
"Itu mobil kakak mu Sar.."
ucap Santi pelan.
Sarah terkejut, secara reflek dia memutar tubuhnya menghadap ke belakang, menatap Santi dan berkata,
"Untuk apa dia mengikuti kita ?"
Santi menatap Sarah menggelengkan kepalanya,
"Aku juga tidak tahu Sar.."
"Lah terus kamu kok bisa tahu itu mobil kakak ku ?"
tanya Sarah penasaran juga heran.
Santi terlihat bingung dan agak canggung, tapi kemudian dia tetap menjawab pertanyaan temannya.
"Aku tahu, karena dia pernah mengantar ku pulang dari kampus dengan mobil itu.."
Sarah membelalak tak percaya, kakaknya yang jarang berbicara, cenderung dingin dan penuh misteri bisa berinisiatif mengantar Santi pulang ke kost.
"Sar kamu jangan melihat ku seperti itu, aku..aku sama sekali tidak meminta dia mengantar ku.."
"Tapi dia menarik dan memaksa..aku juga tak berdaya..aku saat itu tidak ingin ribut-ribut dan menjadi pusat perhatian teman kampus.."
"Jadi aku terpaksa Sar..kamu ngerti kan.."
ucap Santi dengan panik.
Sarah tertawa setelah mendengar Santi menyelesaikan ceritanya.
"Kamu panik apa ? aku kan gak bilang aku tidak setuju dengan hubungan kalian."
"Aku justru bersyukur bila si gunung es itu bersama mu.."
"Kalau perlu kita akan pinggirkan mobil, agar kamu bisa ikut mobilnya saja,.. gimana..?"
ucap Sarah sambil tersenyum menggoda.
Santi mempelototi Sarah dan berkata,
"Sar kamu jangan gila...aku..aku..gak mau.."
Sarah tertawa tawa dan berkata,
"Gitu aja panik...tenang aja, aku cuma bercanda dengan mu.."
Santi bernafas lega, dia pun kembali menyandarkan punggungnya di kursi, duduk sambil melihat keluar jendela.
Santi larut dalam pikirannya sendiri, dia sedang berpikir apa sih yang ada di pikirkan kakak Sarah.
Bila berbicara kecantikan, masih banyak yang jauh lebih cantik darinya, bicara keanggunan dia jauh dari anggun.
Bicara kelembutan, dirinya jauh dari sikap tersebut, karena dia orangnya ceplas-ceplos cenderung kasar mirip cowok.
Santi menggelengkan kepalanya dan berkata dalam hati,
"Tidak ada alasan dia menyukai mu Santi, kamu tidak perlu GR, dia baik pada mu karena kamu teman adiknya.."
"Kalaupun benar dia menyukai mu, kamu juga tidak berhak menerimanya."
"Sadar diri lah sedikit.."
__ADS_1
Viona dan Andi saling pandang mereka berdua tersenyum melihat sikap Santi.
Orangnya duduk di sebelah mereka tapi pikiran nya jelas tidak ada di sana.
"San kenapa sih kamu begitu repot ?"
tanya Viona.
"Kalau suka terima aja, kalau tidak tolak saja..ini baru seperti Santi yang biasa ku kenal.."
ucap Viona sambil menatap sahabatnya.
"Tapi menurut ku sih,.. James sangat memenuhi syarat menjadi suami mu.."
ucap Viona sambil tersenyum nakal.
Santi menoleh menatap kearah Viona dengan kesal dan berkata,
"Kamu lagi ikut-ikutan, bukan nya nikmatin tuh pelukan penggila mu itu.."
"Malah ngurusin aku.."
"Tar kalau waktunya habis, baru deh nyesel."
Viona tertawa menanggapi ucapan Santi.
"Ya sudah.. sesuka mu lah, jangan tar nyesal dan bilang sahabat gak ngingetin.."
"Pria seperti James termasuk langka, sangat jarang ada loh, yang ngantri ingin jadi pacar nya juga pasti sangat banyak."
"Kalau gak cepat pasti nyesal..benar gak Sar..?"
Sarah hanya tertawa dan berkata,
"Aku sampai pusing di buatnya, sehari tak kurang dari 100 cewek yang mencarinya.."
"Itu belum termasuk yang ngirim chat dan telpon langsung ke HP nya."
