AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
RENCANA PEMINDAHAN ANDI


__ADS_3

Sementara itu Andi setelah kedua orang tua nya datang melihat keadaannya.


Dan mendapatkan penjelasan dari Violin, bahwa Andi cedera karena kalah tanding di One Pride.


Mereka berdua meski sedih, tapi terpaksa menerima kenyataan yang ada.


Violin menjelaskan semua pekerjaan Andi selama ini, juga menjelaskan hubungan dirinya, keluarganya, dengan Andi.


Hanya persoalan Andi dengan kakaknya Viona, terpaksa violin lewatkan.


Karena di jelaskan sekalipun tiada manfaatnya bagi kedua orang tua Andi saat ini.


Kedua orang tua Andi sangat berterima kasih kepada Berry ko Ahong, terutama Violin yang dengan setia selalu merawat dan menjaga putra mereka, di saat saat seperti sekarang ini..


"Tante Om,... aku ada sedikit usul tidak tahu bagaimana pendapat Om dan Tante..?"


ucap Violin hati hati sambil menatap kedua orang tua Andi, yang duduk di hadapannya.


"Apa itu nak Violin katakan saja tak perlu sungkan.."


ucap mama Andi lembut.


"Tante aku punya usul, untuk kemudahan semuanya, dan demi kebaikan Andi, agar bisa mendapatkan perawatan medis yang lebih lengkap dan baik.."


"Bagaimana bila kita pindahkan Andi untuk di rawat di kota J di RS M, tentu saja hal ini, bila sudah mendapatkan persetujuan dari Dokter yang menangani kak Andi saat ini.."


ucap Violin hati hati...


Kedua orang tua Andi saling pandang, kemudian ayah Andi lah yang berkata,


"Itu adalah usul yang sangat baik, bila dokter di sini setuju, kami berdua tentu saja tidak masalah.."


Violin mengangguk senang, kemudian dia langsung mengeluarkan hpnya menelpon Ronaldo.


"Do kamu di mana..?"


ucap Violin begitu telpon di angkat.


"Aku yang harusnya bertanya, kamu yang kemana ? di telpon gak di angkat, di cari kesekolah gak ada, kerumah pun gak ada."


"Apa kamu gak tahu tiba tiba hilang gini, bikin semua orang panik, kamu gak tahu seberapa khawatirnya Om dan Tante...dirumah...?"


tanya Ronaldo kesal.


Violin hanya menanggapinya dengan tersenyum dan berkata,


"Kamu tenang saja, aku baik baik saja kok,.aku saat ini ada di kota B bersama kak Andi dan kedua orang tua nya.."


"Semalam aku juga sudah kabarin mama, mama sudah tahu kok, jadi kalian gak perlu panik.."


"Mau ngapain kamu dengan calon kakak ipar mu, yang gak jadi itu ? pake bawa bawa orang tuanya segala. ?"


"Jangan bilang, kamu mau gantiin kakak mu jadi istrinya lagi.."


ucap Ronaldo kurang puas.

__ADS_1


Violin memaksa diri untuk bersabar, karena dia memang sedang ada perlu dengan Ronaldo.


Bila tidak, dia pasti akan langsung berkata,


"Apa urusannya dengan mu, aku mau bersama siapa,.? pacar bukan suami bukan berani ngelarang larang.."


Tapi karena sikon sedang berbeda, Violin dengan sabar berkata,


"Do sabar dulu dengarkan penjelasan ku, kak Andi sedang di rawat di RS B dikota B.."


"Aku berencana memindahkannya ke kota J masuk RS M, kamu bisa bantu aku mengaturnya tidak ?'


Setelah mendengar penjelasan Violin, Ronaldo sedikit terkejut, bagaimana pun dia dan Andi dulu pernah satu kost, cukup akrab, dan sikap Andi juga cukup baik..


"Apa yang sebenarnya terjadi Lin.?"


tanya Ronaldo sedikit tidak enak hati, karena sudah menduga yang tidak tidak tadi.


"Do saat ini aku minta tolong please,.. ini penting, mengenai hal lainnya, saat di Jakarta nanti baru akan ku jelaskan pada mu,.. ok..? tolong kabarin gua segera bila di sana ok.."


ucap Violin cepat kemudian langsung mematikan panggilannya.


