
Setelah keluar dari dalam lift, mereka masing-masing pun kembali ke kamar masing-masing.
Andi masuk kedalam kamar nya, mengunci pintu lalu berbaring di kasur hotel yang empuk sambil menatap langit-langit kamar.
Perasaannya tidak pernah bisa tenang setelah mendengar ucapan Ginting.
Ucapan itu membuat Andi benar' benar kacau seluruh perasaan dan pikirannya saat ini.
Andi mengambil HP nya, Andi dengan ragu-ragu mencoba menghubungi HP Viona, Andi berpikir tidak mungkin tersambung.
Viona kan terisolasi di Mess, bagaimana mungkin nyambung, tapi bila tidak mencobanya hatinya terus penasaran.
Tapi anehnya, di luar prediksi Andi, telpon Andi tersambung meski tidak ada yang mengangkat nya.
Hingga akhirnya panggilan Andi terputus, hati Andi berdebar-debar dengan kencang.
Lalu dia kembali menghubungi HP Viona, dan kembali tersambung, tapi lagi lagi tidak terangkat hingga putus sendiri.
Andi semakin penasaran dan bertanya tanya di dalam hati, di mana sebenarnya Viona saat ini.
Bila ada di Mess tidak mungkin dia bisa menghubunginya.
Bila sedang ada diluar bagaimana cara Viona bisa keluar ? dan ada di mana dia saat ini..?
Dari Rabu kemaren Viona sudah bersikap aneh dan mencurigakan..
Sebenarnya apa yang terjadi ? batin Andi seorang diri.
Andi yang penasaran kembali melakukan panggilan, sekali ini telpon Andi di angkat, lalu terdengar suara seorang pria berteriak,
"Vi.. Viona...! telpon dari mantan mu nih..!? mau di angkat tidak..?!"
"Deg..!"
mendengar suara pria itu, hati Andi mencelos ditempat, seolah olah copot dari tempatnya.
Berbagai macam pikiran mulai melintas dalam pikirannya, bahkan muncul wajah Ginting di langit-langit kamar yang sedang menertawai dirinya.
Ingin rasanya Andi melempar HP nya kearah wajah itu, tapi pikiran waras mencegah nya melakukan hal itu.
Dia masih ingin mendengar langsung apa penjelasan Viona padanya, dia ingin mendapatkan jawaban dari Viona.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki buru-buru dan suara Viona berkata dengan panik dan kesal
"Kembalikan HP ku..!"
Sesaat kemudian terdengar suara Viona berkata,
"Ya di,.. maaf ya..aku tadi lagi di toilet, HP tertinggal di meja."
"Malah di angkat sama teman kantor ku.."
"Kamu ada di mana di,.. sedang apa..?"
__ADS_1
ucap Viona sambil berjalan menuju balkon kamar.
Menutup pintu balkon kamar rapat rapat, agar bisa berbicara bebas dengan Andi.
Andi mendengar suara angin yang berhembus menderu-deru, pikirannya semakin kacau, akhirnya Andi pun bertanya kembali tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan Viona.
"Vi..kamu ada di mana sekarang ?"
"Aku lagi ada di luar sedang makan bersama manajer ku dan teman teman kantor.."
ucap Viona berkilah.
"Vi,.. tadi siapa ..? Rio ya, kamu sedang bersama nya. ?"
Viona terdiam sejenak kemudian dia berkata
"Kamu kenapa di,.. ? kok sedikit aneh..?"
"Kamu mencurigai aku, membelakangi mu jalan dengan Rio..?"
"Kamu jangan aneh aneh gini deh..? aku jadinya males nih.."
ucap Viona kesal.
"Maafkan aku Vi,.. pikiran ku sedang kusut.."
ucap Andi mengalah.
"Ya sudah kalau lagi kacau, kamu tenangkan dulu pikiran mu."
ucap Viona mencari alasan untuk memutuskan sambungan.
"Tunggu Vi,.. bentar, aku kangen dan ingin mendengar suara mu..kita ngobrol bentar boleh.."
"Tidak bisa di,..itu teman teman dan manajer ku sudah memanggil ku, aku harus segera kembali.."
