
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Andi bersama rombongan keluarga Viona tiba di candi megah yang dia maksud.
Setelah memarkirkan mobilnya, Andi mulai mengajak rombongan kecil itu berkeliling melihat lihat sambil di ambil foto bersama, untuk di abadikan.
Violin yang paling semangat berfoto foto, di setiap titik spot cantik dia selalu ambil bagian.
Demi menyenangkan nya, Andi tidak pernah menolak setiap ajakkan Violin untuk berfoto bersama.
Tapi Andi selalu menghadirkan Doddy atau pun Rina, dalam setiap foto mereka.
Meski Violin sedikit kurang puas, tapi tentu saja dia malu menunjukkan sikap kurang puasnya.
Dalam hal ini mama Viona tersenyum puas, di dalam hati dia semakin kagum dengan sikap yang Andi tunjukkan.
Sebagai orang yang melahirkan Violin dan membesarkan nya, tentu saja dia paham betul perasaan Violin terhadap Andi.
Dan hal itu adalah wajar, karena Andi memang sangat layak untuk itu.
Tapi bagaimana pun putrinya masih terlalu muda untuk hal itu.
Dan hal lainnya yang membuat dia sedikit cemas adalah cinta Andi terhadap Viona sangat kokoh seperti karang, yang tahan terhadap gulungan ombak sekuat apapun.
Bila tidak ada kejadian seperti saat ini, hal itu tentu adalah hal yang sangat baik.
Tapi saat ini hal itu justru akan berdampak sangat tidak baik untuk masa depan Andi.
Tapi dia juga tidak bisa apa-apa, selain menyerahkan semuanya kepada Andi sendiri.
Sambil berharap waktu lah, yang akan mengobati luka di hati Andi, pemuda yang sangat besar jasanya terhadap kehidupan mereka sekeluarga.
Setelah puas berkeliling, Andi pun berkata,
"Pa ma, sebentar lagi ada acara baca Parita dan doa siang, Andi ingin mengikuti nya."
"Papa dan mama mau ikut boleh, tidak juga gak papa, tidak ada paksaan.."
"Bila papa dan mama tidak mau ikut, bisa melihat lihat kesebelah sana."
"Di sana ada toko souvernir , yang mungkin mama papa tertarik untuk membelinya.."
ucap Andi meminta ijin, sekaligus menawarkan pilihan.
"Gak di, papa mama akan ikut dengan mu, mengikuti kebaktian.."
ucap mama Viona sambil tersenyum.
Andi mengangguk kemudian sambil menoleh kearah Violin, Andi berkata,
"Lin kamu gimana ?"
"Ikut kak,.. Violin juga ingin ikut berdoa.."
ucap Violin cepat.
__ADS_1
Andi menatap kearah Doddy dan Rina, yang sedang asik main kejar-kejaran di halaman depan Candi, yang luas dan sepi.
Mama Viona mengerti kekhawatiran Andi, dia segera berkata,
"Nak Andi jangan cemas, mereka berdua ada mama."
"Sebentar lagi mereka berdua juga akan tertidur, saat kebaktian di mulai, karena itu adalah jam tidur mereka.."
Andi mengangguk dan tersenyum gembira.
"Kalau begitu, ayo kita bersiap siap untuk ikut kebaktiannya.."
ucap Andi penuh semangat.
Papa mama dan Violin mengangguk, lalu mereka mengikuti Andi masuk kedalam ruangan kebaktian.
Andi terlihat sangat fasih dan sedikitpun tidak terlihat ada keraguan, dalam melakukan proses memasuki ruangan, hingga di mulainya kebaktian.
Mama Viona menatap kagum kearah Andi, dia yakin Andi pasti dulunya sering mengikuti kebaktian, makanya dia terlihat begitu tenang dan hapal dengan segala prosedur kebaktian.
Saat acara di mulai, mereka mulai membaca Parita, yang tertera di buku yang ada di tangan mereka.
Sambil mengikuti arahan yang di lakukan oleh seorang bikkhu , sebagai pemimpin acara kebaktian.
Saat memanjatkan doa, Andi terus meminta di dalam hatinya,
Agar Viona di beri kemudahan dan kelancaran dalam menjalani kehidupannya di masa depan.
