
Selama Andi di rawat dirumah sakit, setiap hari Violin sendiri yang turun tangan memeriksa luka bekas operasi.
Memberi obat memasang perban, semua di lakukan oleh Violin sendirian.
Hanya saat melakukan scan otak bagian dalam, di sana hadir Prof Peter dan Ronaldo yang datang ikut memantau kondisi Andi.
Setelah menjalani perawatan selama dua minggu dan hasil pemeriksaan terakhir keluar.
Di mana hasil pemeriksaan sangat memuaskan, luka bekas jahitan pun sudah pulih.
Andi akhirnya hari itu di ijinkan meninggalkan rumah sakit.
Andi meninggalkan rumah sakit, ditemani oleh Kedua orang tuanya, kedua orang tua Violin, Violin Berry dan Davina juga turut hadir di sana.
Berry membantu membawakan tas Andi sambil berangkulan mesra dengan Davina.
Sedangkan Andi yang mengenakan topi karena kepalanya masih botak, berjalan berangkulan dengan Violin.
Kedua orang tua Andi dan Violin mengobrol sambil berjalan mengikuti dari belakang.
Mengingat kejadian sebelumnya, kini mama Violin mengobrol dan berjalan bersama mama Andi.
Sedangkan papa Andi berjalan bersama papa violin.
Mereka membentuk dua kelompok, untuk mengurangi kecanggungan.
Andi diantar oleh Violin sampai ke mobil, violin tidak bisa ikut pulang karena masih ada pekerjaan di rumah sakit yang menunggunya.
Andi ikut dengan mobil ayahnya, ayah Andi menggunakan mobil Xpander Andi dulu.
Sedangkan Berry dan Davina menggunakan mobil Alphard sewaan.
Berry tidak beli mobil sendiri, karna di kota J dia juga tidak bisa lama, setelah pertemuan ini, berry dan Davina harus kembali ke New York.
Untuk mengurus Andi Automotif Company cabang yang ada di sana.
Orang tua Violin menggunakan mobil Inova, yang memiliki multifungsi, bisa sebagai kendaraan keluarga, juga kendaraan buat antar pesanan usaha catering mama Violin.
Violin melepas Andi masuk kedalam mobil dengan berat hati.
"Kak maaf ya, aku gak bisa ikut kerumah.."
ucap Violin pelan sambil menatap Andi.
Andi tersenyum membelai kepala Violin dengan lembut dan berkata,
"Gak papa Lin, kamu juga sudah cuti begitu lama untuk rawat kakak."
"Pasti banyak pekerjaan mu yang tertunda dan menumpuk menunggu kamu untuk mengurusnya."
"Kamu uruslah pekerjaan mu dengan tenang, nanti malam jam 9 kakak baru kemari menjemput mu."
"Kamu pulang jam 9 kan malam ni ?"
Violin tersenyum dan mengangguk kan kepalanya,
"Tapi kak bila capek atau sibuk, kabarin aja, gak perlu maksa kesini.."
__ADS_1
"Lin juga udah biasa pulang nyetir sendiri ."
Andi tersenyum dan berkata,
"Capek apa, ? ini aja udah kelebihan istirahat, kamu tenang saja kakak mu kini pengangguran.."
"Selain antar jemput kamu dan temani kamu udah gak ada kerjaan lain.."
Berry yang berdiri di samping pun ikut berkata,
"Begitulah jadi bos enakkan,? gak perlu kerja duit masuk sendiri.."
"Gak seperti aku gaya bos nasib kuli.."
Andi melirik kearah Berry sambil tersenyum berkata,
"Gayanya,.. siapa yang gak tahu, kalau kamu ke kantor cuma cek laba dan pasar saham, terus sisanya main games.."
Davina sambil cemberut berkata,
"Bukan main games, main sama artis artis latin yang berbadan seksi itu kali.."
Andi pun tersenyum lebar mendengar ucapan cemburunya Davina.
Berry tidak berani komen lagi, dia buru-buru memeluk Davina berusaha merayunya menuju mobil cataran mereka.
Andi mencium dahi Violin,.setelah itu diapun menyusul masuk kedalam mobil orang tuanya.
