AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MENDATANGI KOST ANDI


__ADS_3

Violin menyambut uluran tangan Ronaldo menyalaminya dan berkata,


"Violin,.. makasih ya kak.."


Ronaldo menikmati telapak tangan Violin yang halus dan lembut itu, tapi dia tidak berani lama, takut menakuti Violin


Dengan senyum se simpatik mungkin dia berkata,


"Gak papa ayo lewat sini, kamar kak Andi ada di sebelah sana.."


"Violin pacarnya kak Andi ya ?"


tanya Ronaldo sambil lalu, sekalian menyelidik lebih jauh, apakah Violin sudah punya pacar apa belum..


Violin yang tidak memahami maksud pertanyaan Ronaldo, dia menjawab dengan jujur.


"Bukan do..kak Andi itu pacar kakak ku.."


ucap Violin apa adanya.


"Ohh..."


ucap Ronaldo sambil melangkah sengaja di pelan kan, sehingga ada kesempatan berbincang dengan Violin yang menarik perhatiannya.


Ronaldo adalah mahasiswa kedokteran yang satu universitas tapi beda jurusan dengan Andi.


Berbeda dengan Andi yang mengambil kuliah malam, Ronaldo kuliah dengan jadwal normal, dan hanya fokus kuliah saja tidak bekerja seperti Andi


Ronaldo termasuk anak orang berada, ayah nya adalah pemilik rumah sakit M yang paling terkenal di kota J.


Ayahnya sendiri adalah Dr Prof SPC bedah otak yang sangat terkenal di seluruh negeri ini.


Ibunya juga seorang dokter kandungan terkemuka di kota J dan merangkap jabatan sebagai direktur di Rumah Sakit HK yang juga merupakan salah satu rumah sakit terbesar di kota J.


Ronaldo adalah anak satu satunya kedua pasangan terkemuka di dunia medis itu.


Ronaldo sengaja mengambil kost agar dekat dengan kampus, dia menolak tinggal di apartemen mewah nya, yang juga tidak jauh dari kampus.


Karena di apartemen dia tidak bisa bersosialisasi dengan teman sekitarnya, dia lebih suka menikmati suasana kost yang bebas dan punya banyak teman.


Sehingga kehidupan nya menjadi tidak terlalu sepi.


Berbeda dengan Andi yang pendiam, Ronaldo adalah tipe yang ceria rajin berbicara dan suka bercanda.


Ronaldo sebenarnya cukup tampan, di tambah dia adalah mahasiswa kedokteran dan berasal dari keluarga Borjuis.


Banyak cewek cantik yang berantri-antri, untuk mendekatinya, mulai dari artis sampai model, atau putri teman kedua orang tua nya, yang cantik cantik dan sederajat dengan keluarganya.


Tapi tidak ada satupun di antara mereka yang membuatnya tertarik.


Baru dengan Violin lah yang meski belum dewasa', tapi sekali bertemu dia langsung tertarik.


"Violin tinggal di mana ? udah kuliah apa masih SMA. ?"


tanya Ronaldo tanpa menoleh dan terus melangkah.

__ADS_1


Agar Violin tidak merasa sedang di selidiki, Ronaldo bertanya tanpa menoleh dan terus melangkah dengan pelan.


Kebetulan kamar Andi terletak sedikit di ujung, hal ini memberi Ronaldo kesempatan lebih banyak.


"Sambil tertawa violin berkata,


"Hi...hi...hi..aku masih SMP kelas 3 kak, belum SMA.."


"Rumahku ada di komplek Green House no 17, kenapa kak..?"


tanya Violin heran.


"Ahh maaf ku kira kamu sudah SMA, gak papa sih,.. cuma pengen tahu saja. Rumah mu jauh gak dari sini.?"


ucap Ronaldo berdalih.


"Gak terlalu jauh sih kak, masih sekitar daerah JB ini juga..."


ucap Violin.


Komplek Green House termasuk perumahan kecil menengah ke bawah termasuk sedikit agak masuk kampung, Ronaldo mana mungkin pernah mendengarnya.


Jalanan yang becek dan kotor, Ronaldo bila habis dari sana, bisa bisa sepatunya masuk laundry atau klo.parah langsung di kirim ke TPU ( tempat pembuangan Umum ).


"Violin sekolah di mana ? jauh gak dari sini ?"


tanya Ronaldo kembali.


