
Violin malah terkekeh menanggapi pertanyaan Andi, tapi dia seketika terdiam saat melihat Andi mengerutkan alisnya.
Dia jadi sadar, mungkin sikapnya sedikit kelewatan, dia buru buru menarik kakinya keluar dari tempat berendam air hangat.
Berlutut di sebelah Andi dan berkata,
"Maaf ya sayang,.. jangan marah ya.."
"Aku janji memasuki akhir bulan ke 8 awal bulan 9 paling telat aku pasti akan cuti beristirahat di rumah sesuai keinginan mu.."
"Bolehkan sayang, ..?"
rengek Violin manja sambil menarik lengan Andi.
Andi menghela nafas panjang, sambil menggeleng gelengkan kepalanya dia berkata,
"Apa aku bisa menolak mu ?"
Dengan gemas Andi menggunakan ujung jarinya, menyentuh ujung hidung Violin yang mancung.
Lalu dia menggendong Violin masuk kedalam kamar.
Violin melingkarkan tangannya di leher Andi sambil tersenyum gembira.
Violin merasa sangat bahagia, Andi benar'benar sangat menyayanginya, melebihi apapun, bahkan melebihi dirinya sendiri.
Paginya saat menunggu Violin bersiap siap, sebelum mereka berangkat menuju RS.
Andi iseng menyalakan TV melihat berita, saat mendengar di Tv sedang sibuk melaporkan penyebaran virus baru di China dan India yang dengan sangat cepat memakan korban hingga jutaan orang.
Sebagian besar dari mereka yang terinfeksi virus mematikan itu rata-rata tidak ada yang selamat.
Wajah Andi langsung pucat, apalagi ditambah dengan beberapa informasi bahwa di kota J juga mulai ada beberapa orang yang terkena virus tersebut dan sedang di lakukan isolasi.
Mereka terkena virus itu, karena baru pulang dari melancong ke kedua negara yang sedang gencar-gencarnya terjangkit virus tersebut.
"Lin,..Lin,..! cepat kemari,..! kamu lihat,..!"
ucap Andi berteriak dengan cemas.
Violin yang belum sepenuhnya siap, langsung berteriak dari dalam kamar membalas teriakan Andi, dengan wajah cemberut.
"Ya,.. ! sebentar,..! ada apa sih pagi pagi udah teriak teriak !?"
"Jadi pria teh meni te sabaran pisan,..!"
balas Violin mengomel sambil berjalan keluar dari dalam kamar nya.
Andi tidak terlalu menanggapi sikap istrinya, dia sudah terbiasa.
Apalagi akhir-akhir ini, Violin semakin mendekati hari H, dia menjadi semakin tidak stabil emosinya.
Gampang marah gampang sedih dan gampang menangis.
Jadi Andi memang harus extra lebih sabar dan hati hati bersikap untuk menjaga perasaan istrinya.
"Sayang ini kemarilah, kamu lihat ini,.. ini gawat.."
ucap Andi sambil melambaikan tangannya kearah Violin dan menunjuk kearah TV.
__ADS_1
"Ada apa sih,..?"
tanya Violin dengan wajah masih cemberut berjalan menghampiri Andi.
Dia kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Andi.
Andi mengeraskan suara TV, yang sedang menyiarkan laporan berita tentang virus mematikan itu dan penyebarannya.
Violin pun ikut mendengar dan melihat kearah TV, sikapnya yang awalnya cuek kini mulai serius.
Dirinya sebagai pilar utama yang selalu berhadapan langsung dengan orang sakit, tentu paling rawan dan berbahaya bila virus itu mulai menjangkiti warga kota J.
"Udah sayang kamu langsung cuti aja, aku akan langsung hubungi pak Derry sekarang.."
Pak Derry adalah presiden direktur RS JMC tempat Violin bekerja.
Violin yang bekerja di sana setahun lebih pun, bisa di hitung dengan jari bertemu dengan orang tersebut.
Tapi Andi dengan mudahnya menyebut namanya, seperti sedang memanggil nama OB nya, begitu enteng dan ringan seolah olah mengenalnya dengan sangat baik.
Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar di benak Violin.
Dia menatap kearah Andi dengan curiga dan berkata,
"Kakak kenal dengan pak Derry presiden direktur RS JMC.?"
