AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
BERBONCENGAN MOTOR DENGAN SANTI


__ADS_3

Andi sepanjang jalan terus tersenyum bahagia, hari ini adalah hari paling berbahagia.


Selama hampir 8 tahun dia selalu mengagumi Viona, baik pagi siang terutama malam, dia selalu akan teringat dan terbayang wajah Viona yang cantik.


Bahkan di dalam mimpi sekalipun dia selalu bermimpi tentang diri Viona.


Tapi baru hari inilah dia bisa ngobrol makan dan jalan bersama dengan begitu akrab, meski diantara mereka ada Santi.


Tapi itu bukan masalah, ini adalah suatu kemajuan baru bagi Andi.


Dia sangat bahagia dan senang hari ini, bahkan ketika pulang ke kost habis mandi dan tidur sekalipun bibir Andi selalu tersenyum.


Pagi itu begitu bangun sehabis mandi dan berpakaian rapi, Andi pun buru-buru pergi ke kampus untuk mengikuti mata kuliah yang diambilnya.


Andi berharap siapa tahu di kampus dia bisa kembali bertemu dan ngobrol dengan Viona.


Sayang nya harapan tinggal harapan, setelah perkuliahan selesai, Andi memang menemukan Viona ada di kelasnya.


Dari banyaknya siswa yang berkumpul di depan kelasnya, Andi bisa menebak sebentar lagi kelas Viona akan segera selesai.


Andi bisa segera bertemu dengan Viona dan melanjutkan obrolan kemaren yang terputus karena sudah sampai di kost Viona.


Andi pun mencari tempat duduk yang agak sepi dan teduh, dengan duduk bersandar di sebuah tiang beton penyangga bangunan.


Andi duduk santai menunggu kelas Viona bubaran.


Tidak perlu menunggu lama kelas Viona pun bubar dan Andi sudah segera berdiri berjalan kearah kelas Viona.


Tapi baru berjalan dua langkah kedepan, Andi yang melihat Viona baru keluar dari kelasnya.


Sudah ditunggu oleh Rio dengan sebungkus bunga segar di tangannya.


Rio berlutut dengan kaki sebelah di depan Viona sambil berkata,


"Vi maukah kamu memaafkan sikap egois ku kemaren, ku mohon terimalah permintaan maaf dari ku."


Gadis-gadis di sekitar sana langsung bersorak histeris, baik yang sekelas dengan Viona maupun yang sedang duduk diluar menunggu kelas berikutnya.


Semua menyoraki dan berteriak,


"Terima..! terima...! terima...!"


Viona sangat terkejut, dia menatap Rio dengan terkejut, sepasang matanya membelalak indah tangannya menutupi bibir mungilnya yang sedikit terbuka, gaya Viona yang alami terlihat sangat mempesona.


Akhirnya Viona sedikit membungkuk dan menerimanya, sambil tersenyum bahagia.


Rio pun berdiri kembali di hadapan Viona dengan tatapan mesra dan senyum bahagia.


Gayanya sangat mempesona.


Para gadis di sekitar sana dengan histeris kembali berteriak,


"Jadian..! Jadian...! Jadian...!"


Wajah Viona menjadi merah Semerah baju kaos yang di kenakan nya.


Viona tertunduk malu tidak berani mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Rio maju menggenggam jemari tangan Viona dengan lembut, kemudian membawanya berjalan meninggalkan tempat tersebut menuju kantin.


"Vi kita sarapan bersama ya ?"


ucap Rio sambil menggenggam tangan Viona yang lembut dan lentik itu, dengan mesra.


Viona tidak menolaknya, dia berjalan dengan kepala tertunduk sambil menggigit bibir bawahnya, mengikuti langkah Rio.


Mereka berdua pun pergi ke kantin untuk sarapan pagi bersama.


Di tempat lain yang terletak tidak jauh dari kelas Viona tadi Andi berdiri terpaku di tempatnya.


Kakinya seperti di paku menempel dengan lantai, tidak bisa di gerakkan sama sekali.


Andi berdiri melongo seperti orang bodoh, melihat situasi yang terjadi di hadapannya itu.


Hingga akhirnya Viona di bawa pergi oleh Rio perlahan-lahan menghilang dari hadapan nya.