"Makanya HP nya jarang aktip, hingga aku mama dan papa juga kesulitan menghubunginya.."
ucap Sarah menceritakan tentang kakaknya dengan penuh semangat.
Tidak ada yang menyadari, cerita Sarah malah membuat Santi semakin minder,. dan sedikit bersedih.
Tanpa di ceritakan sekalipun Santi sudah bisa menebak hal itu, tapi kini setelah Sarah bercerita, hatinya justru terasa lebih tidak nyaman dan agak sedih.
"Non kita sudah sampai.."
ucap pak Larjo mengingatkan Sarah.
"Ohh ya makasih pak.."
ucap Sarah cepat.
Kemudian dia menoleh kebelakang dan berkata,
"Ayo kita turun.."
Dengan enggan Viona melepaskan pelukannya dari Andi, dan membiarkan nya turun dari mobil.
Begitu turun dari mobil Andi dengan terpaksa, memilih sedikit menjaga jarak dengan Viona.
Meski tidak terlihat ada Rio di sana, tapi lebih baik mereka berdua menjaga sikap.
__ADS_1
Agar tidak menimbulkan masalah yang tidak perlu buat Viona.
Begitu turun dari mobil Andi Santi dan Viona, menatap dengan takjub bangunan restoran yang ada di hadapan mereka.
Sarah berjalan di depan mengajak teman-teman nya masuk kedalam restoran mewah tersebut,
Setelah Sarah berbicara sebentar dengan pelayan restoran, yang datang menyambut mereka dengan ramah.
Mereka langsung di antar oleh pelayan tersebut menggunakan lift menuju lantai paling atas.
Begitu pintu lift terbuka mereka di sajikan pemandangan ruangan yang luas dan mewah.
Ruangan restoran itu terbagi jadi dua area, satu berada di dalam ruangan, lainnya berada di luar ruangan yang di luar ruangan bisa menikmati udara terbuka yang segar.
Pelayan itu mengantar Sarah dan rombongannya menuju bagian luar ruangan, sesuai dengan reservasi yang sudah dia lakukan sebelum datang.
Restoran tersebut sangat ramai pengunjungnya, hampir semua meja terisi penuh, tidak ada yang kosong.
Kalaupun ada meja kosong yang belum terisi, meja tersebut sudah di pasangi tulisan reserved tanda meja tersebut sudah di booking orang, tidak bisa di isi lagi.
Pelayan itu membawa mereka menuju sebuah meja yang agak di sudut, sedikit dekat dengan pagar pembatas kaca transparan, sehingga bisa terlihat jelas pemandangan gunung lembah jalan dan rumah dengan lampu berkelap-kelip di bawah sana.
Hawa yang sejuk dan segar membuat pengunjung yang datang merasa nyaman.
Begitu mereka berempat duduk, berbagai menu mewah dan cantik mulai di keluarkan satu persatu oleh para pelayan.
Setelah seluruh pesanan tersaji, seorang pelayan dengan sopan berkata,
"Apakah ada menu pesanan yang belum tersaji ?"
Sarah tersenyum dan berkata,
"Tidak semua sudah lengkap terimakasih, tapi tolong berikan daftar menu nya ke teman-teman ku, siapa tahu masih ada tambahan.."
"Baik harap di tunggu sebentar.."
ucap pelayan tersebut dengan sopan, kemudian buru-buru mengundurkan diri dari sana.
Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan 4 buku menu ditangannya, kemudian di berikan satu persatu ke Sarah Santi Viona dan Andi.
"Silahkan di lihat dulu, kalau ada perlu tekan bell di sebelah saja, saya akan kembali kemari.."
"Silahkan..saya permisi dulu.."
ucap pelayan tersebut sambil tersenyum ramah.
Mereka berempat pun tersenyum dan mengangguk kecil kearah pelayan yang ramah tersebut.
Setelah pelayan itu pergi, Santi baru berkata,
"Di sini aja kamu sudah pesan over, buat apalagi buku menu ini,? nanti kalau gak habis kan jadi mubajir.."
Sarah tersenyum dan berkata,
"Santai aja San ini kan selera ku, belum tentu cocok dengan selera kalian.."
bagian dalam restoran.
Bagian luar restoran
__ADS_1