Meski tidak bersama dirinya, Andi tetap berharap Viona bisa hidup dengan bahagia, dan jangan lagi ada kesedihan lagi dalam kehidupannya.
Rombongan Andi pun keluar dari ruangan kebaktian, mereka kemudian mengunjungi ruangan Souvernir, yang menjual cinderamata.
Melihat Violin sangat tertarik dengan sebuah gelang giok dan sebuah kalung dengan liontin patung Dewi Kwan Im lengan seribu.
Andi pun membelikan nya secara diam-diam, saat berjalan kembali kemobil.
Dimana Andi dan Violin berjalan beriringan Andi pun berkata,
"Lin aku ada sesuatu untuk mu, sebagai kenang-kenangan dari kakak.."
"Apa itu kak..?"
ucap Violin heran bercampur gembira sambil menghentikan langkahnya.
Andi tersenyum berkata,
"Pejamkan matamu, kakak akan berikan kejutan untuk mu.."
Violin meski heran, dan penasaran.
tapi dia tidak menolak permintaan Andi.
Dia langsung berdiri sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
__ADS_1
Andi dengan hati-hati membantu mengenakan kalung cantik itu, buat Violin.
Setelah itu dia juga membantu mengenakan gelang giok ketangan Violin.
Setelah selesai Andi baru berkata,
"Sudah Lin, sekarang buka lah mata mu, lihat apa kamu menyukainya."
Violin buru-buru melihat kearah lengan dan lehernya, dia berteriak gembira, lalu sambil tertawa bahagia secara reflek dia ingin maju memeluk Andi.
Tapi Andi melangkah mundur sambil menahan jidatnya dan berkata,
"Cukup Lin, yang penting kamu suka, kakak pun puas dan bahagia."
"Tapi ingat jangan lupa janji mu pada kakak, kamu harus jadi dokter hebat..ok..?"
ucap Andi sambil mengulurkan jari kelingkingnya yang sedikit di bengkokkan didepan wajah Violin sambil tersenyum.
Violin yang di tahan jidatnya, dengan cemberut dia menggembungkan sepasang pipinya sehingga terlihat lucu.
Dengan tidak puas dia berkata,
"Ya,.. ya..Lin gak bakal lupa...dasar nyebelin."
Lalu tanpa menghiraukan uluran jari kelingking Andi, dia membalikkan badannya berjalan menuju ke mobil dengan wajah kesal.
Tapi baru beberapa langkah, dia pun langsung menunduk melihat gelang dan liontin di lehernya,
Sambil tersenyum gembira memunggungi Andi dia segera berkata,
"Makasih kak..!"
Lalu dia pun berlari masuk kedalam mobil dengan riang.
Melihat sikap yang ditunjukkan oleh Violin, Andi pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Dalam perjalanan pulang Andi sengaja mampir ke cafe dan restoran KD yang letaknya tidak jauh dan sejalan dengan perjalanan pulang mereka.
Saat memasuki restoran yang bernuansa alam, dengan saung saung yang terpisah pisah, di lengkapi dengan bantal guling buat bersantai.
Dan banyak tempat cantik, sebagai spot buat berfoto.
Violin terlihat sangat gembira dan menikmatinya.
Begitu juga dengan Doddy dan Rina, setelah bangun tidur mereka menyambut gembira makan enak di Restoran yang unik dan asri itu.
Udara yang sejuk, membuat suasana menjadi semakin nyaman.
Mama Viona pun terlihat cukup gembira dan menikmati suasana, yang di tawarkan oleh restoran tersebut.
Sedangkan papa Viona cukup senang dengan tempat nya yang santai nyaman, makanan yang ditawarkan pun cukup lezat dan berkesan.
Sedangkan Andi hatinya cukup terhibur melihat ke bahagian rombongan kecil yang ikut menemaninya, sehingga dia tidak terlalu sepi.
__ADS_1
Dan sedikit bisa melupakan kepedihan di hatinya.
Setelah puas berkeliling dan berfoto foto, violin dan kedua adiknya pun kembali, ke saung lesehan menikmati makanan yang di siapkan untuk mereka semua.