
"Bersujud dan minta maaf pada ku, urusan ini baru ku anggap selesai.."
ucap Marcel sambil melotot.
James kembali menoleh menatap Marcel dengan sepasang mata nya mencorong ganas.
"Cari mati.."
ucapnya singkat.
Dengan sekali cengkram dan diputar, tangan Marcel yang kurus ceking di pelintir olehnya.
Lalu dengan sekali cengkram di kerah baju Marcel, James dengan ringan mengangkat tubuh Marcel.
Sekali sentak tubuh Marcel melayang keluar dari kelas dan mendarat dengan kepala lebih dulu, kedalam Tong sampah besar yang ada di luar kelas itu.
Awalnya semua orang kaget, tapi tak lama kemudian mulai terdengar tepuk tangan dan suara tertawa di mana-mana.
Mereka mentertawakan kedua kaki Marcel, yang bergerak gerak ingin keluar dari Tong sampah tersebut tapi tidak bisa.
Sampai akhirnya Tong sampah tersebut miring kedepan dan roboh, Marcel baru bisa merangkak keluar dari Tong sampah tersebut.
Dengan emosi dia menunjuk ke arah James dan berteriak dari depan pintu kelas.
"Awas kamu...! tunggu pembalasan ku pulang nanti..!"
Dengan brutal Marcel menendang pintu kelas lalu berlalu dari sana.
James sendiri tidak memperdulikan tepuk tangan dan suara tertawa serta tatapan kagum para gadis di kelas itu padanya.
Dengan lembut dia berkata,
"Tidak perlu pindah, kita duduk di sini saja.."
Lalu dia dengan lembut memegang tangan Santi dan menariknya untuk kembali duduk ditempat semula.
Santi tidak menolaknya, tapi wajahnya langsung merah seperti kepiting rebus.
Dia bahkan tidak berani mengangkat muka menatap wajah James yang duduk di sebelahnya.
Setelah Santi duduk disebelah nya, dengan sopan James langsung melepaskan pegangan tangannya dari tangan Santi.
Santi baru mengangkat kepalanya melihat kearah pintu saat mendengar ancaman yang di lontarkan oleh Marcel ke James.
Saat Marcel menendang pintu dengan brutal, Santi sampai sedikit terlonjak kaget di buatnya.
James kembali menyentuh bahu Santi dan berkata,
"Jangan takut, percayalah aku akan menjaga mu.."
"Tapi dia mengancam mu.."
ucap Santi cemas sambil menatap James.
__ADS_1
"Kamu tidak tahu, kemaren saat kami di daerah gunung L sedang makan di restoran susu murni.."
"Dia datang menganggu ku, Andi mengusirnya."
"Kesudahan nya dia dan teman-temannya datang membawa golok menyerang kami.."
ucap Santi dengan raut wajah mencemaskan keselamatan James.
Entah kenapa Santi merasa sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu dengan James.
James tersenyum lembut dan berkata,
"Terimakasih kamu sudah mencemaskan ku, tapi yakinlah dia tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap ku."
"Kamu tenang saja, lupakan masalah itu, jangan sampai menganggu kuliah mu.."
ucap James sambil tersenyum.
Santi mengangguk kecil, tiba-tiba Viona pun datang menghampiri mereka dan berkata,
"Ehh kamu bukan nya kakaknya Sarah, kok bisa ada di sini..?"
"Ohh aku tahu pasti karena dia kan ? ya sudah aku tidak ganggu deh.."
ucap Viona sambil tersenyum penuh arti.
Lalu dia mengambil tempat duduk yang sedikit menjauh dari mereka.
"Vi...!"
Tapi Viona pura-pura tidak mendengar dan menjauhinya, mengambil tempat duduk di pojok disebelah jendela yang menghadap keluar.
Viona mengambil tempat tersebut bukan tanpa maksud, dia milih tempat itu agar bisa melihat kearah luar.
Siapa tahu dia bisa menemukan keberadaan Andi di sekitarnya.
Setelah melihat kesana-kemari, akhirnya dia melihat ditempat yang cukup jauh.