"Aku sekolah di SMP dan SMA SA apa kak Ronaldo tahu dan pernah denger..?"


"Maaf aku terlalu kuper, sehingga tidak pernah dengar nama sekolah mu.."


Violin tersenyum dan berkata dengan polos


"Biasa' aja kak, sekolah ku memang gak terkenal kok, cuma menang murah aja.."


Akhirnya mereka tiba di depan kamar Andi, dan Ronaldo pun berkata,


"Kak Andi di dalam belum berangkat kuliah, ketuk aja.."


"Aku tinggal dulu bye..senang mengenal mu "


ucap Ronaldo sambil tersenyum simpatik kemudian melangkah pergi.


Sebagai seorang gadis yang berperasaan lebih halus, tentu saja Violin menangkap sinyal-sinyal Ronaldo tertarik dan menyukainya.


Tapi Violin pura pura tidak tahu, karena di hatinya sudah ada yang mengisinya.


Meski itu cuma angan angan yang tidak mungkin terwujud.


Tapi dia juga tidak bisa melepaskan dan melupakan semuanya begitu saja.


Andi di dalam kamar mengutuki si Ronaldo yang banyak mulut dan kepo, memberitahu Violin dia ada dalam kamar.


Tok...tok...tok..!"

__ADS_1


"Kak Andi ini aku Violin...buka dong pintunya.."


ucap Violin sambil mengetuk pintu kamar Andi.


Andi menghela nafas panjang, kelihatannya dia tidak bisa menghindar lagi.


Andi mengambil handuk menutupi kepala dan wajahnya, kemudian dia membuka pintu dengan perlahan dan berkata,


"Maaf baru selesai mandi, ada apa ya Lin..?"


Violin dengan bibir cemberut mendorong pintu hingga terbuka lebar, sambil berkacak pinggang dia berkata dengan marah.


"Kenapa kak Andi tidak tepat janji...!?"


"Kenapa kak Andi menghindari ku, ? tidak terima telpon ku ? juga tidak balas pesan dari ku..? apa salah ku..?"


ucap Violin emosi dan mulai bercampur Isak, sepasang mata nya mulai menggantung dua air bening.


Melihat hal ini Andi semakin bingung, dia juga merasa malu, tidak enak hati dengan tetangga di depan dan di kirinya.


Andi buru-buru memegang tangan Violin dan berkata,


"Maafkan kakak Lin,.. ayo masuk kita bicara di dalam saja.."


"Violin dengan bibir cemberut, tapi dia tidak menolak saat Andi mengajak nya masuk kedalam kamar.'


"Sebagai seorang gadis, sebenarnya dia sedikit sungkan dan malu masuk kedalam kamar pria, tapi terhadap Andi dia tidak mampu menolak."


"Dan dia percaya 100% Andi adalah pria gentleman yang bisa di percaya dan bertanggung jawab."


'Tidak bakalan berbuat macam macam terhadap dirinya.."


Andi cuma mengajak Violin masuk dan merapatkan pintu, tapi dia tidak mengunci ataupun menutupnya secara full.


Andi hanya sekedar merapatkan pintunya saja, setelah Violin masuk kedalam kamar dan duduk di kursi didekat meja belajar Andi.


Andi dengan kepala dan wajah masih tertutup handuk, dia pura-pura berjalan kearah jendela dan membuka jendelanya lebar lebar agar ada angin yang masuk.


Sambil menghadap kearah jendela Andi berkata,


"Lin kamu jangan salah paham, kakak tadi pulang cepat dari Sasana, karena tidak ingin menganggu belajar mu.."


"Kakak memilih menyelesaikannya lebih dulu, ternyata sebelum kamu bubar sekolah semua sudah beres."


"Jadi kakak tidak jadi menghubungi mu langsung pulang ke kost.."


"Karena capek kakak langsung tertidur, lupa mengabari mu, ini salah kakak maafkan kakak ya Lin.."


"Lalu bagaimana dengan penjelasan telpon dan SMS ku yang tidak di balas..?"


tanya Violin.


"Itu juga salah kakak, kakak tertidur sehingga tidak dengar telpon dan bunyi SMS dari mu., maafkan kakak ya Lin..?"


"Sudahlah lupakan saja, kakak darimana dapat uang sebanyak itu, untuk bayar hutang mama ?"

__ADS_1


__ADS_2