
Violin menatap pria didalam foto tersebut dengan mata sedikit berkaca kaca, dan di penuhi rasa bersalah.
Violin sambil menatap foto di dalam bingkai yang berada ditangannya, bergumam kecil,
"Maafkan aku Do,..kamu jaga lah diri mu baik baik,.."
ucap Violin dengan nada sedih.
Setelah itu Violin memasukkan bingkai foto tersebut kedalam laci meja dan menutupnya.
"Maaf ya kak, aku,.."
Andi tersenyum lembut dan berkata,
"Tidak apa-apa sayang, aku mengerti,.."
"Ada yang bisa ku bantu,..?"
tanya Andi sambil tersenyum penuh pengertian.
Violin menggeleng kan kepalanya dan berkata,
"Tidak usah hanya kotak ini saja aku bisa sendiri ."
"Makasih ya kak, pengertiannya.."
ucap Violin sambil menghapus dua butir airmata nya yang akhirnya runtuh kebawah.
Andi tersenyum dan berkata,
"Bukan masalah, ayo kita pergi dari sini ."
Violin mengangguk, dia lalu dengan berat hati menyentuh meja kursi dan rak yang ada di dekatnya.
Setelah itu dia pun menyusul Andi meninggalkan ruang kerjanya.
Andi merangkul Violin yang sedang menggendong kotak kecil meninggalkan tempat tersebut.
Saat tiba di loby, sebelum meninggalkan RS, Violin sambil tersenyum sedih menyapa satpam penjaga yang sudah lama di kenalnya itu.
"Pak Arya saya pamit ya, ini hari terakhir saya di sini, ini ada sedikit barang ku.."
"Pak Arya boleh bantu cek, agar barang barang RS tidak terbawa oleh ku.."
Satpam yang di panggil pak Arya itu tersenyum dan berkata,
"Tidak perlu Bu Dokter, silahkan saja.."
"Bila ada waktu mainlah kemari, jangan lupa dengan kami kami.."
Violin tersenyum terharu dan menganggukkan kepalanya, dan berkata,
"Siap pak Arya, mari pak Arya saya permisi dulu.."
"Silahkan Bu dokter,.."
jawab pak Arya sopan.
Violin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Saat violin dan Andi duduk dalam mobil, dia sambil tersenyum bahagia menoleh kearah Andi dan berkata,
__ADS_1
"Sekarang aku bebas,.. resmi jadi pengangguran,.."
"Kakak mau ajak aku kemana ?"
Andi hanya tersenyum, sambil membantu violin memasang sabuk pengaman Andi berkata,
"Bagaimana bila kita pergi ke showroom mobil melihat lihat mobil yang cocok untuk mu..?"
Violin tersenyum lebar dan berkata,
"Kenapa ? kakak mau belikan untuk ku..?"
Andi mengangguk dan berkata,
"Benar, kamu perlu aktivitas kendaraan akan sangat membantu mu mendukung mu beraktivitas.."
"Kebetulan sedang ada pameran otomotif di JCC kita bisa melihat kesana bagaimana ?"
tanya Violin penuh semangat.
Andi mengangguk dan berkata,
"Boleh saja, kamu jadi penunjuk jalan ok..?"
Violin tersenyum dan berkata,
"Kakak ini punya mobil gak ngerti fasilitas,.."
Setelah berkata, dia menyalakan layar di dashboard mobil Andi lalu menyetel dan mengutak atiknya. sebentar.
Memencet tombol kesana kemari, terakhir dia memasukkan kode tujuan yang diinginkan.
Andi yang tidak paham apa fungsi tombol itu selama ini hanya melihatnya dengan heran.
"Lepaskan tangan kak dari stir kak,.."
ucap Violin.
Andi mengikuti arahan violin.
"Kakinya juga kak jangan sentuh apapun,.."
Andi kembali menurut apa kata Violin.
Tak lama kemudian mobil Andi pun mulai bergerak sendiri meninggalkan lapangan parkir RSM menuju jalan raya.
"Ini,..?"
tanya Andi heran bercampur kaget..
Violin sambil menahan senyum berkata,
"Ini adalah kecanggihan terbaru, kebetulan mobil kakak sudah mendukung untuk fitur ini.."