Mendengar pertanyaan istrinya, Andi pun sadar, dia tadi terlalu panik dan cemas tanpa sadar sudah melakukan kesalahan yang mencurigakan.
Kini dia tidak mungkin berkelit lagi, bila sekarang dia masih terus berbohong, bila nanti ketahuan, Violin pasti akan sangat marah.
Andi sambil menghela nafas panjang berkata,
"Sayang aku minta maaf atas tindakan ku yang ini, karena selama ini tidak pernah memberitahu mu..soal ini.."
tanya Violin penasaran.
Andi tersenyum kecut dan berkata,
"Kamu pernah dengar nama Jerry Huo,..?"
Sebentar, Jery Huo,.. Jerry Huo... Enggg,.. ah aku ingat Jerry Huo pemilik saham dominan RS JMC yang baru.."
"Jerry Huo,..Andi Huo,.. ehh jangan jangan kamu..?"
tanya Violin sambil menatap suaminya dengan kaget.
Andi sambil tersenyum semakin kecut, menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Kamu benar sayang, kami orang yang sama, hanya beda nama saja.."
Violin mengeleng gelengkan kepalanya dan berkata,
"Pantas saja, begitu aku hamil,.. beberapa hari kemudian dapat asisten, plus rekan kerja..'
'Saat di tanya pun jawabannya kemauan dari atas.."
"Rupanya semua ini setting an kakak.."
ucap Violin manyun.
__ADS_1
"Kenapa kakak lakukan itu ?"
"Kakak gak yakin sama Lin ? kakak gak percaya lagi sama Lin ?"
ucap Violin mulai mewek suaranya pun sedikit tercekat di tenggorokan.
Andi buru-buru maju ingin maju memeluk dan menenangkannya.
Tapi Violin menolaknya, kemudian dia berlari meninggalkan Andi kembali masuk kedalam kamar nya sambil membanting pintu.
Andi hanya bisa menghela nafas panjang, merasa serba salah.
Tidak melakukan hal itu, takut Istrinya di ganggu dan di intimidasi orang, seperti yang pernah di alami Viona.
Tapi melakukan intervensi, begitu ketahuan malah timbul masalah baru.
Hari itu seharian Violin tidak keluar kamar, dia juga batal pergi kerja.
Dia terus bersembunyi di kamarnya ngambek dengan Andi.
Andi juga tidak berani masuk kedalam kamar, asisten rumah tangga juga di larang oleh Andi untuk masuk membersihkan kamar.
Hingga malam tidak juga terlihat Violin keluar dari dalam kamar Andi pun menjadi khawatir.
Dia memberanikan diri mengetuk pintu.
"Tok,..Tok,.Tok,..!"
"Lin,.. maafkan kakak ya,..kakak masuk boleh..!?"
"Pergi,.. pergi,.. ! jangan ganggu Lin,..! Lin benci,.. benci,.. kakak jahat,..!"
teriak Violin dari dalam kamar.
Mendengar teriakkan dari dalam Andi pun menghela nafas sedih.
Lalu dia memilih duduk didepan pintu kamar sambil merangkul lutut.
Hari semakin lama semakin larut, akhirnya Andi pun tertidur di sana, berbantalkan lengangnya yang di letakkan di atas lututnya sendiri.
Hingga menjelang subuh, saat Violin terbangun dari tidur, dia merasa perutnya kelaparan.
Dia baru membuka pintu kamar nya, tapi saat ingin keluar dari kamar.
Tiba-tiba dia di kejutkan dengan ada seseorang yang duduk dan tidur di depan pintu kamarnya.
Saat Violin memastikan ternyata orang itu adalah Andi suaminya, tiba-tiba dia jadi merasa bersalah dan kasihan terhadap Andi.
"Kak,..kak,.. kenapa kakak tidur di sini .?"
ucap Violin sambil berlutut di samping Andi dan menggoyang goyang lengan Andi.
Andi membuka matanya pelan pelan, saat melihat Violin sedang berlutut di sebelah nya.
Andi pun buru-buru berkata,
"Sayang maafkan kakak ya,..?'
Violin tersenyum dan mengangguk, lalu dia berkata dengan lembut.
__ADS_1
"Bangunlah kak, ayo temani Lin kedapur.."
"Lin lapar,.. ini mungkin pengaruh baby di dalam.."