AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MENGUNJUNGI RUMAH MR BRONSON


__ADS_3

Andi tersenyum pahit dan berkata,


"Berry bila benar seperti yang kamu bilang barusan, aku justru semakin bulat dengan keputusan ku.."


"Aku tidak boleh pergi, mencarinya dan membebaninya dengan kesulitan kita."


"Bila itu terjadi, bahkan diri ku sendiri pun, akan memandang rendah diri ku sendiri."


"Kelak apapun kesuksesan yang aku raih, aku tidak akan punya muka untuk bertemu dengan nya.."


"Apalagi di hati ku jelas tidak ada dia, aku jelas tidak bisa membalas perasaan nya seumur hidup ini, tapi aku masih pergi mencari dan minta tolong darinya.."


"Ini adalah suatu ketidakadilan, yang tidak mungkin ku lakukan, kamu pahamkan Berry.."


Berry menghela nafas panjang dan mengacungkan jempolnya kearah Andi dan berkata,


"Kamu meski lupa ingatan, tapi kamu tetap tidak melupakan prinsip dan jati dirimu, aku salut.."


"Sudah lupakan saja usul ku tadi..kita pikirkan cara lain saja.."


Tiba-tiba HP Andi yang di letakkan di atas meja berbunyi, Andi buru-buru mengambilnya.


Melihat penelponnya adalah Carol Andi sedikit heran, tapi dia tetap mengangkat nya dan berkata dengan sabar.


"Ya halo Carol,.ada apa ? tumben kamu menelpon ku, di hari khusus buat keluarga mu ini."


Terdengar suara tertawa renyah Carol diseberang sana,. kemudian dia berkata,


"Terimakasih banyak bos perhatian nya, tapi aku ada hal penting yang lupa ku sampaikan kemarin.."


"Apa itu ?"


ucap Andi mulai serius.


"Begini bos, kemarin bos lama ku, tempat aku bekerja dulu menelpon ku, dia meminta aku membantunya menjual pabrik mobil lamanya yang sudah kurang jalan."


"Nomor telpon bos ku itu ada di catatan buku agenda harian,.diatas meja kerja bos..'


"Barangkali bos berminat, bisa hubungi dia langsung.."


Sepasang mata Andi langsung berbinar, setelah menutup telponnya, dia menatap kearah Berry dengan penuh semangat dan berkata,


"Berry kesempatan datang, Ayo bersiap siap temani aku, pergi temui seseorang.."


ucap Andi penuh semangat.


Berry sampai terbengong melihat ekspresi wajah Andi, Berry yang sudah hapal dengan tabiat Andi.


Tanpa banyak bicara, dia langsung mengikuti Andi masuk kedalam rumah.


Saat tiba di dalam rumah, dia melihat Andi sedang duduk di dekat kursi meja kerjanya.

__ADS_1


Andi memberi kode dengan jari didepan mulut agar dia jangan bersuara.


Berry mengambil tempat duduk di depan Andi, duduk diam di sana sambil menatap Andi, yang sedang sibuk melakukan panggilan telepon.


"Halo tuan Bronson,.aku teman Carol, aku dengar tuan sedang ingin menjual pabrik mobil tuan, benar..?"


"Benar sekali,.. maaf sama siapa saya sedang berbicara.. ?"


tanya suara yang terdengar cukup ramah dari seberang sana.


"Nama ku Andi tuan, aku cukup tertarik dan ingin berbicara banyak dengan tuan Bronson, apa tuan punya waktu.. ?"


ucap Andi santai.


"Ohh ada tentu ada, nah ini alamat rumahku, tolong di catat ya,.."


ucap Mr Bronson.


Andi dengan sigap sambil menjepit telponnya di bahu dan telinga, lalu dia mulai mencatat nya, di atas buku Agenda.


Setelah itu dia merobek catatan kecil tersebut dan langsung dia berikan ke Berry.


Setelah berbasa-basi sejenak, Andi pun menutup telponnya.


Berry menatap Andi dengan bingung dan berkata,


"Kamu gila ya di, ? itu pabrik mobil beneran, kamu mau beli.."


"Mana sanggup kita membelinya.."


