
"Halo, ini sama restoran hotel ya, ?"
"Aku pesan nasi goreng mie goreng roti sandwich selai keju, ayam goreng dan udang goreng tepung, masing masing 2 porsi minta tolong di prioritas ya.."
ucap Andi menelpon pihak restoran melalui telpon kamar.
"Ya,.. benar,.. baik,.."
ucap Andi singkat lalu menutup telpon.
Selanjutnya Andi langsung menelpon pihak EO.
"Halo Kevin ya,..Vin,.. ini Violin mau lepas baju pengantin dan sanggulnya, tolong kirim orang salon kemari ya.."
"Nanti sore sebelum acara resepsi, baru di rias ulang, extra charge bukan masalah, tolong segera kirim ya,? orang salon nya kemari, urgen.."
ucap Andi berpesan.
Setelah itu Andi pun mematikan ponselnya, dia menatap kearah istri dengan kasihan dan berkata,
"Sabar ya sayang, semua udah di pesan.. mereka bentar lagi kemari.."
Violin menghela nafas lelah, dia duduk bersandar di sofa dan mengangguk kecil, memaksakan diri Tersenyum pahit.
Melihat keadaan Violin yang terlihat kurang nyaman.
Andi akhirnya berkata,
"Bagaimana bila aku saja yang bantu lepasin bajunya..?"
Mendengar ucapan Andi, sepasang mata Violin langsung berbinar-binar, tapi sesaat kemudian kembali suram dan berkata,
"Apa kakak bisa, nanti kakak kembali mimisan,.. gak mau lah.."
Andi menghela nafas panjang dan berkata,
"Aku akan berusaha, kita coba aja dulu, siapa tahu bisa,. ok..?"
Violin mengangguk kecil, dan berkata,
"Di dalam kamar aja,.."
"Di sini kurang nyaman, kalau ada pelayan yang datang.."
Andi mengangguk, melihat Violin berdiri dengan wajah lesu.
Andi pun bergerak menggendongnya kedalam kamar.
Sekali ini Violin pun bisa kembali tertawa ceria, sambil memeluk Andi erat-erat, dengan melingkarkan tangannya di belakang leher Andi.
Setelah masuk kedalam kamar privasi, di depan cermin besar yang menghadap kearah kasur besar yang masih rapi.
Andi mulai menahan nafas, lalu membuka resleting bagian belakang gaun Violin.
Setelah itu dia juga membantu melepaskan beberapa kancing di dekat bahu, dan beberapa tali di bagian pinggang.
__ADS_1
Perlahan lahan gaun itupun mulai bisa di lepaskan dari tubuh Violin.
Setelah gaun besar dan berat itu lepas.
Di dalam masih ada satu setel baju pelapis ketat yang membungkus tubuh Violin.
Pakaian pelapis yang berbahan halus inilah, yang membungkus ketat tubuh Violin, membuatnya kurang nyaman dan bebas bergerak.
Andi dengan hati hati membantu melepaskan pakaian lapis keduanya.
Begitu terlepas, dan pemandangan indah bagian punggung Violin terpampang jelas.
Andi pun buru-buru berlari kedalam kamar mandi dan berkata,
"Lin maaf,.. sisanya famu , furus sendiri.."
Andi sulit melanjutkan kata-katanya, karena darah sudah kembali meler dari hidung nya.
Violin bisa melihat dari cermin keadaan Andi, meski cemas khawatir dan kasihan.
Dia tidak berani menyusulnya, dengan keadaan seperti ini, bila gak berganti menyusul Andi hanya akan membuat nya semakin parah .
Violin buru buru melepaskan sisanya, setelah itu dia yang hanya mengenakan dalam an, segera membuka lemari baju.
Tapi begitu buka lemari baju, dia baru sadar, dia dan Andi tidak membawa pakaian ganti sama sekali.
Semua pakaian mereka masih ada dirumah, belum sempat di bawa kemari.
Dalam bingung Violin yang menemukan ada dua setel kimono berbahan lembut tipis dan dua setel kimono berbahan handuk tebal.
Setelah itu dia baru buru-buru menyusul Andi kedalam kamar mandi.
