AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
DI TOLONG GADIS CANTIK


__ADS_3

Berry sangat tersinggung mendengar ejekan yang di lontarkan oleh Davina.


Harga dirinya sebagai pria sedikit terganggu.


Dia pun berkata,


"Siapa takut,... aku hanya tidak mau kamu nanti terkejut dan terpesona dengan ku.."


"Cih,.. ! tidak tahu malu, ayo buktikan jangan cuma bisa omong besar.."


Decih Davina dengan sikap menghina.


Davina memang sedikit sentimen dengan Berry, yang menurutnya narsis dan tidak tahu malu, over PD, agak menyebalkan.


Sehingga dia selalu ingin melemparkan ledekan ke Berry.


"Buktikan ya,.. buktikan.. siapa takut siapa, tapi apa taruhannya dulu.."


"Kalau gak ada taruhannya, jadi tidak menarik..."


ucap Berry tersenyum menantang Davina.


"Ok,.. siapa takut,.. katakan saja kamu mau taruhan apa, aku akan melayani mu..?"


ucap Davina tidak mau kalah.


"Sudahlah kalian berdua ini, dari bertemu sampai sekarang seperti Anjing dan kucing saja."


ucap Andi sambil tersenyum.


"Nanti jodoh loh.."


ucap Andi menambahkan sambil tertawa.


"Cih.. siapa yang Sudi, Pei...Pei...Pei...amit amit...!"


ucap Davina dengan pura pura meludah.


Melihat hal itu Berry pun tidak terima dan berkata,


"Dasar Kebagusan siapa juga yang suka dengan mu ? coba bercermin dulu sehabis pipis.."


"Kau,..!"


ucap Davina kesal sambil mengangkat tangannya ingin memukul Berry.


Berry menjulurkan lidahnya meledek Davina, sambil berlindung di belakang Andi.


Dan berkata,


"Taruhan belum di mulai aja sudah mau main kasar, apalagi bila sudah jalan dan kalah, ku sarankan pada mu, simpan saja lah tenaga mu."


"Kamu tidak bakalan sanggup menanggung nya, bila kalah.


Jangan mempermalukan diri yang emang sudah malu maluin.."


ucap Berry sambil tertawa puas.


"Kau,... katakan...ayo katakan..apa yang mau kamu pertaruhkan, hari ini nenek mu akan melihat apa yang bisa kamu pertaruhkan..?"


Berry sambil tertawa dia berkata,


"Kau yang minta, jangan menyesal nantinya.


Pasang telinga mu baik baik nenek bawel."


"Aku akan turun main ice skating, berputar putar seperti gadis itu, aku akan meniru gerakan dia sampai bisa."

__ADS_1


"Kalau bisa...He...He..He..aku ingin ..."


ucap Berry sambil tertawa cabul sambil menggosok gosok kan kedua telapak tangannya.


"Kau mau apa...!?"


teriak Davina sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya dan menatap Berry dengan penuh jijik.


"Ha...ha...ha.. sudah ku bilang tadi, kamu tidak bisa menanggung nya,.. ha..ha..ha..jadi lupakan sajalah, pergi sana main, jangan mempermalukan diri sendiri."


ucap Berry sambil tertawa.


Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Sudahlah Vin yuk kita aja yang pergi main, gak usah ladeni dia.."


Davina menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut berkata,


"Kamu hanya bicara seolah olah kamu pasti menang, bagaimana bila kamu yang kalah..."


"Kamu mau bayar dengan apa..?"


Berry sambil menggendong kedua tangannya sendiri dengan penuh percaya diri berkata,


"Kamu katakan saja bebas, selagi aku mampu aku pasti akan memenuhi apapun tuntutan mu.."


Davina berpikir sejenak kemudian dia berkata,


"Baiklah bila kamu kalah berkeliling lah lapangan es ini dengan tubuh t*lanjang bulat, sebanyak 3 kali gimana..? kamu berani..?"


Mendengar permintaan Davina Berry sedikit meragu, wajah nya sedikit pucat.


Bila itu terjadi, dia bisa viral di medsos dan jadi tertawaan semua orang.


Selain itu masih harus menanggung melanggar tata Krama dan sopan santun di muka umum dengan melakukan tindakan pornografi.


