AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KADO DARI VIONA


__ADS_3

"Ya sudah kita lupakan saja, Andi dapat dari mana uangnya."


"Yang penting saat ini adalah kita bereskan dulu masalah mu dengan Rio.."


"Bila sudah beres baru kita tanyakan ke Andi juga tidak akan terlambat.."


"Aku yakin pada Andi, dia tidak akan gegabah mencari uang dengan cara gak benar.."


ucap Santi.


"Sekarang kamu ada di mana ? kira kira jam berapa kamu mau pergi menemuinya ? letaknya di mana ?"


"Atau begini saja, kamu langsung ke rumah ku saja, tar kita berangkat bersama-sama saja."


ucap Santi cepat.


"Aku kerumah mu sekarang, ganggu tidak, tar aku ganggu acara pengantin baru lagi ?"


ucap Viona setengah bercanda setengah serius.


Karena dia agak sungkan dan ngeri dengan James yang dingin, terutama sepasang matanya yang mengerikan.


Seperti setiap saat bisa menghabisi siapa pun dengan sangat mudah dan tanpa perasaan bila terganggu.


Santi tertawa dan berkata,


"Kamu langsung kemari aja, rumah ku rumah mu kamu takut apa..?"


"Tenang saja, suami ku udah jinak sekarang, tuh lihat dia sedang apa.."


ucap Santi sambil mengirim gambar foto di mana James sedang jemur CD dan penutup dadanya.


Viona langsung tertawa ngakak saat melihatnya, tapi sesaat kemudian Santi sudah menghapusnya dan berkata,


"Cukup kamu saja yang lihat, jangan sampe jadi konsumsi publik bisa gawat nanti."


"Nama baik grup KL bisa tercemar.."


ucap Santi sambil ikut tertawa.


"Ya sudah ini alamat ku, kamu cepetan kemari ya.."


"Jangan pake lama, atau aku suruh dia menjemput mu.."


ucap Santi sambil tertawa.


"No...no..no..cukup, aku bisa sendiri kesana, jangan repotkan patung es mu."


"Biarkan dia selesaikan tugas mulia nya, tadi kulihat dia mengangkat angkat CD mu seperti hendak menciumnya."


"Mungkin dia belum puas menciumi nya semalaman.."


ucap Viona sambil tertawa ngakak.


"Awas loe ya Vi..ku beritahukan pada nya baru tahu rasa loe ya.."


ucap Santi cemberut.


"Ampun..ampun...ampun..nyerah deh, aku minta maaf ok,"

__ADS_1


ucap Viona sambil menahan tawa.


"Udah cepetan kemari, jangan bawel .."


ucap Santi sedikit kesal karena Viona menertawai suaminya dan dirinya.


"Ya...ya...tuan putri ini juga sedang meluncur ke sana.."


ucap Viona yang sudah memberikan alamatnya ke supir perusahaan, yang di tugaskan oleh atasannya untuk mengantarnya.


Setelah menutup telponnya, Santi buru-buru berlari menyusul kebelakang, memeluk James dan berkata.


"Sayang Viona katanya mau kemari, dia mau mengajak ku untuk menemaninya menemui Rio, untuk mengakhiri kontrak pacaran mereka.."


"Aku boleh ya pergi menemaninya, kasihan Viona bila pergi sendirian..aku takut Rio melakukan sesuatu padanya bila dia sendirian.."


ucap Santi menatap suaminya penuh permohonan.


James menoleh menatap istrinya kemudian berkata,


"Kamu mau lakukan apapun terserah padamu, aku pasti akan mendukung mu."


"Tapi aku harus ikut kesana, menjaga kalian.."


"Bila dia berani macam-macam, aku mau si Ferdinand menjadi si rambut putih mengantar si rambut hitam ke pemakaman.."


Santi sedikit terkesiap mendengar ucapan James yang begitu dingin .


"Sayang ingat janji mu dulu pada ku, kamu tidak boleh..jangan menakuti ku,..aku takut.."


ucap Santi menatap James dengan cemas.


"Baiklah sayang aku janji pada mu.."


"Ayo naiklah, yuk kita kedalam.."


ucap James sambil berjongkok memunggungi Santi.


