
"San aku gendong ya ?"
tanya James dengan suaranya yang khas.
Wajah Santi langsung merah, dia tentu sangat ingin di hati kecilnya.
Karena dia mulai merasa lelah dan pegal-pegal kedua kakinya.
Tapi untuk mengiyakan dia merasa malu, mereka baru kenal bagaimana dia bisa semurahan itu menerima tawaran James.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Santi mengeraskan hati, menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara lirih.
"Makasih James, gak usah aku masih sanggup.."
James tidak banyak bicara, dia mengangguk kecil dan berkata,
"Kalau gak sanggup jangan sungkan."
Santi mengangguk cepat dengan kepala tertunduk dalam dalam.
"Hei lihat jalan, jangan pelototin cacing tanah terus."
"Tar mati semua,...ha.ha..ha..ha.."
ledek Sarah sambil tertawa.
Santi mengulurkan tangannya ingin mencubit pinggang Sarah, tapi Sarah sudah siaga.
Dia langsung menghindar, dan lari mendekati Andi.
Sambil memegang tangan Andi Sarah berkata,
"Di,... lihat di sana ada donut stroberi.."
Sarah dengan nakal menunjuk kearah wajah Santi dan tertawa nakal.
Andi menoleh melihat kearah Santi yang sedang melototi Sarah dengan wajah merah padam.
Sambil menahan senyum, Andi berkata,
"Aku gak ikutan, tar yang sebelahnya marah bisa berabe.."
Sarah sambil tertawa berkata,
"Takut apa ? kalau dia macam-macam pada mu, biar aku yang membereskan dia.."
Sarah mengedikkan kepalanya menantang kakaknya.
James menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu adiknya, akhirnya dia pun tersenyum.
Melihat James tersenyum Santi yang di sebelahnya sampai melongo karena terpesona.
Andi sambil tersenyum berkata,
"Teman kalau kamu sering-sering senyum seperti itu, aku yakin tidak akan ada gadis yang kuat untuk menolak mu."
"Termasuk dia.."
ucap Andi sambil menunjuk Santi yang melongo.
James langsung menoleh kearah Santi, Santi di dalam hati memaki Andi yang kurang ajar.
__ADS_1
Santi tersenyum Canggung dengan wajah merah, karena ketahuan oleh James, dia tadi sedang melongo.
James menatap Santi, kemudian dia tersenyum lembut kearah Santi dan berkata,
"Apakah kamu menyukai aku seperti ini..?"
Deg... pertanyaan James yang mendadak dan To The Points, membuah Jantung Santi serasa copot dan berhenti berdetak.
Dia bahkan tidak tahu mau jawab apa, untuk menutupi kecanggungan nya, dia menarik lengan James dengan mesra dan berbisik.
"Ayo jalan nanti ketinggalan.."
James mengangguk, menuruti Santi, dia tahu Santi malu dan salah tingkah.
James tidak ingin membuat Santi semakin malu dan canggung.
Tanpa bicara apa-apa, James berjalan mengikuti arah tarikan Santi, yang memeluk lengannya.
Ini pertama kali nya, James lengannya di peluk wanita, jantung James juga berdebar-debar dengan kencang.
Apalagi Santi adalah gadis spesial baginya, hal ini membuatnya menjadi lebih kaku dan grogi.
"Badan mu panas sekali..? kamu demam ya ?"
tanya Santi sambil menatap James.
James menggeleng kecil menanggapi pertanyaan Santi yang mengkhawatirkan keadaan nya.
Dia tidak tahu mau menjawab apa ke Santi, menjawab jujur dia takut Santi menjadi malu dan melepaskan pegangan mesra nya.
Menjawab bohong, dia tidak tahu mau berbohong pakai apa, karena dia tidak biasa berbohong.
Perjalanan ke pos ketiga, sungguh tidak mudah semakin lama semakin sulit.
Viona mulai terlihat kelelahan dan tidak kuat lagi, akhirnya Viona harus pasrah nemplok di punggung Rio.
Meski dia inginnya di gendong Andi, tapi dia tidak mungkin berani pergi meminta Andi menggendongnya.
Kini Rio lah kekasihnya, jadi dia tidak punya pilihan lain selain memilih Rio menggendongnya.