Dia bisa kena denda dan masuk penjara karenanya.


ucap Davina tertawa penuh kemenangan.


Dia menarik tangan Andi dan Violin hendak meninggalkan Berry.


Davina sebenarnya di dalam hati sangat takut, Berry akan menerima tantangannya, bila itu terjadi dan Berry sampai menang taruhan.


Dia tidak berani bayangkan apa yang akan di alaminya nanti, dia benar-benar tidak berani membayangkan nya.


Tapi demi gengsi dia tidak punya pilihan, selain berharap Berry mundur dengan teratur.


Tapi tiba tiba dengan nekad Berry berkata,


"Tunggu,..! aku kan belum bilang aku mundur."


"Baiklah aku ikuti kemauan mu mari kita bertaruh.."


"Lalu bagaimana bila kamu kalah.?"


tanya Berry sambil tersenyum mengejek.


Davina sedikit diam di tempat, tapi setelah terdiam sejenak akhirnya tanpa menoleh dan meneruskan langkahnya dia berkata,


"Terserah apa mau mu, aku akan menurutnya.."


"Kamu yang bilang, Andi Violin kalian jadi saksi, jangan sampai saat nenek licik ini kalah.."


"Kalian maju untuk menghalangi ku menagih janji.."


"Aku tidak mau merusak persahabatan kita gara gara hal ini, katakan kalian setuju,.maka pertaruhan ini sah..!"

__ADS_1


ucap Berry sambil menatap Andi dan Violin dengan serius.


Andi menatap kearah Davina, dan berkata,


"Sudahlah Vin batalkan saja pertaruhan tak perlu ini, jangan di teruskan ok,..?"


"Kenapa ke aku, gak ke dia emangnya sudah pasti dia pemenangnya,"


ucap Davina sambil tersenyum mengejek.


"Jangan jangan malah kebalikannya, dia minta kamu bantu batalin hukuman nya.."


Andi menghela nafas panjang dan berkata,


"Sudahlah terserah kalian sajalah resiko kalian tanggung sendiri.."


"Aku gak ikut campur."


"Bagus pegang janji mu di.."


ucap Berry memastikan.


Andi hanya menggelengkan kepalanya malas meladeni Berry dan Davina yang seperti kelakuan anak kecil.


Setelah Andi pergi sambil tertawa mengejek Berry kembali berkata,


"Aku tidak akan sekejam kamu, menyuruhmu Bert*lanjang bulat di depan umum."


"Itu terlalu tidak beradab, begini saja kalau kamu kalah malam ini aku akan nginap sekamar dengan mu di hotel gimana..?"


Davina berdecak kesal dan berkata,


"Dasar mesum, ya sudah terserah padamu.."


"Mari kita buktikan apakah kemampuan mu, sebesar bacot mu.."


Lalu Davina pun meneruskan langkahnya menuju tempat pembelian tiket masuk arena Ice skating sekaligus menyewa semua perlengkapan bermain.


Andi Violin dan Berry pun mengikutinya, sebelum mereka masuk ke arena bermain.


Davina kembali berkata,


"Kamu hanya di beri kesempatan meniru sebanyak 3 kali, bila tidak bisa maka kamu di anggap kalah.."


"Bagaimana..?"


ucap Davina sambil menatap Berry dengan serius.


Beery sambil tersenyum canggung mengeluarkan 5 jarinya di depan Davina dan berkata,


"Lima ok..?"


Davina menggelengkan kepalanya dan berkata,


"3 kali,.. tidak ada ruang negosiasi, bila tidak berani kedepannya nama mu bukan lagi Berry."


"Tapi menjadi kura kura bangsat.."


Beery menatap Davina dengan kesal dan berkata,


"Ya sudah siapa suruh kamu adalah wanita, baiklah aku mengalah daripada nanti bila menang dikatakan cowok picik."


"Mari kita deal..kan saja.."


ucap Berry sambil mengulurkan telapak tangannya kedepan wajah Davina.


Davina pun mengulurkan tangannya menepuk tangan Berry dan berkata,

__ADS_1


"Deal,.. yang mundur adalah kura kura bangsat.."


.Andi dan violin hanya bisa menggelengkan kepala tak berdaya, melihat tingkah laku Berry dan Davina yang seperti anak kecil berebut permen.


__ADS_2