
"Lin bagaimana keadaan mu sekarang, apakah kamu sudah berhasil.meraih cita cita mu ?"
ucap Andi sambil tersenyum sedih menatap patung di dalam genggaman tangannya.
"Lin tahukah kamu aku kini telah sembuh,. dan berhasil meraih kesuksesan yang cukup baik."
Andi menghela nafas panjang, sebelum kembali bergumam sendiri sambil menatap patung di tangan nya.
"Aku sebenarnya sangat ingin pulang menemui mu, tapi di sisi lain aku juga takut kepulangan ku hanya akan merusak kehidupan bahagia mu bersama nya.."
"Aku sudah mencoba melupakan mu selama 4 tahun ini, tapi aku tetap belum bisa..'
"Aku sendiri juga bingung menghadapi perasaan ku ini.."
"Lin asal kamu tahu, aku juga sudah mencoba mencari kenalan baru, tapi aku tetap tidak bisa."
"Tidak tahu kenapa aku tidak nyaman dan tidak terbiasa, akhirnya aku hanya bisa hdup sendiri seperti saat ini..'
Andi menatap patung ditangannya lekat lekat dan berkata,
"Kamu jangan bosan mendengar ucapan ku yang selalu berulang ulang ini.."
"Karena hanya kamulah satu satunya teman yang tidak pernah menertawai kebodohan ku yang sangat pantas di tertawakan dan menyedihkan."
"Kak Andi,..aku datang...!!"
terdengar suara teriakan dari luar pintu ruangan.
Sesaat kemudian pintu terbuka, didorong dari luar, lalu seorang gadis cantik tinggi semampai rambutnya sedikit pirang dan panjang.
Melangkah masuk kedalam ruangan Andi sambil tertawa ceria.
Andi menoleh kebelakang dan berkata,
"Nicole tumben jam segini kamu sudah datang kemari,? emangnya belum ada laporan yang masuk ke meja mu..?"
Andi sambil bertanya, dia memasukkan patung kesayangan nya, kedalam laci meja di depannya.
Nicole jelas melihat hal itu, dia sudah terbiasa dan tidak mau ambil pusing mencemburui sebuah patung.
Dia lebih memilih sambil tertawa ceria maju menghampiri Andi, menggelayut manja di tangan Andi dan berkata,
"Tentu saja banyak laporan yang masuk, tapi aku lagi malas dan bosan."
"Jadi aku lebih baik datang kemari, menganggu kakak.."
"Kak Andi Nicole lapar nih, temani Nicole sarapan pagi yuk kak ?"
ucap Nicole sambil tersenyum manja.
Andi tersenyum melihat sikap Nicole, setelah tiga tahun selalu bersama hubungan mereka memang menjadi sangat dekat.
"Nicole aku sedang malas keluar, aku masih punya banyak laporan belum di periksa dan di tandatangani.."
"Gimana kalau aku masakan kwetiau untuk mu..di kulkas masih ada bahan itu..?"
Nicole tersenyum senang, lalu menarik Andi menuju kamar privasinya dan berkata,
__ADS_1
"Itu juga boleh, gak masalah malah jauh lebih baik.."
"Karena aku paling suka dengan masakan kak Andi.."
ucap Nicole sambil tertawa gembira.
Andi membiarkan Nicole menyeretnya hingga kedapur.
Setelah tiba di dapur Andi baru berkata,
"Lepaskan dulu pegangan mu, aku baru bisa masak untuk mu.."
"Kamu seperti biasa' aja, cukup duduk manis disana menunggu ok,?"
Nicole mengangguk lalu dengan gembira, dia duduk di meja makan, memperhatikan semua gerak gerik Andi menyiapkan bahan masak.
Andi karena sudah berpakaian rapi, dia melepaskan dulu jas luarnya, mengenakan celemek memasak.
Setelah itu Andi pun mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya sesuai dengan insting memasak nya.
Tidak butuh waktu lama Andi sudah kembali kehadapan Nicole membawa sepiring kwetiau siram daging sapi.
Mencium bau wangi masakan Andi dan penampilan masakan Andi.
Nicole dengan tidak sabar langsung mengambil sumpit.. mencicipi masakan Andi.
"Wow enak sekali, mantab.."
ucap Nicole antusias.
