
"Maaf nona Violin bila yang tua ini terlalu kepo.."
ucap Prof Peter sesaat kemudian sambil tersenyum tidak enak hati.
Violin mengangguk kecil dan membalas menatap prof Peter Ho, tanpa rasa takut sedikitpun.
Prof Peter Ho berdehem sejenak, baru berkata, dengan wajah sedikit canggung,
"Nona Violin maaf, kalau boleh saya tahu hubungan anda dan pasien bernama Andi itu..?"
Violin terdiam sejenak, tapi sesaat kemudian dia pun berkata,
"Begini Prof, sebenarnya saya tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan Prof ini.."
"Tapi mengingat pertemanan saya dan Dodo, yang sudah sangat banyak membantu saya dalam hal pelajaran di sekolah dan masalah kesehatan kak Andi.."
"Maka saya akan katakan, terus terang kepada Prof,.. Andi adalah mantan kekasih kakak ku.."
"Hanya itu saja yang bisa ku katakan.."
"Saya permisi Prof..."
ucap Violin, kemudian dia berdiri dari hadapan Prof Peter Ho, dan langsung berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Prof Peter Ho menatap bayangan punggung Violin yang menghilang di balik pintu, sambil bergumam dalam hati,
"Gadis yang sangat dewasa,.dan memiliki sikap yang jelas, pantas Dodo sangat tertarik dengan nya.."
Sore itu terlihat Violin sedang mendorong Andi, yang menggunakan kursi roda, untuk menghirup udara segar di taman.
"Lin kamu bisa dorong aku ke bangku itu, aku ingin kamu juga bisa ikut duduk di sana, temani aku ngobrol.."
ucap Andi sambil menunjuk kearah sebuah bangku di taman rumah sakit.
Violin mengangguk, lalu dia mendorong Andi mendekati bangku panjang tersebut.
Setelah mendapatkan posisi yang pas buat kursi roda Andi, dan mengunci rodanya.
Violin duduk di bangku tepat berada di sebelah Andi, Violin memilih memegangi telapak tangan Andi dengan lembut.
"Ya Kak, kak Andi terlihat sangat serius, sebenarnya kak Andi mau bicara apa ?,.. katakan saja.."
ucap Violin sambil menatap Andi.
Andi tidak membalas tatapan mata Violin, dia sebaliknya menatap kearah taman sambil menghela nafas panjang.
Sesaat kemudian Andi pun berkata,
"Lin apa kamu tidak merasa perbedaan usia kita terlalu jauh, dan aku kurang cocok untuk menjadi pasangan mu..?"
Violin menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kak Andi,.. kamu ini bicara apa ? aku ini tunangan mu, calon istri mu, tentu saja hal itu bukan masalah bagi ku,.."
__ADS_1
"Lagi pula kan sejak awal hubungan, kan kakak yang menghendaki aku agar menyelesaikan studi ku hingga jadi dokter terkenal, baru kita melangkah ke jenjang pernikahan.."
ucap Violin serius.
"Benarkah, aku pernah meminta mu seperti itu..?"
tanya Andi ragu.
Violin menepuk tangan Andi dengan lembut dan berkata,
"Tentu saja benar sayang.."
"Lin aku takut kamu kelak akan menyesal dan menyia nyiakan masa depan mu, untuk merawat seorang pria cacat seperti aku.."
"Dengan kondisi ku yang seperti ini, aku tidak akan bisa menunaikan tugas sebagai seorang suami yang baik bagi mu Lin.."
"Aku harap kamu harus pikirkan dan pertimbangkan baik baik mulai saat ini.."
Violin tersenyum lembut dan berkata,
"Aku tahu apa yang kak Andi pikirkan, tapi kak Andi tidak perlu khawatir, apapun kondisi kakak, saya sudah putuskan akan menemani kak Andi seumur hidup, dan tak akan pernah menyesal.."
Andi mengangguk, lalu dia mengulurkan tangannya menyentuh wajah Violin dengan lembut.
Andi menatap mesra kearah Violin hatinya sangat terharu, mendengar ucapan jawaban dan penjelasan Violin barusan.
