AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
MINUM DAN ROKOK UNTUK PERTAMA KALI


__ADS_3

Sedangkan papa Viona yang merasa sedang di sindir, memilih diam tidak berkata apa-apa.


Daripada nanti salah ucap membuat mama Viona semakin marah.


Violin terus menatap kearah Andi dengan tatapan penuh kasihan.


Dia tahu hati Andi sangat menderita, Andi hanya sedang berpura-pura tegar.


Agar mereka tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya.


"Ma pa,.. hari sudah malam lebih baik kita semua beristirahat .."


"Besok pagi sampai sore kita punya waktu bebas cukup panjang, Andi akan membawa papa mama dan semuanya, jalan jalan dan melihat lihat kampus dimana Viona dan Andi dulu kuliah."


"Setelah itu, kita bisa coba main ke Candi besar yang ada di daerah L yang sejuk."


"Di sana kita bisa jalan jalan, foto foto, dan memanjatkan doa buat kebahagiaan Viona di masa depan."


Mama Viona saling menatap dengan suaminya, kedua Tersenyum sedih.


"Terserah nak Andi, atur saja, kami tinggal ikut saja.."


ucap papa Viona, sambil menepuk bahu Andi dengan lembut.


Lalu dia berdiri merangkul bahu mama Viona, mereka berdua berjalan masuk kedalam kamar mereka, yang terletak di tengah.


Kini di ruang tengah hanya tersisa Violin dan Andi berdua saja, setelah papa mama Viona memilih kembali ke kamar mereka untuk istirahat.


Sedangkan kedua adik Viona, Doddy dan Rina, dari awal masuk apartemen, mereka berdua langsung dengan gembira dan antusias memilih kamar buat mereka sendiri.


Setelah itu kedua anak itu langsung tidur di kamar masing-masing, tidak ada yang keluar lagi dari dalam kamar.


Violin menatap Andi dengan kasihan dan berkata,


"Kak Andi, bila kak Andi ingin melepaskan beban perasaan kak Andi, lepaskan lah, jangan di tahan.."


"Violin siap kok menjadi teman curhat untuk menghibur kakak.."


Andi tersenyum lebar dan berkata,


"Kamu ini bicara apa, seperti nenek nenek saja.."


"Udah malam,.. sudah tidur sana.. istirahat,. kamu juga pasti sudah lelah."

__ADS_1


ucap Andi sambil berdiri di depan Violin, membelai rambutnya dengan lembut.


Setelah itu Andi berjalan meninggalkan Violin seorang diri di sana, Andi kembali ke kamarnya yang terletak di paling depan.


Sambil berjalan Andi berpura-pura menguap, lalu diam diam menghapus dua butir airmatamu yang runtuh ke pipinya.


Violin terduduk diam di sana menatap bayangan punggung Andi, sampai menghilang masuk kedalam kamar.


Dia ingin menjerit memanggil Andi, tapi dia membatalkan niatnya.


Dia tahu Andi tidak bakal membuka perasaannya pada dirinya.


Andi tidak mau membebani pikirannya, yang Andi inginkan darinya, adalah fokus sekolah dan di masa depan menjadi dokter hebat.


Violin sadar betul apa yang menjadi pikiran dan keinginan Andi padanya.


Dia bukan Viona, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi kakaknya, mengobati hati Andi yang sedang terluka dan berdarah.


Sambil menghela nafas panjang, dengan wajah sedih Violin berjalan masuk kedalam kamarnya, yang terletak di seberang kamar Andi.


Andi sendiri setelah masuk kedalam kamar, dia berjalan menuju kulkas, yang terletak di samping lemari pakaian.


Di dalam kulkas ada tersedia, komplimen minuman soda, coklat kacang biskuit dan beberapa kaleng bir, serta ada beberapa botol minuman beralkohol ukuran mini, mirip tester di pesawat.


Andi mengeluarkan beberapa kaleng bir dan semua botol minuman beralkohol mini.


Di balkon di sediakan dua kursi santai, yang di batasi sebuah meja kecil.


Diatas meja kecil ada sebuah asbak rokok, sebungkus rokok dan sebuah pemantik api.


