
"Untuk kebohongan ku ini, aku minta maaf pada mu Vi.."
ucap Rio dengan kepala tertunduk di penuhi rasa bersalah.
Viona mengulurkan tangannya memegang tangan Rio dengan lembut dan berkata,
"Tidak apa-apa Rio, aku adalah istri mu, uang ku adalah uang mu juga.."
"Kamu tidak perlu minta maaf,aku mengerti.. dan tidak masalah, cuma kamu harusnya bercerita dari awal pada ku."
"Bila waktu itu aku tahu, tentu kita bisa menikah dengan cara lebih sederhana dan hemat, bahkan bila cuma ke catatan sipil tanpa pesta sekalipun itu bukan masalah .."
ucap Viona penuh pengertian.
Rio mengangkat kepalanya sambil menggeleng kuat dia berkata,
"Pernikahan itu sekali seumur hidup bagi seorang wanita, aku mana boleh membuat nya seperti itu untuk mu.."
"Tentu aku harus membuat mu bangga dan menikmatinya dengan nyaman.."
Viona tersenyum dan berkata,
"Sudahlah lupakan saja, semua juga sudah berlalu yang penting adalah saat ini.."
"Saat ini aku benar-benar khawatir Rio, bila kita ngotot pindah dari sini, bagaimana kita melanjutkan hidup kita tanpa uang sepeser pun..di luar sana.."
ucap Viona serius.
Rio menepuk tangan Viona dengan lembut dan berkata,
"Kamu tenang saja Vi,.. aku kan masih punya kartu ini yang memiliki limit 1 miliar.."
"Kurasa itu akan lebih dari cukup bagi kita untuk bertahan hingga aku mendapatkan pekerjaan dan gaji.."
ucap Rio berusaha menenangkan Viona.
Viona menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak bisa Rio, bagaimana bila ayah menutup kartu kredit ini."
"Bukankah kita akan dalam masalah besar..?"
ucap Viona sambil menatap Rio dengan serius.
Rio sesaat tertegun kemudian berkata,
"Tapi saat ini kita tidak punya pilihan dan berpikir terlalu banyak, ini adalah satu satunya pilihan kita.."
Viona menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Rio, kita masih ada jalan lain, kita menghadap ke ibu, minta tolong ibu menjembatani kita, agar kita berdua bisa minta maaf pada ayah mu.."
"Sehingga kamu bisa kembali bekerja di kantor ayahmu dengan baik, kamu bisa berjanji akan bekerja dengan baik..dan tidak akan mabuk.lagi.."
"Kurasa ayah pasti akan memaafkan mu, dan memberi mu kesempatan sekali lagi.."
__ADS_1
"Orang bilang harimau ganas tapi juga tidak akan memakan putranya sendiri..."
ucap Viona antusias.
Sebaliknya Rio terlihat lesu, setelah menghela nafas berat sambil menggelengkan kepalanya dia berkata,
"Kamu cuma tahu satu tidak tahu dua Vi, sudah begini baiklah aku akan menceritakan saja semuanya pada mu.."
"Sejak kita menikah, sebenarnya ayah ku sudah membekukan jabatan ku , sebagai asisten Presdir.."
"Aku di pindahkan ke bagian Office boy, kasarnya adalah petugas bersih bersih dan tukang bikin kopi di kantor.."
"Ayah ku memberi ku syarat bila ingin posisi ku kembali, aku harus menceraikan mu dan menikahi Vivian Lim.."
"Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah.."
Viona menatap Rio dengan terbelalak, dia tidak menyangka kehadirannya di keluarga Rio.
Telah memberikan kesulitan begitu besar pada Rio, dan selama ini Rio hanya menyimpan dan menanggung nya seorang diri.
Kini Viona mulai mengerti mengapa Rio memilih mabuk dan tidak pergi bekerja.
Karena hanya dengan mabuklah Rio bisa mengurangi perasaan tertekan nya.
Sedangkan tidak pergi bekerja, itu pasti karena Rio merasa pergi atau tidak pergi tidak ada bedanya.