Sehabis nelpon, Violin kembali menoleh kearah kedua orang tua Andi dan berkata,


"Om Tante, Violin pamit sebentar ya ? Violin mau pergi temui Dokter Vincen sebentar,


untuk berkonsultasi mengenai pemindahan kak Andi.."


Kedua orang tua Andi mengangguk dan berkata,


Violin mengangguk cepat, lalu dia memberi kode kearah ko Ahong dan Berry.


Kemudian dia buru-buru keluar dari ruangan kamar rawat inap Andi.


langsung pergi menemui Dokter Vincen, di ruangan prakteknya.


Tapi saat sampai di sana, petugas jaga yang di tanya, mengatakan Dokter Vincen baru saja pergi ke kantin..


Violin terpaksa berlari mengejar kearah kantin, sesuai petunjuk perawat jaga tersebut.


Sesampai di kantin, Violin mengedarkan pandangannya kesana-kemari.


Akhirnya Violin menemukan Dokter Vincen yang di carinya, sedang berkumpul dan asyik ngobrol dengan beberapa orang dokter rekan kerjanya.


Violin buru-buru berjalan menghampiri nya,. Violin berdiri di samping dokter Vincen dengan tubuh sedikit membungkuk hormat dia berkata,


"Maaf dokter Vincen aku datang mengganggu waktu istirahat anda.."


Mendengar suara wanita di sampingnya,.dokter Vincen pun menoleh kearah Violin dan berkata,


"Maaf ada apa ya,.. anda ini..?"


Violin mengulurkan tangannya menjabat tangan dokter Vincen, lalu berkata,


"Dokter saya keluarga pasien Andi yang sedang koma itu, nama saya Violin dokter.."

__ADS_1


"Ohh, ya..ya.. saya ingat sekarang pasien operasi otak 3 hari yang lalu itu kan..?"


"Ya benar dok.."


jawab violin cepat.


"Ada apa ? apakah ada perubahan pada kondisi pasien..?"


tanya Dokter Vincen serius.


"Tidak sih dok, belum ada perubahan, cuma begini dok.."


ucap Violin berusaha bersikap tenang.


Berbicara di depan kumpulan dokter, yang menjadi idola dan harapan nya, agar kelak bisa seperti mereka violin sedikit grogi.


Dokter Vincen menangkap sikap panik Violin,.dia segera menarik sebuah kursi lalu berkata.


"Duduklah dulu, mari kita bicara lebih santai.."


"Terimakasih dokter, "


ucap Violin kemudian duduk di hadapan dokter Vincen.


"Begini dokter, mengingat kami dari pihak keluarga pasien aslinya bukan orang kota B, tapi kami semua tinggalnya di kota J.."


"Bisa tidak kami memindahkan pasien untuk di rawat di kota J, agar mobilitas kami untuk merawat dan menjaga Pasien menjadi lebih mudah..?"


ucap Violin hati hati agar jangan sampai menyinggung perasaan dokter di hadapannya ini.


Dokter Vincen mengerutkan alisnya sejenak dan berkata,


"Bisa saja,.. itu adalah haknya keluarga pasien.. hanya saja kalian harus menyadari resikonya.."


"Perjalanan cukup jauh, bila terjadi sesuatu di jalan, itu akan sangat sulit di tangani.."


"Karena perlengkapan di mobil ambulance tentu tidak selengkap di rumah sakit .."


"Asalkan kalian bersedia menandatangani surat bebas resiko rumah sakit terhadap pemindahan pasien, maka semuanya sah sah saja..."


ucap dokter Vincen serius.


Violin terdiam sejenak, sesaat kemudian baru berkata,


"Menurut pengamatan dokter secara medis, seberapa besar bahaya pemindahan tersebut dokter.."


"Berapa persen kemungkinan suksesnya bila pasien di pindahkan."


tanya Violin sambil menatap Dokter Vincen dengan serius.


"Itu tergantung transportasi yang di gunakan, bila dengan helikopter emergency, kurasa kemungkinan suksesnya 95%..."


"Tapi bila menggunakan jalur darat, kemungkinan suksesnya maximal 70%>"


"Tapi itu cuma pengamatan ku saja, tidak ada jaminannya."

__ADS_1


ucap dokter Vincen cepat


__ADS_2