
Lalu dia menunjukkan jalan menuruni tangga lewat pintu samping restoran, menuju ke bagian bawah restoran yang di kelilingi oleh taman wisata alam.
Setelah melewati lapangan rumput pendek, pelayan itu membawa rombongan Andi menuju sebuah saung yang terpencil, terletak di pinggir tebing batu gunung yang terus mengalirkan air bergemericik, menuju sebuah sungai kecil yang berair jernih.
Dari atas bisa terlihat berbagai jenis ikan yang berkeliaran bebas di sungai dangkal tersebut.
Di saung yang nyaman dan sepi itu sudah ada daftar menu masakan lengkap, dan di sediakan bantal guling buat bersandar dan bersantai, untuk meluruskan pinggang dengan bebas..
Sungguh tempat yang Asri dan nyaman, Andi sangat puas dan kagum dengan cara pelayanan yang di lakukan pelayan tersebut.
Pelayan tersebut juga sekaligus bertugas memperkenalkan jenis menu andalan restoran mereka ke Andi.
Dan mencatat semua pesanan Andi, membawanya kedapur untuk di urus secara prioritas.
Tidak perlu menunggu lama, semua pesanan Andi pun tiba, dan di antar sendiri oleh pelayan itu di bantu beberapa temannya.
Setelah menyajikan dan meletakkan masakan dengan rapi di atas meja.
Pelayan itu berkata dengan sopan,
"Silahkan pak di nikmati, kalau ada yang kurang atau memerlukan bantuan..pencet saja tombol ini... saya akan segera kemari.."
Andi tersenyum dan menyelipkan selembar kertas merah kedalam tangannya, saat mereka bersalaman,
"Terimakasih banyak.."
ucap Andi sambil tersenyum.
Pelayan itu menganggukkan kepalanya berulang kali kearah Andi, kemudian segera berlalu dari sana..
"Ayo kita makan.."
ucap Andi sambil tersenyum..
Violin tidak langsung makan, dia membantu mengambilkan nasi buat Andi dulu.
Setelah itu dia pun berkata,
"Sebenarnya apa sih yang kakak bisik ke pelayan itu, hingga sikapnya berubah drastis.."
Andi tersenyum lalu berkata,
"Lin inilah kenyataan hidup yang harus kamu pelajari.."
"Mungkin saat kamu kuliah kedokteran ataupun saat bekerja di rumah sakit nanti..kamu harus ingat bersikap fleksibel tidak boleh terlalu kaku.."
__ADS_1
"Terutama menghadapi orang picik dan materialistis seperti orang tadi, mereka sebenarnya sangat cerdas, hanya mereka bekerja hitung hitungan.."
"Tidak apa-apa jangan memusuhi mereka, rangkul mereka manfaatkan kecerdasan mereka untuk memuluskan pekerjaan dan tujuan mu.."
"Tapi sebelum itu kamu harus kenali need mereka dulu, seperti contoh pelayan tadi neednya adalah uang makanya kakak cukup pake ini.."
"Maka selesailah semua masalah, kita tidak perlu kesal emosi, yang hanya akan membuat suasana hati kita jadi buruk dan tidak nikmat lagi.."
"Ini hanya salah satu contoh need, tapi ingat setiap orang neednya berbeda beda, ada yang uang, ada yang doyan di puji diangkat angkat, ada yang gila hormat, tentu saja ada juga yang gila wanita dan kecantikan."
"Untuk yang satu ini lebih baik kamu menjauh darinya, cari kelemahannya untuk mengancamnya balik, agar tidak sewenang-wenang pada mu.."
ucap Andi sambil menatap kearah Violin sambil tersenyum.
"Nah begitulah Lin..ayo kita makan sekarang.."
ucap Andi..mulai mengambil lauk dan sayur buat Dody Rina, setelah itu buat papa dan mama Viona juga buat Violin.
Sedangkan dirinya sendiri lebih banyak menjadi penonton sambil minum teh.
Violin menatap dengan penuh kagum saat Andi bercerita.
Mama Viona juga sangat berkesan dengan cara Andi memberi penjelasan dan mengajari Violin, untuk menghadapi Lika liku masa depan.
"Kak makanlah sedikit,,.. jangan cuma minum.."
ucap Violin prihatin.