"Sebaiknya kamu tenangkan dulu pikiran mu, saat ini bila di paksakan, mungkin hanya akan timbul pertengkaran, aku sedang malas..udahan dulu ya,.. bye..I love you muach.."
ucap Viona lalu panggilan pun terputus.
Andi meletakkan HP nya di kasur dengan lemas, tatapan matanya terlihat kosong penuh kekecewaan.
Andi sangat mencintai Viona dan sangat mempercayainya, tapi dia juga tidak bodoh.
Dia bisa merasakan perubahan sikap Viona akhir akhir ini sangat berbeda dengan 3 Minggu sebelumnya.
Dia dapat merasakan Viona sedang menyimpan sesuatu darinya dan selalu menghindar dari nya.
Andi curiga ini semua pasti berhubungan erat dengan Rio, tidak mungkin tanpa hujan tanpa angin, Ginting tiba-tiba berbisik seperti itu padanya.
Tiada api tanpa asap, di balik ini pasti ada sesuatu, apalagi tadi Andi sempat mendengar suara Rio yang menerima telponnya.
Lalu suara hembusan angin itu, Andi yakin Viona sedang bicara dari balkon kamar dengannya dari tempat tinggi.
__ADS_1
Bisa jadi itu kamar hotel, bisa jadi itu apartemen, apa pun itu.
Hanya membuat pikiran Andi semakin galau dan tidak bisa fokus.
Ingin rasanya Andi berteriak keras-keras, melepaskan rasa yang menyesak di hatinya.
Tapi pikiran waras Andi melarangnya.
Bagaimana pun, di sebelah kamarnya, ada Violin, Andi tidak boleh membuat Violin curiga dan semakin khawatir dengan nya.
Violin masih kecil tidak sepatutnya, terlibat beban pikiran seperti ini, dia harus fokus sekolah..agar kelak bisa jadi seorang dokter yang sukses..batin Andi dalam hati.
Sambil menghela nafas panjang, Andi berusaha memejamkan matanya, dan berusaha menenangkan pikirannya.
Akhirnya Andi mengeluarkan patung Viona dari dalam tasnya dan memandang patung itu lekat lekat dan berbicara seorang diri.
"Vi..apa yang sebenarnya terjadi pada mu.."
"Kita adalah pasangan, baik suka ataupun duka harusnya kita saling berbagi dengan jujur.."
"Agar kita bisa saling bantu, tapi bila kamu tidak jujur bagaimana aku bisa membantu mu.."
"Vi aku benar benar sangat menyayangi dan mencintai mu, apakah kamu tidak tahu itu.."
"Apapun kondisi dan keadaan mu, asal kamu bercerita, aku pasti akan membantumu dan tidak akan pernah menyalahkan mu.."
"Apakah kamu masih belum paham juga..?"
Andi mengoceh seorang diri, sambil memegang patung Viona, hingga akhirnya Andi tertidur pulas.
Pagi pagi Andi terbangun karena suara gedoran di pintu..
"Tok..! Tok..! Tok...! Tok...!"
Andi dengan malas akhirnya, bangun dari kasurnya, Andi menyimpan patung nya dengan hati hati kedalam tas.
Baru beranjak dari kasur nya pergi membuka pintu kamar yang terus di ketok.dari.luar tanpa berhenti.
Begitu pintu terbuka, terlihat dua orang berpakaian jaket kulit dan celana jean ketat dengan rambut dipotong cepak berdiri di hadapan Andi.
Di belakang mereka berdua terlihat ko Ahong Maria Berry dan Violin, sedang menatap kearahnya dengan tatapan cemas.
Salah satu dari kedua orang itu menunjukan sebuah kartu anggota kepolisian nya dan berkata,
"Kami dari kepolisian ingin berbincang sebentar dengan pak Andi, sehubungan dengan kasus cedera fatalnya pak Ginting dalam pertandingan semalam.."
"Harap kerjasama nya, agar mengikuti kami ke kantor polisi untuk mengikuti proses lebih lanjut."
Andi awalnya terlihat terkejut dengan kabar yang di bawa oleh kedua polisi itu.
Tapi sesaat kemudian Andi pun berkata,
"Maaf pak untuk mengikuti bapak berdua, saya mohon ijin di dampingi oleh pengacara saya."
__ADS_1
"Bapak tidak berkeberatan bukan..?"
ucap Andi tenang.