Andi hanya bisa tersenyum pahit dan bergumam sendiri sambil melihat bayangan punggung Viona yang perlahan-lahan menghilang dari hadapan nya.


"Andi kamu sungguh naif dan bodoh, Viona itu siapa, kamu itu siapa ? sadarlah sedikit jangan terlalu banyak berkhayal."


"Kamu seperti seekor katak buduk yang berharap memakan daging angsa langit."


Sebuah tangan halus menyentuh pundaknya dan berkata,


"Di kenapa kamu diam di sini ?"


"Kalau kamu suka dengan Viona harusnya kamu mengejarnya, mencegahnya di bawa pergi sama Rio."


"Kamu harus mengungkapkan perasaan mu."


ucap pemilik tangan halus itu menegur sekaligus memberi semangat ke Andi.


Andi menoleh menatap gadis itu dan berkata,


"San sudahlah hal itu cukup kamu yang tahu saja, mencintai bukan berarti harus memiliki nya."


"Asalkan dia bahagia dengan siapapun dia bersama bagi ku tak masalah."


Tapi di...Rio itu..."


"Sudahlah San itu semua pilihan Viona, Viona sudah dewasa dia bisa menilai nya sendiri."


"Kita tak pantas menjelekkan orang di belakang, tidak ada untungnya buat kita hanya menambah dosa."


"Ohh ya, kamu masih ada kelas berikutnya ?"


"Kamu ini selalu aja begitu, lebih rela diam-diam menelan dan menyakiti diri sendiri demi dia."


"Sungguh membuat orang yang melihatnya jadi penasaran dan merasa tidak pantas untuk mu."


ucap Santi jengkel dan kurang puas.


Andi hanya tersenyum sabar menanggapi sikap Santi.


Dia kembali mengulang pertanyaan nya dengan lembut,

__ADS_1


" Kamu masih ada kelas lagi setelah ini ?"


Santi menghela nafas panjang dan berkata,


"Kelas berikutnya siang nanti jam 2 an kenapa ?"


"Mau gandeng tangan ku gantiin Viona sarapan bersama ? hayo siapa takut..."


ucap Santi sambil tertawa.


Andi pun tersenyum dan berkata,


"Kebenaran kelas ku hari ini sudah habis, ikut aku yuk? aku akan kenalkan tempat makan favorit ku yang murah dan meriah."


"Di mana tuh..?"


tanya Santi tertarik.


"Adalah... ikut saja nanti juga tahu ?"


ucap Andi memberi kode dengan kepala nya agar Santi ikut dengan nya.


"Aku sih belum begitu lapar, tapi bolehlah hitung-hitung jalan-jalan, aku tar ngejus aja."


Andi tersenyum dan berkata,


"Terserah kamu deh .."


Kemudian mereka berdua terlihat ngobrol sambil berjalan.


"Ehh di, motor ku di sana kita pakai motor aja yuk ?"


Andi menghentikan langkahnya dan berkata,


"Boleh... pake motor lebih cepat dan santai.."


Andi pun membelokkan langkah nya mengikuti Santi menuju tempat parkir.


Santi menyerahkan kunci motor nya ke Andi, Andi menyadari Santi ingin di bonceng oleh nya.


Sambil tersenyum Andi menerima kunci motor Scoopy hadiah pertandingan mereka kemaren.


Andi memasukkan kunci menyalakan motor tersebut dengan starter.


Setelah nyala, Andi memberi kode agar Santi bisa naik di belakangnya.


Santi pun duduk dibelakang Andi, mereka berdua kemudian membawa Santi meninggalkan kampus dengan motornya.


Angin lembut menerpa wajah mereka berdua yang tidak menggunakan helm, karena jarak antara kampus dan tempat makan favorit Andi letaknya tidak jauh.


Di jalan tanjakan yang berbatu, Santi terpaksa memegang pinggang Andi dengan malu-malu.


Sejak tadi duduk berboncengan dengan Andi pun, Jantung Santi berdegup dengan kencang seperti mau meledak.


Santi sampai takut Andi mendengar detak jantungnya yang sangat cepat dan kencang.


Kini ditambah harus memegang pinggang Andi yang kokoh dan kekar,

__ADS_1


bila bisa terlihat mungkin Jantung Santi kini sudah tidak karuan lagi bentuknya.


__ADS_2