
"Aduh Vi kenapa kamu datang sih...?"
"Mampus deh.."
ucap Santi lirih.
"Ya Lo sih gak bangunin gue.."
Balas Viona sewot dan sedikit cemberut.
"Haizzz..! ni anak.."
omel Santi mengangkat tangannya menjitak kening Viona.
"Aduh..!"
jerit Viona dengan suara tertahan sambil mengelus keningnya yang jadi merah.
Melihat hal ini Santi jadi tidak enak hati dia segera menjelaskan,
"Aku tadi pagi-pagi sudah manggil-manggil bangunin kamu, kulihat kamu udah buka mata, jadi ku tinggal, pergi mandi."
"Ehh Tahunya pas aku dah siap, eh kamu nya ternyata gak bangun malah tidur lagi."
"Jadi terpaksa ku tinggal, kupikir bangunin juga percuma, lebih baik gak usah ikut OSPEK aja deh."
"Karena kudengar dari para mahasiswa senior di kost, gak ikut OSPEK juga gak masalah."
"Paling-paling tidak bisa ikut kegiatan organisasi di kampus, dan kegiatan-kegiatan organisasi ke mahasiswaan di luar kampus."
ucap Santi sambil berbisik bisik dengan Viona.
"ya sudahlah gak apa-apa, ini salah gue sendiri juga."
ucap Viona membalas lirih dengan kepala tertunduk tidak berani melihat kearah para mentor yang ada di depan.
Tapi Santi dan Viona sedikit heran, sampai acara makan siang bersama.
Tidak ada mentor yang memanggil ataupun ada yang menegur Viona sedikit pun.
Mereka seolah-olah tidak melihat dan menyadari keterlambatan kedatangan Viona.
Padahal sebelum Viona ada dua orang CAMA yang terlambat hadir, mereka langsung di hukum push up 50 kali dan berlari keliling lapangan sebanyak 10 putaran.
Viona dan Santi tidak tahu sebelum acara di mulai, Andi pagi-pagi sudah datang menemui kedua mentor pria yang masih satu angkatan di bawah dirinya.
Andi menunjukkan rekaman HP di tangannya, di mana terlihat Novi Mia dan Eva sedang mengerjai Viona hingga teler.
Kemudian mereka sedang berusaha melepaskan pakaian Viona sambil tertawa-tawa, sampai di situ Andi mematikan HP nya dan berkata,
"Kalian berdua sebagai mentor yang bertanggungjawab atas keselamatan CAMA CAMI baru."
"Kalian juga sudah menandatangani surat pernyataan di hadapan pak Hasan dan Rio,
__ADS_1
Dimana pak Hasan selaku dosen penanggung jawab organisasi kemahasiswaan dan Rio sebagai ketua senat mahasiswa. "
"Bila rekaman ini sampai ke tangan mereka, kira-kira apa yang akan terjadi dengan kalian ?"
tanya Andi dengan dingin.
Kedua orang itu langsung pucat dan berkata,
"Tapi kami tidak terlibat, yang melakukan di sana kan Novi Mia dan Eva, kenapa kakak malah menyalahkan kami.?"
Andi tersenyum dingin dan berkata,
"Aku tentu tidak menyalahkan kalian, kalau aku menyalahkan kalian, apa aku masih akan bicara panjang lebar dengan kalian disini ?"
"Apa maksud kakak dan apa mau kakak sebenarnya ?"
tanya salah satu mentor kurang puas.
Andi menatap nya dengan dingin dan berkata,
"Kalian sebagai mentor punya tanggung jawab melindungi keselamatan CAMA CAMI baru, dengan kejadian ini kalian tidak bisa lepas tangan begitu saja."
"Apalagi pelakunya adalah rekan mentor kalian sendiri, bila di bilang kalian tidak tahu apa-apa siapa yang akan percaya ?"
"Taruhlah terbukti mereka dengan baik hati mengaku kalian tidak terlibat, tapi kalian sebagai mentor tidak tahu mentor lain berbuat hal yang membahayakan nama baik kampus."