Tepatnya di lantai 3 di pinggir tembok pembatas, yang terletak agak di sudut dan tersembunyi.
Andi berdiri di sana diam diam sedang memperhatikan dirinya.
Saat menyadari Viona menemukan posisi nya, sambil mengangguk kecil kearahnya.
Andi pun berlalu dari sana.
Viona hanya bisa menghela nafas sedih, sambil bergumam.
"Maafkan aku di..aku telah menyakitimu dengan sangat dalam."
Tak lama kemudian dosen pengajar pun tiba dan mulai mengajar, Viona mencoba fokus dengan mata kuliah tersebut.
Sesaat kemudian dia berhasil melupakan perasaannya sejenak, dengan berfokus pada mata kuliah tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Andi di atas sana juga sudah masuk ke kelas nya, mencoba fokus mengikuti pelajaran yang sedang di terangkan oleh dosen pengajar di depan sana.
Meski matanya menatap kearah dosen, tapi tangannya tanpa sadar terus melukis sesosok wajah yang tidak pernah bisa dia lupakan itu.
Saat Andi tersadar dan melihat hasil lukisan nya, dia bergumam dalam hati.
"Vi,... aku juga tidak tahu kamu bagus nya di mana, tapi aku benar-benar sulit untuk melupakan mu.."
"Orang yang tidak mengenal mu mungkin tidak akan pernah tahu senyum mu bahkan lebih indah dari bunga di musim semi.."
"Mungkin Sukma ku sudah terkunci oleh senyum mu, mungkin juga kamu adalah istri tercinta ku di masa lalu.."
"Sehingga bagaimana pun ikatan benang cinta kira dari masa lalu masih tersambung sampai saat ini.."
"Tapi semua ini kelihatannya tidak penting, yang paling penting adalah bagaimana kamu bisa kembali lagi kedalam pelukan ku.."
"Meski Cinta kita banyak rintangan dan selalu menjadi beban pikiran, tapi aku janji...aku tidak akan pernah menyerah memperjuangkan cinta kita.."
"Ya benar begitu...saat ini bila mengucapkan bahwa hubungan kita sudah berakhir itu masih terlalu awal.."
"Aku harus berjuang keras..agar bisa mengembalikan kamu ke sisi ku lagi .."
" Saat ini aku harus sabar,, tanggung jawab ku masih banyak, untuk sementara kita terpaksa berjauhan dulu.."
"Agar kelak bisa kembali bersama.."
gumam Andi dalam hati sambil menatap gambar di tangannya.
Lalu dia kembali fokus melihat kearah dosen pengajar, dan mulai mencatat apa yang di jelaskan oleh dosen tersebut.
Setelah mata kuliah selesai Viona yang berharap bisa melihat Andi di sana, tapi dia tidak menemukan nya.
Yang justru muncul adalah Rio yang sedang berdiri didepan kelas menantinya.
Setelah keluar dari kelas Viona pun diajak Rio ke kantin untuk sarapan, Viona tidak menolaknya karena dia memang sedikit lapar sehabis mengikuti perkuliahan pagi.
Sedangkan Santi dan James yang baru saja hendak meninggalkan kampus.
Di depan gerbang kampus terlihat Marcel dan gerombolannya duduk santai menanti kedatangan James, yang harus melewati gerbang itu, bila ingin mengantar Santi kembali ke kost.
Melihat gerombolan manusia kriting itu, Santi kembali mulai cemas.
Dia mengeratkan tangannya menahan tangan James agar tidak berjalan kesana.
James sambil tersenyum lembut berkata,
"Kamu tunggu saja di sini, tenanglah tidak akan apa-apa.."
"Kalau tidak suka melihat kekerasan, kamu boleh membalikkan badan mu, atau menutup mata mu sejenak.."
Pelan-pelan James melepaskan pegangan tangan Santi mendorongnya mundur.
Lalu James melangkah lebar menghampiri kearah rombongan orang kriting itu.
__ADS_1
Begitu melihat kedatangan James, Marcel berbicara dalam bahasa yang hanya di mengerti oleh teman-temannya.
Mereka masing-masing mencabut parang khas mereka dan menerjang kearah James.