"Sayang gimana keadaan mu,..? sudah berhenti darahnya ?"
tanya Violin sambil menghampiri Andi, yang sedang berdiri di wastafel kamar mandi.
Melihat Andi yang menyumpal lubang hidungnya dengan dua tisu yang di linting.
Violin pun sambil menahan senyum maju memijit mijit punggung suaminya dengan lembut dan berkata,
"Kalau gak tahan, kita lakukan sekarang aja,.. jadi gak kan mimisan lagi ."
Andi menoleh kearah Violin menggelengkan kepalanya, dia melepaskan dua penyumbat hidungnya yang penuh darah, lalu membuangnya ketempat sampah.
"Gak sayang, kamu sudah lelah, sebaiknya sehabis makan, kamu tidur aja.."
"Aku baik baik saja, kamu tenang aja ."
ucap Andi sambil menyentuh wajah istrinya dengan lembut.
Violin sambil menahan senyum berkata,
"Atau pakai ini saja,..aku bantunya..?"
"Kamu kecil kecil tahu darimana cara jorok itu, siapa yang ngajarin dan ngasih tahu..?"
__ADS_1
ucap Andi kaget dan terbelalak tak percaya.
Violin sambil menahan tawa maju merangkul Andi dan menyusupkan kepalanya di dada Andi, dia pun berkata,
"Tahu lah kak, di mata kakak,.. aku selalu Violin mu yang kecil.."
"Sebenarnya Lin sudah tidak kecil lagi kak, kini umur Lin sudah mau masuk 25.."
"Untuk ukuran gadis lain, mungkin anak mereka sudah pada umur 5 tahun.."
Andi memeluk lembut Violin dan berkata,
"Ya,.. kamu benar,..sayang,.. tapi cara itu kakak gak mau.."
"Bagi kakak bisa begini pun sudah cukup."
"Ayo kita baring baring santai di kasur, sambil nonton film kesukaan kamu.."
"Bentar lagi mungkin makanan mu akan tiba.."
ucap Andi lembut sambil membimbing Violin keluar dari dalam kamar mandi.
Baru saja mereka keluar dari kamar mandi, langsung terdengar bunyi dari arah depan.
"Ting, .! Tong,..!"
"Itu ada yang datang, kemungkinan makanan..aku pergi lihat, .kamu tunggu di kamar aja.."
ucap Andi, yang tidak ingin istrinya yang sedang dalam balutan pakaian tipis dan **** dilihat oleh orang lain.
Violin tersenyum, dan mengangguk dia langsung berjalan menuju kasurnya.
Dia juga tidak mau, dan merasa risih harus keluar dengan pakaian kimono seperti ini, yang menampilkan sepasang pahanya yang putih mulus dan panjang.
Bila yang lihat Andi tentu bukan masalah, tapi bila orang lain tentu dia tidak bersedia.
Violin langsung naik keatas kasur, menyelimuti sebagian tubuhnya, duduk bersandaran santai menghidupkan TV mencari film kesukaan nya.
Andi membuka pintu kamar, mempersilahkan pelayan, yang datang mendorong kereta berisi pesanan makan Andi untuk mendorong kereta tersebut masuk kedalam kamar.
Setelah berbasa-basi sejenak dan memberikan teap untuk pelayan tersebut.
Andi menutup kembali pintu kamar menguncinya, lalu mendorong kereta berisi makanan itu masuk ke kamar tidur privasi mereka.
Melihat Andi mendorong kereta berisi makanan masuk kedalam kamar.
Violin sambil tersenyum gembira, langsung turun dari kasurnya, mengambil tempat duduk di depan meja kecil, yang ada di dalam kamar mereka.
Andi membuka semua penutup makanan, satu persatu dia letakkan diatas meja, membiarkan Violin memilihnya sendiri untuk di makan.
Andi duduk di samping Violin menemaninya makan, yang Violin sudah tidak mau, Andi baru membantunya menghabiskan.
Setelah puas dan kenyang, Violin sambil tersenyum manis, berkata,
"Kak aku sudah, aku mau nonton dulu, kakak lanjut aja ."
__ADS_1
Andi tersenyum lebar, melihat istri kecilnya sudah kembali normal, tidak BT lagi seperti tadi.