"Kalian juga gagal melindungi CAMA CAMI kalian, sehingga terjadi pelecehan, kira-kira gimana nasib kalian nantinya.?"
ucap Andi dengan nada semakin pelan dan dingin.
Kedua mentor junior Andi kini menatap Andi dengan tatapan mata penuh ketakutan dan berkata,
"Kakak tolong lah kami, tolong jangan sampai hal ini di laporkan ke pak Hasan dan kak Rio."
"Kami mohon kak .."
ucap kedua orang itu ketakutan wajah mereka sepucat kertas, keringat dingin membasahi kemeja yang mereka kenakan.
Andi kini tersenyum ramah dan berkata,
"Baiklah aku akan bantu kalian, tapi ada satu syarat.."
"Apa itu kakak katakan saja, jangan kata cuma satu seratus sekalipun kami akan berusaha memenuhinya buat kakak."
Mereka berdua sedikit bisa bernafas lega, melihat Andi sudah bersedia berkompromi.
Andi menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Permintaan ku sangat mudah, aku minta selama OSPEK ini, kalian jaga Viona seperti kalian jaga nyawa kalian sendiri, jangan pernah ada yang mempersulitnya."
"Kalian bisa ?"
Kedua orang itu mengangguk cepat dan berkata,
__ADS_1
"Siap kak..! kami bisa.."
"Bagus sekarang antar saya ketemu 3 biang kerok yang nyusahin kalian."
ucap Andi Santai.
"Baik kak.."
Kedua orang itu langsung mengajak Andi pergi ke ruang kerja mentor, begitu masuk Andi melihat Ketiga orang itu sedang duduk santai tertawa-tawa tanpa dosa, sambil merias diri.
Begitu melihat kedatangan Andi Ketiga gadis itu pura-pura tidak melihatnya dan membuang muka.
Meski Andi masih terhitung kakak kelas mereka.
Tapi mereka tahu persis siapa Andi, di kampus tidak punya jabatan,selain prestasi akademik yang bagus tidak ada hal lain yang bisa di buat bangga.
Kalau di luar kampus lebih-lebih jangan ditanya, cowok kere dan super pelit yang paling hebat cuma makan di kantin Bu Jawi yang super murah.
Apanya yang bisa di banggakan, pergi pulang dari kampus pun cuma nyeker, alias pejalan kaki indah.
Andi tidak memperdulikan respon dari sikap mereka yang menghina, dia hanya menoleh memberi kode kepada dua mentor di sampingnya.
Kedua orang itu langsung ngerti, mereka buru-buru menghampiri Novi Mia dan Eva.
Mereka ber 5 berbicara dengan suara bisik-bisik, Andi pura-pura tidak melihatnya.
Dia berdiri santai menunggu diskusi ke 5 orang itu.
Saat mendengar cerita kedua rekan laki-laki mereka.
Ketiga gadis jutek itu langsung terpekur dengan wajah pucat.
Sesaat kemudian mereka mulai bertengkar sendiri saling menyalahkan, tapi mereka segera di lerai oleh kedua mentor pria itu.
Dengan takut-takut ke 5 orang itu menghampiri Andi, terutama ke tiga gadis jutek itu, kini mereka tersenyum canggung dan berkata,
"Maaf senior ada yang bisa kami bantu ?"
Andi pun membalikkan badannya menatap kearah mereka bertiga dan berkata,
"Di sini yang paling berat dosanya adalah kalian bertiga, bila hal ini diketahui pak Hasan dan Rio."
"Minimal kalian akan di keluarkan dari kampus secara tidak hormat, dan ada kemungkinan akan di black list di semua kampus favorit."
"Atau jadi kalian bisa di bawa keranah hukum, masuk TV masuk koran dan terakhir masuk penjara."
"Ahh kakak tolong jangan kak.."
ucap Ketiga orang itu ketakutan, mereka buru-buru memegang tangan Andi dengan mesra.
"Singkirkan tangan kalian, aku tidak sedang datang untuk berkencan."
ucap Andi dingin.
__ADS_1