
"Lin kamu sudah yakin ingin menyerahkan surat pengunduran diri mu..?"
tanya Andi saat dia dan Violin tiba di parkiran apartemen tempat tinggal Andi dan Violin dulu.
Violin mengangguk tegas dan berkata,
"Ya kak,.. setelah kejadian kemaren, Violin merasa kurang nyaman lagi bila harus bekerja sama dengan prof Peter dan DoDo."
"Mungkin ini juga cara terbaik, agar DoDo bisa segera move on dari Lin.."
Andi mengangguk dan berkata,
"Baiklah, aku akan temani kamu kesana,.."
Violin mengangguk sambil tersenyum, dan menyentuh wajah Andi dengan lembut.
Setelah itu dia membuka pintu mobil turun dari mobil Andi, lalu berjalan menuju mobil Maybach inventaris dari RS untuknya.
Tak lama kemudian terlihat dua mobil bergerak meninggalkan apartemen lama Andi dan Violin.
Saat tiba di rumah sakit, Andi memarkirkan mobilnya di lapangan parkir yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Sedangkan Violin memarkirkan mobilnya di depan lobby rumah sakit yang menjadi tempat parkir spesial nya.
Violin berdiri di depan lobby menunggu hingga Andi tiba, mereka berdua baru berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, langsung naik lift menuju ruang direktur.
Di sepanjang jalan semua orang yang bekerja di rumah sakit selalu menganggukkan kepalanya menyapa ramah ke Violin.
Tapi setelah lewat berpapasan mereka semua akan berbisik bisik bergosip dengan suara pelan.
Melihat situasi ini, Andi pun jadi maklum, mengapa istrinya ingin segera meninggalkan RS ini..
Karena tekanan yang datang dari luar dan dalam sangat besar, daripada nanti istrinya stress.
Paling tepat memang harus segera keluar dari sini..
Violin mengetuk pintu ruangan Prof Peter yang tertutup rapat, setelah dia tadi sempat berbicara dengan sekretaris prof Peter, memastikan prof Peter memang sedang berada di ruangan nya.
Sekretaris prof Peter yang sudah hapal dengan Violin, bila ingin bertemu prof Peter dia tidak perlu buat janji.
Bisa langsung masuk menemuinya, jadi dia juga tidak berusaha menghalangi dan banyak bertanya.
"Tok,..tok,..tok,..!"
"Ya masuk,..,!"
jawab suara khas prof Peter dari dalam ruangan.
Violin pun membuka pintu ruangan, melangkah masuk kedalam disusul oleh Andi dari belakang nya.
"Selamat pagi prof,..maaf menganggu waktu anda.."
ucap Violin sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ohh nak Violin,.. silahkan duduk,..ada yang bisa saya bantu nak Violin..?"
ucap Prof Peter berusaha tersenyum.
Tapi dari wajahnya jelas terlihat dia agak kecewa.
Andi yang tidak di persilahkan duduk, dia pun memilih berdiri diam di belakang Violin.
Violin duduk tenang di depan prof Peter, lalu dia membuka tas kecilnya mengeluarkan sebuah amplop berisi surat pengunduran dirinya, meletakkan diatas meja, kemudian perlahan-lahan mendorongnya kehadapan prof Peter.
Prof Peter melihat nya sekilas lalu menatap Violin dan berkata,
"Apa ini Nak Violin ?"
"Ini surat pengajuan pengunduran diri saya prof,.. "
"Maksud kedatangan Violin hari ini selain mau mengantar surat ini.."
"Violin juga ingin mengucapkan rasa terimakasih Violin terhadap prof, yang selama ini telah banyak membantu dan membimbing Violin di rumah sakit ini.."
"Juga Violin ingin mengembalikan fasilitas ini.."
ucap Violin sambil meletakkan kunci mobil dan surat surat kendaraan nya.
Prof Peter membuka kacamata dan mengelapnya, karena sedikit berembun, matanya sedikit basah.
Setelah menghapusnya dengan sapu tangan dengan suara serak dua berkata,
"Apa kamu sudah pikirkan dengan matang,..?"