Melihat barang itu sambil tersenyum, Andi meletakkan semua minuman yang dia bawa diatas meja kecil tersebut.


Andi lalu duduk seorang diri di sana sambil termenung dan tersenyum sendiri.


Andi menyalakan sebatang rokok menyedotnya dua kali dan Andi kontan langsung terbatuk-batuk.


Setelah batuk mereda Andi menatap rokok di jepitan dua jarinya dan berkata,


"Banyak orang bilang merokok bisa merusak paru paru dan kesehatan, aku jelas tahu makanya aku tidak pernah menyentuh mu.."


"Tapi ada juga yang bilang, merokok adalah surga dunia, bisa meringankan semua masalah dan beban hidup.."


"Hari ini aku akan mencoba menjajal kehebatan mu, siapa tahu kamu bisa membantu meringankan rasa sakit di hati ku.."

__ADS_1


"Bila berhasil, maka tidak sia sia lah aku mengorbankan paru paru dan kesehatan ku untuk mu.."


Lalu Andi meneruskan menghisap rokok tersebut dalam dalam kemudian menghembuskan nya keluar lagi dari mulutnya.


Begitu berulang-ulang hingga sebatang rokok pun habis.


Andi kembali menyambung untuk yang kedua kalinya.


Di batang kedua Andi mulai terbiasa dengan bau asap rokok, setelah menghisap rokok dalam dalam, Andi tidak mengeluarkan langsung asap rokoknya.


Andi membiarkan asap keluar pelan pelan dari mulutnya, lalu kembali tersedot masuk melalui hidungnya.


Setelah melakukan nya, beberapa kali, tidak sampai setengah batang, Andi sudah mulai merasakan kepalanya menjadi ringan.


Sedikit pusing dan agak fly, Andi sambil tersenyum kemudian mulai membuka kaleng bir dan kembali berkata,


"Orang bilang minum kamu, akan merusak lambung, tapi di saat bersamaan juga ada orang bilang minum kamu, bisa menghilangkan kesedihan.."


"Baiklah hari ini aku akan mencobanya juga, asalkan kamu bisa mengangkat kesedihan di hati ini, semua ini akan menjadi pantas.."


ucap Andi sambil mencengkram erat dadanya yang terasa sangat sakit.


Apalagi didepan matanya muncul bayangan Viona yang sedang menatap dirinya, dengan linangan air mata.


Hati Andi langsung merasakan sakit luar biasa, bila sedang sendirian, dia pasti akan berteriak sekuat tenaga.


Sayang nya saat ini dia sedang bersama keluarga Viona, dia jelas tidak boleh melakukannya.


Andi membuka sekaleng bir lalu meminumnya hingga setengah, kemudian dia membuka botol mini, yang berisi minuman beralkohol kadar 45%.


Menuangkan semua isi botol hingga habis kedalam kaleng bir.


Lalu Andi mulai meminumnya, Andi merasakan tenggorokan dan dadanya sangat panas, seperti terbakar.


Tapi Andi memejamkan matanya, dan terus melanjutkan menegakkannya, hingga kaleng itu kosong, dan dilempar nya kedalam tempat sampah.


Awalnya terasa panas tapi lama lama hilang, saat kadar alkoholnya naik memenuhi Kepalanya.


Perlahan-lahan kesadaran Andi pun mulai hilang, Andi tidak bisa minum dan ini adalah pertama kalinya dia minum.


Tentu saja tubuhnya tidak siap menerima efek dari alkohol tersebut.


Andi mulai tertawa dan menangis sendiri, lalu dengan tubuh sempoyongan sambil memegangi kepalanya yang terasa mutar mutar.

__ADS_1


Andi berjalan masuk kedalam kamar, menuju ranjang nya, Andi langsung terjatuh tengkurap di atas ranjang dan mengoceh sembarangan.


"Sebenarnya yang aku takuti bukanlah gelap apalagi hantu, yang ku takuti justru adalah ada yang menyakiti hati ku hingga hancur berkeping-keping.dan tidak berbentuk lagi.."


__ADS_2