Dia tahu dengan jelas, Andi hanya sedang berlagak tegar saja.
Sebenarnya hatinya hancur sedih hingga tidak nafsu makan.
Andi mengangguk kecil, lalu dia mulai makan sesuap demi sesuap nasi putih di hadapannya dengan kepala tertunduk.
Sambil makan Andi kembali teringat dengan kejadian semalam, saat Viona datang memasuki ruangan pesta.
Viona terlihat demikian cantik dan sempurna, sayang nya pria yang mendampingi nya, dalam pesta pernikahan itu bukan dirinya.
Andi juga teringat dengan pesan Viona yang memintanya melupakan dirinya, Andi tanpa sadar melirik kearah jam tangan yang melingkar di tangannya.
Tanpa sadar airmata nya sudah bercampur dengan nasi, menjadi lauk teman makan nasi putihnya.
Semua lauk yang di ambilkan oleh Violin hanya di biarkan di pinggir saja.
Selesai suapan nasi terakhir, sambil menyedot ingusnya yang sedikit meler, Andi berkata,
__ADS_1
"Aku sudah kenyang kalian teruskan saja, aku ketoilet dulu.."
Lalu Andi pun buru-buru berlalu dari sana, berjalan dengan langkah lebar menuju kearah toilet.
Violin tak lama kemudian ikut menyusul Andi.
Kedua orang tua Viona saling pandang, kemudian mereka hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas sedih .
Andi setelah masuk kedalam Toilet, dia berdiri di depan cermin menatap wajah nya sendiri dengan airmata bercucuran.
Setelah mencuci mukanya sendiri beberapa kali, airmata masih bercucuran, Akhirnya Andi duduk bersandar di tembok toilet menangis tersedu-sedu seorang diri dalam diam, dengan berbantalkan tangan nya sendiri yang di letakkan di atas kedua lututnya, yang sedikit ditekuk kedalam dadanya.
"Kamu meminta aku melupakan mu, melupakan semua kenangan kita, kamu bisa..aku tidak bisa Vi.."
"Katakan pada ku,, siapapun ayo katakan pada ku..gimana caranya.."
"Kecuali aku lupa ingatan.. itulah mungkin obat satu satunya bagi ku agar bisa melupakan mu.."
"Andaikan bisa bertemu Meng Po, mungkin semua ini akan lebih mudah..aku bisa minta semangkuk air pelupa cinta darinya.."
"Tapi itu semua tidak mungkin kecuali aku mati saja,.. .benar aku mati saja.."
"Tapi bila aku pergi, bila dia tidak menepati janjinya dengan baik bagaimana ? tidak..tidak..aku tidak boleh mati dulu..sebelum memastikan kamu benar-benar telah bahagia.."
gumam Andi seorang diri sambil menangis sendiri seperti orang gila.
Andi tidak sadar, ada orang lain yang bersandar di luar tembok bercucuran air mata mendengarkan semua keluh kesahnya.
"Andaikan aku adalah kakak, aku pasti akan masuk kedalam menghiburmu, agar tidak bersedih dan terluka seperti ini.."
"Sayang nya aku bukan, aku bukan kakak..aku tidak bisa menggantikannya, dan di dunia ini tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di hati mu.."
batin Violin dalam hati sambil bercucuran air mata
Andi mengangkat kepalanya dan menatap kosong kedepan, lalu mengeluarkan HP nya dari saku celananya, dia kemudian menunduk memperhatikan foto dirinya bersama Viona dulu.
Andi melihatnya satu persatu sambil mengenang masa masa bahagia mereka, lalu berkata.
"Tidak tahu apakah kehidupan mendatang, apakah kita bisa kembali bersama, aku sungguh berharap itu bisa terwujud.."
"Vi.. tahukah kamu, aku saat ini hanya tersisa harapan kosong yang tidak pasti.."
"Dulu aku sangat takut akan menghadapi harapan tidak pasti ini, makanya aku sangat menghargai mu melebihi apapun.."
"Tapi setelah berjuang sekian lama, dan kita berhasil melewati berbagai macam cobaan dan masalah, tapi akhirnya aku tetap saja harus menghadapi perpisahan seperti ini .."
__ADS_1