"Aku jelas tidak akan mencampur adukkan nya.."
ucap prof Peter pelan sambil menatap kearah Violin.
Violin yang sebenarnya juga merasa bersalah dan sedikit terharu dengan ucapan Prof Peter.
Dia berusaha tersenyum dan menghapus dua butir airmatanya yang runtuh, setelah itu baru berkata,
"Sekali lagi Lin minta maaf Prof, tapi keputusan Lin sudah bulat .."
Prof Peter mengangguk, lalu sambil tersenyum sedih, dia mengulurkan tangannya kearah Violin. dan berkata,
"Baiklah,.. jaga diri mu,.. sukses selalu, ..ada waktu mainlah kemari."
"Bila ada kesulitan, pintu RS ini selalu terbuka untuk mu.."
Violin pun menyambut uluran tangan prof Peter menyalaminya dengan penuh haru, dan berkata,
"Maafkan Lin yang telah mengecewakan harapan prof dan semuanya,.."
"Prof juga jaga diri, sampaikan salam dan terima kasih ku buat ibu dan DoDo,.."
"Lin permisi dulu.."
__ADS_1
ucap Violin sambil menahan Isak.
Setelah itu dia pun berdiri membalikkan badannya menutupi mulutnya sendiri, berusaha menahan suara tangisnya.
Violin berjalan masuk kedalam pelukan Andi, Andi mengangguk kecil kearah prof Peter, yang di balas dengan anggukan senyum pahit.
Tanpa berkata apapun, Andi membimbing Violin yang sedang berusaha menahan suara Isak sedih meninggalkan ruangan kerja prof Peter..
Setelah Violin dan Andi pergi, prof Peter terlihat duduk termenung sedih.
Dalam waktu sesaat saja, wajahnya terlihat sangat lelah kurang bergairah, dan jauh lebih tua banyak ketimbang biasanya.
Sambil menghela nafas panjang dan sedih dia berkata,
"Semoga kamu lebih sukses dan jauh lebih bahagia lagi anak baik.."
"Andi sebaiknya kamu selalu ingat dengan semua pengorbanan nya untuk mu, jagalah dia dengan baik dan sayangi dia.."
"Atau aku tidak akan pernah memaafkan mu.."
ucap Prof Peter sambil menutupi mukanya sendiri sambil menangis sedih.
Dia sangat menyayangi dan mengangumi Violin layaknya anak sendiri.
Sungguh berat baginya harus menerima kenyataan seperti hari ini.
Violin setelah keluar dari dalam ruangan Prof Peter, meledak lah tangisannya, tak terbendung lagi dalam dekapan Andi.
Violin juga sangat sedih dan merasa bersalah, tapi dia bisa apa biar harus kehilangan seluruh dunia, dia juga tidak mau kehilangan Andi.
Tidak ada yang lebih penting dalam hidupnya ini selain bisa menjadi pendamping Andi.
Dari awal hingga akhir yang dia lakukan semua hanya untuk memenuhi harapan Andi padanya.
Andi tidak berusaha menghentikan tangisan sedih Violin, dia tahu mungkin ini adalah salah satu cara pelepasan terbaik bagi beban di hati Violin.
Andi menunggu hingga tangisan Violin mereda, dia baru membimbing Violin meninggalkan tempat itu.
"Kak aku mau ambil beberapa barang pribadi milik ku dulu, di ruang kerja ku.."
ucap Violin pelan saat mereka memasuki lift.
Andi mengangguk lalu menekan nomor lantai di mana Violin biasa praktek.
Begitu pintu lift terbuka, mereka berdua langsung berjalan menuju ruang praktek Violin yang masih sepi, karena hari masih pagi.
Bahkan asisten Violin pun belum tiba di sana.
Violin menggunakan kunci serep miliknya untuk membuka pintu ruangan yang terkunci.
Violin menggunakan sebuah kotak membereskan satu persatu semua barang pribadi nya kedalam kotak tersebut.
Sebagian besar barang pribadi Violin Andi lihat adalah foto foto Violin sedang bersama dirinya.
__ADS_1
Hanya ada sebuah foto yang kini sedang di pegang di tangan Violin, bukan merupakan foto mereka berdua.