"Ayo bantuin aku makan, aku tidak mungkin habiskan semua sendirian.."
Andi mengangguk, lalu dia juga mengambil sumpit dan sebuah piring kecil.
Andi memindahkan sebagian ke piring kecil baru mulai memakannya.
Saat mengaduk aduk masakan di hadapannya, Andi melirik sekilas ke arah Nicole.
Tiba-tiba Andi melihat di hadapannya adalah wajah Violin yang sedang makan dengan asyik.
Andi buru-buru mengerjapkan matanya, bayangan Violin pun hilang kembali terganti dengan wajah Nicole.
Andi diam diam menghela nafas pelan, lalu menunduk kan kepalanya melanjutkan makan.
Sambil makan Andi malah teringat dengan suasana di mana, dia dan Violin biasanya makan bersama sepiring berdua.
Andi mempercepat makannya, lalu segera membawa piring bekas makannya ketempat cuci piring.
Meletakkan nya di sana, menyalakan kran air mencuci muka nya, lalu mengeringkan nya dengan tisu.
Setelah itu Andi baru mengenakan kembali jasnya.
Untuk cucian peralatan makan dan masak, Andi tidak perlu pusing, akan ada OB yang nanti akan datang mengurus semuanya.
Andi kembali duduk di hadapan Nicole yang terlihat sangat menikmati masakan Andi.
"Mau lagi kak ?"
__ADS_1
tanya Nicole sambil melirik Andi.
Andi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, dan berkata,
"Tidak makasih.."
Nicole setelah menghabiskan sisanya, dia mengambil tisu mengelap bibirnya yang sedikit berminyak.
Lalu dia menatap Andi dengan serius dan berkata,
"Kak papa ku mau bertemu dengan mu ?"
"Ini alamat rumah ku, nanti malam kamu main ya kerumah ku.."
"Gak boleh gak datang loh ya kak ? janji..?"
Andi menatap Nicole dan berkata,
"Kenapa papa mu tiba-tiba ingin bertemu dengan ku,? kita sudah kenal selama ini kamu juga gak pernah cerita siapa papa mu? dimana tinggalnya..?"
Nicole tersenyum dan berkata,
"Dulu belum waktunya, sekarang sudah saatnya kalian bertemu.."
"Udah ya kak, makasih makanannya, aku harus kembali bekerja, bye kak.."
"Jangan gak datang ya awas,..!"
ancam Nicole sebelum pergi, dengan bibir diruncingkan.
Tapi sesaat kemudian dia pun tertawa ceria meninggalkan ruangan privasi Andi.
Andi menghela nafas panjang, memperhatikan alamat yang di berikan oleh Nicole untuk nya.
Dari alamat jala dan nama komplek perumahan yang tertera di sana.
Andi langsung mengenalinya sebagai kompleks kawasan perumahan mewah dengan hunian terbatas milik konglomerat di Nanjing.
Andi lalu melipat lipat kertas tersebut, dan memasukkan kedalam saku bajunya.
Setelah itu Andi pun kembali keruang kerja nya, dan mulai larut dengan pekerjaannya, dimana berkas yang begitu banyak menumpuk di sekitarnya menunggu antrian untuk dia periksa.
Sebelum selesai sekretaris Andi sudah masuk kedalam ruangan, membawa setumpuk berkas yang tiada habis habisnya.
Hingga jam kecil di depan Andi berbunyi, Andi baru sadar ternyata sudah jam 5 sore.
Karena tidak ingin mengecewakan Nicole teman baiknya selama di Nanjing yang sudah sangat banyak membantunya melewati berbagai kesulitan.
Andi buru buru merapikan berkas di meja, lalu dia bergegas pergi mandi berganti pakaian santai yang rapi.
Menggunakan sedikit pewangi khas yang paling dia sukai selama ini.
Yaitu wangi parfum yang sama dengan wangi parfum pemberian Violin padanya.
Setelah bercermin sejenak merasa dirinya sudah cukup layak,.Andi pun memilih sebuah kunci mobil yang bergantung berderet-deret dengan kunci mobil lainnya.
Yang Andi pilih adalah kunci mobil Audi SUV Q7 berwarna putih kesukaan nya.
__ADS_1
Sederhana praktis dan tidak terlalu ribet penggunaan nya.