Andi saling melambaikan tangan dengan Violin sebelum mobil itu bergerak meninggalkan rumah sakit.
Buat apa ?
tanya mama Andi sambil tersenyum.
"Mau ngelamar Erica Mei Niang untuknya ? kalau urusan itu kamu ajak aja bapak mu kesana ."
ucap mama Andi menyindir.
Mama ini bicara apa sih,.? anak-anak aja udah besar besar hampir jadi kakek kakek nenek nenek masih aja bahas masalah yang udah berlalu.."
"Gak malu apa, sama anak anak ?"
tegur Charles Huo sambil nyetir.
"Kenapa harus malu,? kamu tuh yang harus malu,..,"
ucap Wilona Ciu tidak mau kalah.
Andi langsung menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Papa,.. Mama,... udah jangan bertengkar lagi, kalau papa mama gak bisa, biar Andi saja kesana sendiri ngelamar Violin."
"Bisa,.. bisa,.. tentu kami bisa.."
ucap papa mama Andi kompak, mereka terlihat sangat gembira.
Saking gembiranya mereka berdua sudah lupa dengan pertengkaran mereka.
__ADS_1
Mereka malah terlihat kompak membicarakan tempat resepsi dan undangan yang akan di sebarkan nanti.
Sepanjang jalan hingga tiba dirumah pun mereka berdua terlihat sibuk membicarakan hal itu.
Andi yang bosan, setelah tiba dirumah dia langsung pergi ke bukit di mana kakeknya tinggal.
Hingga menjelang sore Andi baru turun dari bukit, mandi bersiap-siap kemudian berangkat ke rumah sakit menjemput Violin.
Karena perjalanan cukup jauh, dan Andi takut terjebak macet orang pulang kerja.
Jadi dia berangkat lebih cepat dari jadwal.
Jam 8 pun Andi sudah tiba di rumah sakit, dan langsung pergi menuju ruang praktek Violin.
Andi duduk di ruang tunggu, berbaur dengan pasien yang sangat ramai dan masih numpuk menunggu giliran.
Andi yang tiba lebih cepat dari jadwal sengaja tidak memberitahukan Violin dia sudah tiba.
Dia tidak ingin Violin terganggu konsentrasinya saat sedang kerja.
Tapi perawat penjaga kartu pasien, yang mengurus antrian pasien, memergoki kehadiran Andi.
Saat mengantar kartu pasien kedalam ruangan, dia pun mengabari Violin.
Meski sangat ingin pergi menemui Andi, tapi karena pasien numpuk, Violin terpaksa bersikap profesional.
Dia hanya bisa mencuri waktu saat pergantian pasien,dia mengirim chat ke Andi.
"kak Sory ya, pasien masih banyak, kak Andi tunggu di kantin lantai 2 aja, nanti saya susul kesana, kalau pasien ku habis.."
Andi yang sedang duduk santai, merasa HP-nya bergetar.
Dia buru buru melihat HP nya.
Melihat itu adalah chat dari Violin Andi pun membukanya.
Setelah membaca Andi pun langsung membalas pesan Violin.
"Ok, yang semangat kerjanya, santai aja jangan terburu-buru, kakak akan menunggu mu di kantin bye i love u.."
Setelah mengirim pesan Andi pun berdiri meninggalkan ruang tunggu menuju kantin.
Di tempat lain Violin yang membaca teks kiriman Andi, dia pun tersenyum gembira.
Dan semakin ramah melayani dan menjawab setiap pertanyaan dari pasiennya.
Sambil menunggu Andi iseng membuka game yang sering dia mainkan akhir akhir ini untuk mengisi waktu.
Begitu game terbuka, Andi pun langsung mencari pasangan bermainnya di dalam game tersebut.
Tapi Andi terpaksa melanjutkan pertulangannya seorang diri, karena pasangan bermainnya sedang offline.
Sehingga Andi harus bergabung secara acak dengan pasangan bermain yang lainnya.
Andi hanya sekedar menyelesaikan Quest harian nya, dengan tujuan mengumpulkan point untuk naik level saja.
Tidak bisa mengikuti even dan turnamen yang tersedia tanpa pasangan.
__ADS_1