Karena kehadirannya di sana hanya untuk di jadikan lelucon bagi bawahan nya dulu.
Viona jadi merasa bersalah, telah menduga jelek terhadap Rio yang telah banyak berkorban dan menanggung semua ini seorang diri.
Viona menubruk kedalam pelukan Rio dan menangis tersedu-sedu di sana dengan sedih.
"Sudahlah Vi Jangan menangis lagi, ini makanya aku dari awal tidak ingin kamu tahu.."
"Yang paling ku takutkan adalah kamu akan bersedih seperti ini.."
"Kamu tidak pikirkan diri mu, setidaknya kamu harus pikirkan kesehatan calon bayi kita.."
ucap Rio sambil membelai lembut kepala Viona.
Mendengar ucapan Rio yang penuh perhatian, Viona malah semakin sedih terharu dan merasa bersalah.
Sehingga tangisan nya semakin kencang dan kuat.
Melihat hal ini, Rio pun tidak berani banyak bicara lagi, dia kini lebih memilih membelai punggung istrinya dengan lembut.
Setelah puas melepaskan perasaan sedihnya, Viona pun kembali berkata dengan suara lirih,
"Rio apakah selain pilihan itu, tidak ada peluang negosiasi yang lainnya, yang di tawarkan oleh ayah..?"
Rio menghela nafas panjang kemudian berkata,
"Ada sih satu lagi, tapi itu adalah hal yang mustahil bisa ku lakukan.."
"Apa itu,? katakan saja siapa tahu aku bisa membantu mu..?"
__ADS_1
Rio terdiam cukup lama kemudian berkata,
"Sudahlah lupakan saja.. tidak perlu di bahas itu adalah hal mustahil.."
"Aku tidak akan pernah bisa melibatkan mu dalam hal ini.."
"Lebih baik kita bersiap siap dari sekarang, agar besok pagi kita lebih mudah, pergi dari sini.."
Viona meski sangat penasaran, tapi dia tidak ingin menyulitkan Rio.
Dia mengangguk menuruti permintaan Rio, tapi dia sudah bertekad, bila Rio sudah tidur.
Dia ingin pergi sendiri menemui mertua nya dan menanyakan apa yang dia inginkan sebenarnya dari Rio, selain memaksanya menikahi Vivian Lim..
Viona meringkas semua barang-barang mereka kedalam dua buah tas.
Saat Viona selesai, dia melihat Rio sudah tertidur pulas.
Melihat Rio sudah tertidur pulas, Viona pun keluar dari dalam kamar nya.
Viona berjalan menuju ruang kerja mertua nya, yang biasanya dia tahu jam jam segini mertua nya itu pasti sedang berada di sana.
Benar saja sesuai dengan dugaan Viona, mertuanya itu benar masih sedang berada di sana.
Hal ini bisa terlihat dari pintu yang setengah terbuka, masih ada cahaya terang benderang di dalam.
Setelah berdiri ragu sejenak di depan pintu, akhirnya Viona mengeraskan hati nya, untuk mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Tok..tok...tok...!"
terdengar pintu di ketuk dari luar.
"Ya,.. siapa di sana,..!? masuk saja..!"
terdengar suara sahutan Ferdinand Chu dari dalam.
"Saya ayah.."
ucap Viona sambil melangkah masuk kedalam ruangan.
Ferdinand menghentikan kegiatannya, dia mengangkat kepalanya, menatap kearah Viona dengan tajam dan berkata,
"Apa yang kamu lakukan di sini ? seharusnya kamu sudah tahu dari Rio kan ?"
"kenapa tidak pergi bersiap-siap malah datang kemari..?"
tanya Ferdinand Chu dengan suara dingin dan sinis.
"Ayah aku datang kemari tentu semua sudah siap, selain ingin berpamit secara pribadi.."
"Aku juga ingin menanyakan satu hal ke ayah ."
"Berpamit,.. kurasa itu tidak perlu, dan aku tidak berani menerima nya, Nona besar Lin.."
"Nah sekarang apa yang ingin kamu ketahui nona besar Lin..?"
__ADS_1
tanya Ferdinand Chu menyindir dengan sinis.