Dia perlahan-lahan mendaratkan ciuman nya dengan lembut ke pipi Violin, Violin langsung memejamkan matanya, lalu dia membalas merangkul leher belakang Andi.
Setelah meluapkan perasaannya, Andi pun berkata,
"Demi kebahagiaan mu, kakak akan merelakan kepergian mu, untuk menemukan yang jauh lebih baik dan tepat untuk mu.."
ucap Andi berbisik pelan sambil memeluk Violin.
Violin tiba-tiba meronta, melepaskan diri dari pelukan Andi dan berkata,
"Kak Andi,..! kenapa kak Andi terus berbicara seperti itu ?"
"Apa kak Andi tidak sadar, ucapan kakak itu sangat menyakiti perasaan Violin.."
ucap Violin dengan tatapan mata tidak puas dan sedikit berkaca kaca
Andi sedikit tertegun dan kaget oleh respon yang di berikan violin padanya.
"Lin aku,.. maafkan aku Lin.."
ucap Andi menunduk dengan perasaan bersalah.
Dia tidak menyangka, ucapan nya yang demi kebaikan Violin, malah menyakiti perasaan gadis kecil itu.
"Kakak gak percaya dengan perasaan Violin ? coba kakak katakan, bagaimana kakak ingin Violin membuktikannya, sehingga kakak baru bisa percaya.?"
Andi terdiam tertunduk tidak bisa berkata-kata, dia takut salah bicara dan membuat kekasih kecilnya semakin marah.
__ADS_1
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Andi pun berkata,
"Aku hanya ingin kamu bahagia, bila bersama seorang cacat seperti aku bisa membuat mu bahagia.."
"Aku tentu saja sangat senang dan akan sangat mensyukurinya.."
"Baiklah Lin aku minta maaf, kamu lupakan saja ucapan ku yang menyakiti mu tadi."
"Demi kebahagiaan mu, aku berjanji akan berjuang untuk pulih dan normal kembali.."
ucap Andi sambil menatap Violin dengan tatapan penuh rasa terimakasih.
Mendengar ucapan Andi barusan, Violin langsung tersenyum lebar, dan membentangkan sepasang tangannya, lalu kembali memeluk Andi dengan erat dan berkata,
"Ini baru mirip dengan kak Andi ku yang dulu, kak Andi yang pantang menyerah, dan selalu berjuang demi cinta dan keyakinannya.."
Mendengar ucapan gadis itu, Andi tidak dapat menahan rasa haru dan bahagia nya, hingga dua titik airmata nya ikut jatuh menetes membasahi pipinya.
Sesaat kemudian, Andi dengan menggunakan kekuatan kedua tangan nya, berpindah duduk di bangku panjang itu bersama Violin.
Dengan duduk bersama begitu, mereka berdua bisa lebih bebas duduk sambil berpelukan mesra.
Violin terlihat sangat bahagia duduk sambil menyandarkan kepalanya di dada Andi.
Sedangkan Andi dengan penuh kasih sayang terus membelai kepala Violin yang berambut hitam halus wangi dan lembut.
"Kak,.. besok pagi kak Andi Lin daftarkan ke pelatihan dan terapi di RS ini, kak Andi mau gak..?"
ucap Violin membuka pembicaraan.
Andi mengangguk cepat dan berkata,
"Tentu saja, apapun yang kamu inginkan, aku tidak akan pernah menolaknya."
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin kamu tenang saja.."
Violin mengangguk gembira, sesaat kemudian dia berkata,
"Tapi kalau sesi pagi, aku tidak bisa temani, karena harus kesekolah."
"Kak Andi sendirian tidak apa-apa..?"
Andi sengaja ingin menggoda Violin, sambil tersenyum nakal dia berkata,
"Gak ada kamu, kan ada, banyak perawat muda yang cantik cantik dan seksi seksi disini..."
"Kak Andi...! awas kalau berani macam-macam...!"
ucap Violin dengan bibir cemberut.
Andi tertawa dan berkata,
"Aku cuma bercanda, selain kamu di hati ku sudah tidak akan muat orang lain lagi..."
__ADS_1
Violin pun kembali tersenyum dan berkata,
"Tapi aku cuma sesi pagi saja gak bisa temani kakak, sesi sore aku pasti akan kemari untuk temani kakak.."