia berumur pendek, sedangkan kamu terlalu larut dalam masa lalu, yang tidak bisa kamu lupakan.."


"Begini Andi, aku akan mengajari mu dan memberi contoh cara melatih ke 3 jurus terakhir ku.."


"Tapi sebelum kamu bisa melupakan semua masa lalu dan dirimu sendiri, kamu tidak akan bisa berhasil mewarisinya dengan sempurna..."


"Sebelum kamu berhasil melatihnya hingga sempurna, kamu tidak akan pernah bisa meninggalkan tempat ini.."


"Kita bisa bertemu di sini adalah jodoh, jodoh yang sangat jarang bisa terjadi.."


"Nah sekarang kamu perhatikan baik baik ya Andi..."


ucap Huo San sebelum tubuhnya mencelat muncul di tengah lapang.


Dari kedua telapak tangan nya yang menghadap ke atas tanah.


Angin menderu deru berputar di sekeliling tubuhnya, batu dan daun mulai terangkat di sekitarnya, mengambang di udara.


Dengan satu putaran setengah lingkaran, Huo San mendorong kedua telapak tangan nya kedepan.

__ADS_1


__ADS_2