Santi tentu mengerti maksud suaminya, dia segera naik ke punggung James dan melingkarkan tangannya di leher James sambil tertawa senang, saat James mengangkatnya, lalu melangkah masuk kedalam rumah.


James mengangkat dan menurunkan Santi dengan hati-hati di kursi sofa yang empuk.


Rumah itu memang sederhana, tapi interior dan perlengkapan di dalam rumah, yang mereka pesan secara online, tidak ada yang murah.


Semua adalah barang berkualitas dan termasuk cukup mewah, jadi sangat nyaman saat di gunakan.


Setelah menurunkan Santi dikursi sofa, James memberikan remote TV dan pendingin ruangan ke Santi dan berkata,


"Kamu bersantailah nonton TV sambil nunggu Viona."


"Aku mau masak untuk makan siang kita.."


"Makasih ya sayang.."


ucap Santi sambil tertawa gembira.


James menyentuh pipi istrinya dengan lembut dan berkata,


"Asalkan kamu bahagia, aku pun turut senang."

__ADS_1


James terlihat mulai sibuk di dapur, dulu sewaktu di luar negeri dia juga pernah menjadi koki.


Sehingga kemampuan masaknya tidak berada di bawah Andi, hanya perbedaannya Andi mahir dengan masakan timur, sedang kan James mahir di masakan Western.


Selagi James sedang sibuk di dapur, tiba-tiba bell rumah mereka berbunyi.


Santi langsung berdiri dari Sofanya pergi membuka pintu, sedangkan James menghentikan kegiatannya, mengintip dari jendela dapur.


Saat di lihatnya yang datang adalah Viona, dia pun tersenyum lega.


Dan kembali meneruskan kegiatan masaknya.


Dia sengaja membiarkan Viona dan Santi yang sudah cukup lama tidak bertemu untuk mengobrol dengan puas.


"Ini kado pernikahan mu, coba kamu lihat apakah kamu menyukainya..?"


ucap Viona sambil memberikan sebuah kotak yang di bungkus dengan rapi, menggunakan kertas kado.


Santi menerimanya dengan gembira dan berkata,


"Makasih ya Vi..."


Santi dengan penuh semangat membuka pembungkus kadonya, lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam bungkusan kertas.


Saat kotak di buka di dalam nya ada sepasang patung boneka anak kecil yang lucu dan imut berpakaian pengantin sedang saling berciuman.


Di mana patung Pria terlihat sedang menggendong pasangannya dengan bridal style.


Santi sangat gembira dia segera mengeluarkan patung keramik tersebut dari dalam kotak, lalu dia memajangnya di dalam lemari kaca dengan hati-hati.


Santi terus mengamati patung tersebut sambil tersenyum bahagia dan berkata.


"Vi .. kamu pandai sekali memilih, patung ini sangat lucu dan cantik, aku sangat menyukainya makasih ya..Vi..."


Santi menatap kearah Viona dengan penuh haru, lalu dia memeluk sahabatnya itu, tanpa dapat di tahan lagi air mata pun mulai membasahi sepasang pipinya yang halus.


Viona membalas pelukan Santi dengan penuh haru dan berkata,


"Selamat ya San.aku turut bahagia untukmu..."


Santi mengangguk kecil sambil memeluk Viona.


Sesaat kemudian setelah perasaan keduanya sudah lebih tenang mereka mulai ngobrol santai sambil tertawa-tawa.


James yang berpendengaran extra tajam, tentu bisa mendengarkan semua pembicaraan mereka dengan jelas.


Bahkan saat sedang menjemur pakaian di belakang pun, dia mendengar semua pembicaraan Santi dan Viona.


Dia hanya pura-pura tidak tahu saja, padahal dia tahu semua.


Selesai masak James menghampiri kedua nya dan berkata,


"Sayang makanan sudah siap ajaklah Viona pergi makan."


"Kalian tak perlu menunggu ku, aku mau mandi, setelah itu mau kerjakan tugas kantor di kamar."


"Nanti aku makan belakangan, bila tugas kantor dah selesai.."


ucap James beralasan..

__ADS_1


__ADS_2