"Kalau mobil ku kemaren belum ada, harus seri terbaru tahun ini baru ada.."
ucap Violin memberi penjelasan.
Andi menatap heran kearah Violin dan berkata,
"Sayang kamu ini SPG mobil atau Dokter sih, kok bisa tahu begitu banyak..?"
__ADS_1
Violin sambil tertawa berkata,
"Kakak ini ada ada saja, aku tentu Dokter lah kak,.."
"Aku tahu semua ini, karena dapat penjelasan dari SPG mobil saat aku berkunjung ke acara pameran mobil tahun lalu.."
Andi tersenyum dan memberikan tanda jempol kearah Violin.
Dengan fitur ini, Andi dan violin jadi bisa mengobrol santai, membiarkan mobil itu mengatur dan bergerak sendiri secara otomatis sesuai lokasi yang sudah di setting oleh Violin.
Hingga tiba di halaman parkir JCC, mobil baru berhenti otomatis, seterusnya Violin mematikan tombol otomatis mengembalikan ke mode manual.
Andi baru melanjutkan memasuki area parkir, mencari tempat parkir strategis untuk memarkirkan mobilnya.
Tak lama kemudian Andi dan Violin memasuki gedung tempat diadakannya acara pameran otomotif tersebut.
Begitu masuk kedalam gedung yang sudah di desain dengan mewah oleh setiap stand stand pameran berbagai merk pabrikan mobil.
Di dalam gedung itu terlihat belum begitu ramai, pengunjung yang datang belum begitu banyak, sebagian besar di dominasi oleh SPG cantik berpakaian Sexy.
Dan pria pria muda salesman yang berpakaian rapi menjaga stand stand pameran yang ada di sana.
Situasi yang masih sepi terjadi karena hari memang masih terhitung pagi, jam jam ramai biasanya di mulai jam 10 keatas.
Sedangkan Andi dan Violin tiba di lokasi baru sekitar jam 9 pagi.
Ini adalah jam jam para karyawan stand bersiap siap dan baru mulai di buka masing masing standnya.
Tapi Andi justru lebih menyukai situasi yang belum begitu ramai seperti saat ini.
Bagi Andi situasi begini malah lebih cocok untuk bertanya jawab dan mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari salesman mobil yang berada di tempat tersebut.
Andi hanya mengikuti arah langkah Violin yang menggandeng tangannya.
Andi membiarkan Violin memilih sendiri dengan puas.
Dia tidak ingin campur tangan, kecuali nanti di bagian transaksi pembayaran.
Beberapa SPG cantik yang sedang berkumpul ngobrol di sana, diam diam pada mencuri lihat kearah Andi dengan tatapan mata penuh kagum dan agak sedikit penasaran.
Tapi kehadiran Violin yang selalu menggandeng mesra tangan Andi, membuat mereka tidak ada yang berani menghampiri Andi.
Mereka hanya bisa diam diam menatap kearah mereka berdua dengan tatapan mata sedikit iri.
Violin berkeliling melihat lihat berbagai model mobil yang dia inginkan.
Tapi setelah berkeliling cukup lama akhirnya dia hanya tertarik dengan dua stand.
Stand pertama adalah stand mobil Maybach Mercedes, yang merupakan mobil yang biasa dia gunakan, cuma bedanya yang ini spesifikasi dan tahun keluarannya lebih baru, fitur canggihnya jauh lebih banyak.
Harganya juga pasti jauh lebih tinggi.
Stand kedua yang membuat Violin cukup tertarik adalah stand mobil Audi yang desain mobilnya sangat cantik dan halus.
Sedangkan harganya jelas jauh lebih miring ketimbang Maybach.
Terkecuali yang seri mobil sports nya, harganya malah jauh lebih tinggi.
Tapi Violin yang cuma membutuhkannya buat aktivitas sehari-hari, dia tidak memerlukan mobil sports yang bumper bagian bawahnya terlalu dekat dengan jalan.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya Violin memutuskan memilih mobil Audi seri A7, yang desainnya cukup cantik harganya juga jauh lebih rendah ketimbang mobil Maybach.
__ADS_1