
"Kak kamu kenapa ?"
tanya Nicole kaget melihat penampilan Andi.
Andi tersenyum pahit dan berkata,
"Tidak apa-apa, bukan masalah,.. ayo kita pergi cari makan.."
Tanpa Andi bercerita pun Nicole juga sudah tahu, pasti karena dirinya tidak masuk kerja.
Sehingga pekerjaan Andi jadi numpuk keteteran hingga Andi terlihat seperti sekarang ini.
Nicole menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak kak biar aku bantu bentar.."
"Sebentar aja,.."
Nicole mengeluarkan sebuah pisau cukur otomatis, lalu dengan hati-hati dia menggosok gosokkan pisau cukur otomatis itu di sekitar wajah dagu, dan area di bawah hidung Andi.
Setelah bersih, Nicole baru membubuhkan pelembab dingin disekitar area yang habis di cukur tadi.
"Kak berbaringlah sebentar di sini.."
ucap Nicole.
Lalu dia menggunakan peralatan kosmetik untuk menghilangkan kantung mata lelah.
Dia membantu menempelkan dua bulatan kapas tipis kecil dingin yang sudah di beri obat untuk mengompres disekitar mata Andi yang hitam.
"Kakak berbaring rileks aja, nanti bila sudah sampai aku akan bangunin kakak.."
ucap Nicole lembut sambil menatap Andi dengan tatapan kasihan.
Andi tersenyum dan berkata,
"Terimakasih ya Nicole, kamu maafin kakak ya..kakak hanya.."
"Cukup kak, tak perlu di bicarakan lagi, Nicole mengerti.."
"Kakak tenang saja, Nicole sudah bisa menerima kenyataan.."
ucap Nicole sambil menyalakan mobilnya.
Sesat kemudian dengan santai mobil Nicole sudah meluncur kearah Food Street yang menjadi tempat favoritnya, bila sedang lembur bersama Andi dulu.
Setelah mendapatkan perawatan Nicole dan rileksasi dari obat yang Nicole berikan.
Andi merasa area sekitar matanya menjadi jauh lebih ringan dan nyaman.
"Kak sudah sampai,.."
ucap Nicole sambil menggoyang pundak Andi.
Andi pun buru-buru bangun dari sandaran nya, lalu melepaskan dua kapas tipis yang di gunakan untuk mengompres matanya tadi.
__ADS_1
Andi merasa matanya kini sangat segar dan nyaman setelah mendapat perawatan dari Nicole.
Andi segera turun dari mobil, mengiringi Nicole menuju sebuah rumah makan pinggir jalan yang menyediakan Huo Kuo favorit Nicole.
Begitu melihat kedatangan mereka berdua, pemilik tempat dan pelayan di sana yang sudah mengerti dengan kesukaan Andi dan Nicole.
Mereka langsung bergerak cepat menyiapkan semua jenis sayuran daging sapi, bakso, seafood kegemaran mereka berdua di atas meja.
Dan Sebuah panci kecil berisi Sup panas saripati ayam kampung, sebagai tempat buat Andi dan Nicole mencelupkan daging sayur dan bakso yang ingin mereka makan.
Sambil menunggu makan yang mereka celup matang, Andi mengulurkan tangannya kehadapan Nicole dan berkata,
"Nicole selamat ya.."
"Selamat buat apa ?"
tanya Nicole sambil tersenyum.
Lalu dia menyambungnya sambil tersenyum sedih.
"Selamat atas kehilangan calon suami terbaik kali ya..?"
Lalu Nicole menyambar botol bir di sebelahnya dan meminumnya.
Andi bergerak menahan tangan Nicole dan berkata,
"Cukup Nicole nanti kamu mabuk.."
"Nicole dengarkan aku, bukan itu maksud ku, maksudku adalah, selamat kamu telah naik jabatan ke pusat menjadi Asisten presiden direktur Group Wang."
Nicole menuruti saran Andi cuma minum sedikit, lalu dia menatap Andi dan berkata,
"Asal kamu tahu jabatan ini sudah dari 2 tahun yang lalu menanti ku kesana.."
"Sejak pabrik pertama kita berdiri, ayah sudah meminta ku menempati posisi itu, hanya saja aku selalu menolaknya.."
ucap Nicole sambil menundukkan kepalanya, tidak ingin Andi melihat airmatanya yang jatuh.