Andi tidak memperdulikan keheranan Berry,.dia hanya berkata,


"Soal lain kamu gak usah pikirkan, aku punya caranya, yang penting saat ini kamu cari tahu alamat ini dan segera antar aku temui tuan Bronson.."


"Bisa sukses atau gagalnya kita, tergantung pada point penting ini.."


ucap Andi serius.


Berry masih terlihat ragu ragu.


"Ayo cepat,.. jangan bengong aja,.. yuk.."


ucap Andi sambil menarik tangan Berry.


Berry pun tersadar, dia mengangguk cepat, menyambar kunci mobil bututnya.


Mobil Mercy mereka sudah dijual beberapa bulan yang lalu, untuk menutupi biaya hidup mereka dan membayar hutang usaha mereka yang hampir bangkrut.


Sebagai gantinya, Berry membeli mobil Mustang tahun 80 an yang sering di gunakan oleh aktor gaek Clint Eastwood.


Tak lama kemudian Berry dan Andi pun melaju ke jalan, menggunakan mobil yang meninggalkan asap kendaraan mirip bemo.

__ADS_1


Andi dan Berry yang menggunakan mobil itu, jadi mirip pasangan detektip di film action era kolot.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di depan sebuah kawasan perumahan mewah Meadow Lane, Southampton real estate.


Di mana kawasan tersebut adalah tempat tinggal para miliader, dan eksekutif perusahaan terkemuka di Amerika.


Berry dan Andi sampai bengong saat tiba di depan pintu gerbang komplek yang di jaga ketat.


Melihat penampilan kendaraan Andi dan Berry, mereka berdua tentu tidak diijinkan untuk memasuki kawasan elite itu.


Tapi setelah Andi memberikan nomor telpon Mr Bronson, dan satpam mencoba menghubungi sendiri Mr Bronson.


Akhirnya mereka membiarkan mobil Mustang tua milik Berry, untuk masuk kedalam kawasan elit itu, tapi mereka di kawal di depan dan belakang oleh dua motor skuter, yang di kendarai oleh petugas keamanan kompleks, mereka di antar hingga tiba didepan rumah Mr Bronson.


Berry langsung mendumel, melihat tingkah kedua satpam yang mengawal kendaraan mereka.


"Dasar mata Anj*ng hanya bisa memandang rendah orang saja.."


"Tunggu suatu hari aku punya rumah di sini, akan ku suruh pemilik kawasan ini pecat kalian.."


Andi hanya tersenyum menanggapi kekesalan teman nya itu,


"Sudahlah Berry, hemat energi mu.. simpan emosi mu, kita bentar lagi mau ketemu klien penting.."


"Buat apa kamu habiskan energi mu untuk mengurusi orang orang tidak penting itu.."


"Lebih baik kita fokus pada hal besar di depan mata kita.."


"Hitung hitung dengan pengawalan mereka, kita menjadi lebih mudah menemukan rumah Mr Bronson benar tidak..?"


Berry tersenyum pahit dan berkata,


"Ya,.. ya... kamu selalu benar,.. nyerah dah.."


"Lakukan saja sesuai rencana mu, aku ikut saja.."


Andi tersenyum dan berkata,


"Sabar Berry,.. akan ada hari di mana kita juga bakal punya rumah sendiri di sini.."


Berry mengangguk, kalau hal ini dia sangat yakin dengan Andi.


Bila bukan karena Andi dia tidak mungkin pernah bisa punya rumah elite mobil mewah di kota J.


Bila tidak bertemu Andi, mungkin dia sampai sekarang masih jadi tukang bersih toilet, dan kamar ganti di underground.


Makan aja susah, belum lagi selalu dikejar kejar oleh ibu kontrakan nya, karena belum bayar kontrakan.


Dari titik nol naik kepuncak hingga turun lagi kebawah, tapi dia yakin suatu hari nanti, dia dan Andi pasti bakal naik lagi keatas.


Sambil termenung menyetir, akhirnya mereka tiba di depan halaman sebuah rumah elite yang tidak menggunakan pagar.

__ADS_1


Halamannya begitu luas,.taman tamannya begitu terawat dengan rapi.


__ADS_2