Andi yang melihat hal itu perasaannya semakin tertekan dan hancur berkeping-keping.
Akhirnya Andi mempercepat langkahnya meninggalkan rombongan Sarah Santi dan James.
Andi juga memotong mendahului Viona dan Rio.
Andi bergerak ke garis depan bersama para panitia membantu para peserta wanita menyeberangi sungai dangkal berarus kuat.
Andi sengaja mencari kesibukan sendiri, agar bisa melupakan kedekatan Viona gadis yang sangat dia cintai berdampingan dengan Rio.
Andaikan Viona benar-benar telah berbahagia bersama Rio, tentu Andi bisa melepaskan Viona pergi mencari kebahagiaan nya sendiri.
Tanpa ada penyesalan sedikitpun.
Karena asal Viona bahagia, Andi akan berusaha untuk turut bahagia buat Viona.
Tapi kini Viona melakukan semua ini karena keterpaksaan keadaan, di mana dia juga tidak bisa membantu.
Jadi seakan-akan dia lah yang menyodorkan Viona ke Rio dengan kedua tangannya sendiri.
Hal inilah yang sangat menyakitkan bagi Andi, yang merasa dirinya benar-benar sangat tidak berguna.
__ADS_1
Tidak bisa memberikan kebahagiaan buat Viona.
Setiap melihat kesedihan di mata Viona, Andi akan semakin merasa bersalah terhadap Viona
Saat Andi melewati nya, Viona juga menyadari kesedihan dan berapa besar tekanan yang harus Andi rasakan berjalan di belakangnya.
Dia sangat ingin menghibur dan mendampingi Andi, sayangnya semua itu hanya angan-angan yang tidak mungkin terwujud.
Santi juga kondisinya tidak lebih baik dari Viona, setelah langkahnya beberapa kali terpeleset.
Tanpa menunggu jawaban Santi yang keras kepala dan gengsian itu.
James langsung mengangkat Santi, untuk duduk di bahunya.
"Aihhh..!!"
Santi menjerit tertahan karena kaget.
Tanpa memperdulikan reaksi Santi, James dengan sekali lompatan ringan, di saat orang-orang sedang sibuk.
Dia sudah mendarat ringan di seberang sungai dan melanjutkan perjalanannya.
James bergerak dengan ringan, seakan-akan yang duduk di bahunya bukan apa-apa.
Sarah yang fisiknya jauh lebih kuat, dia tidak terlalu masalah, tapi saat tiba di pinggir sungai.
Andi lah yang menggendong Sarah menyeberangi sungai dangkal tersebut, setelah menyeberangkan Sarah.
Andi berkata,
"Sar aku kembali kesana dulu ya, untuk membantu yang lainnya, kamu hati-hati ya.."
Ingin rasanya Sarah menahan tangan Andi, agar Andi bisa terus menggendongnya seperti tadi, perasaan itu sungguh nyaman berada dalam gendongan Andi.
Betapa hati Sarah menjerit ingin berkata,
"Tidak...tidak...tidak...aku tidak mau..aku ingin kamu mengendong ku, hanya aku seorang.."
Tapi Sarah tidak bisa melakukannya, dia hanya bisa mengangguk dan diam-diam menatap bayangan punggung Andi dengan tatapan sedih.
Akhirnya Sarah dengan airmata berlinang, mempercepat langkahnya, menyusul langkah kakaknya.
Untuk menghibur diri dan melupakan kesedihan dan kekecewaan nya, Sarah menggoda Santi.
"Waduh nyaman ya duduk diatas sana, ?"
"Tapi sepertinya akan lebih nyaman, kalau posisi duduknya di putar, lalu kakak berjalan mundur dan kamu menjadi mata buat kakak ku melangkah.."
ucap Sarah sambil tertawa.
Santi langsung mempelototi Sarah dengan wajah merah.
Dia menangkap maksud perkataan Sarah, Sarah ingin dia menyosorkan bagian rahasianya, ke wajah James.
Ini tindakan yang sangat memalukan dan gila, benar-benar tidak tahu malu.
"Dasar mesum, kenapa tidak kamu sendiri aja, minta ke Andi melakukannya untuk mu."
ucap Santi sengit dan tidak mau kalah.
.
__ADS_1