Mereka berdua larut dalam keheningan, Andi sendiri juga tidak tahu mau bicara apa.
Meski merasa kasihan dan bersimpati, tapi Andi tidak bisa, dan Andi tahu dengan pasti perasaannya sendiri.
Bila dia menerima Nicole masuk dalam kehidupannya, dia hanya akan membawa kesedihan dan kesengsaraan buat Nicole.
Karena hati dan perasaan nya, selamanya tidak bisa berpaling dari Violin.
Andi yang lupa ingatan tidak sadar bahwa yang membuat perasaan nya terhadap Violin begitu dalam.
Sebenarnya bukanlah Violin tapi itu adalah perasaan alam bawah sadarnya yang tidak pernah bisa melupakan Viona dari kehidupannya.
Meski dia sedang kehilangan ingatan sekalipun, perasaan itu tetap melekat, Violin hanya obyek pengganti karena berwajah mirip dengan Viona.
Nicole menghela nafas panjang, sambil menghapus dua butir air mata yang masih menggantung.
Lalu dia memaksakan diri untuk Tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Sudahlah kak, mari kita lupakan saja semuanya, ayo kita rayakan makan malam perpisahan kita ini.."
"Setelah malam ini, mungkin kita akan semakin jarang bertemu, jagalah diri kakak baik'baik.."
ucap Violin sambil mengangkat botol bir di tangan nya untuk adu Toss dengan Andi.
"Tringgg..!!"
terdengar botol beradu.
Andi membalas dengan membenturkan botolnya kearah botol Nicole, sebelum dia juga ikut minum seteguk.
Begitu alkohol mulai naik sambil makan dan minum mengobrol dengan lepas.
Andi dan Nicole sudah melupakan semua kecanggungan dan perasaan sedih dan terluka di hati masing masing.
Nicole terluka karena Andi, sedangkan Andi terluka karena memikirkan Violin.
Kedua orang itu makan minum sambil tertawa ceria dari dua botol menjadi 4 botol hingga akhirnya meja mereka berdua penuh dengan botol.
Omongan mereka pun mulai ngelantur, hingga akhirnya Nicole jatuh tertelungkup di atas meja, sambil mengoceh tidak karuan.
Andi sendiri yang juga mulai terpengaruh hawa mabuk, saat melihat Nicole sudah tidur tertelungkup diatas meja.
Andi pun menggoyangkan kepalanya dan memukul mukul kepalanya sendiri agar pandangan matanya yang mulai kabur menjadi lebih jelas.
Andi kemudian berdiri dengan terhuyung huyung, setelah membayar semua tagihan.
Andi pun memapah Nicole kembali ke mobilnya, kedua orang yang berjalan dengan terhuyung-huyung itu ditemani, oleh dua pelayan rumah makan yang mengantar mereka hingga ke mobil.
Salah satu pelayan berkata,
"Tuan Anda sedang mabuk, menyetir sendiri dengan keadaan seperti ini sangat lah berbahaya.."
"Bagaimana bila kami bantu panggilkan taksi untuk mengantar tuan pulang..?"
Andi menggoyangkan tangannya kedepan dan berkata,
"Tidak usah, sebentar lagi aku juga akan pulih.."
"Terimakasih, maaf telah merepotkan kalian berdua.."
Kedua pelayan itu saling pandang sejenak kemudian berkata,
"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu, hati hati di jalan.."
Andi mengangguk, lalu dia membuka pintu mobil membantu memapah Nicole duduk bersandar di jok kursi mobil.
Andi sendiri tidak langsung masuk kedalam mobil, dia berdiri bersandaran di samping mobil.
Mengerahkan tenaga sakti nya, untuk memunahkan kandungan alkohol yang ada di dalam tubuhnya.
Perlahan lahan cairan yang mengandung alkohol memabukkan berhasil Andi paksa keluar lewat ujung jari tangannya.
Setelah cairan itu keluar, perlahan-lahan Andi pun pulih kembali kesadarannya.
__ADS_1
Kondisi Nicole yang seperti itu, tidak memungkinkan Andi, untuk mengantarnya pulang kerumah nya.
Andi akhirnya memutuskan membawa Nicole kembali ke gedung kantor, yang merangkap fungsi sebagai tempat tinggal nya.