
Sambil tersenyum getir, Andi meraih nota tagihan di hadapannya melihatnya sekilas, kemudian Andi menaruh sejumlah uang di atas meja.
Andi berdiri dari tempat duduknya berjalan meninggalkan bar tersebut, saat tiba di depan pintu, Andi menoleh ke belakang dan berkata,
"Terimakasih banyak bro.."
Bartender itu tanpa menoleh menganggukkan kepalanya dan mengangkat tangannya keatas sebagai salam.
Dia tetap melanjutkan pekerjaannya merapikan meja dan kursi di bar.
Saat keluar dari bar sinar matahari pagi yang cerah, membuat Andi yang baru keluar dari tempat gelap.
Merasa silau, secara reflek dia mengangkat tangannya untuk melindungi matanya dari cahaya terang yang menyilaukan mata.
Setelah matanya mulai terbiasa, Andi baru berjalan menghampiri mobilnya yang parkir tidak jauh dari bar.
Area parkir yang semalam padat, kini terlihat sepi dan lenggang hanya tersisa mobil Andi sendiri saja.
Setelah duduk dalam mobil menyalakan pendingin mobil, Andi merasa ada bau yang aneh.
Andi mengangkat lengannya dan mencium lengan bajunya.
Andi pun sadar bau aneh itu berasal dari bajunya.
Seluruh tubuh Andi mengeluarkan bau alkohol bercampur bau asap rokok dan bau asem keringatnya sendiri.
Andi mematikan pendingin di mobilnya membuka jendela, mengambil penyemprot pewangi mobil yang beraroma mocha dari bawah dashboard.
Menyemprotkannya, lalu menyimpan penyemprot itu kembali ke bawah dashboard, menghirupnya sejenak.
Setelah merasa cukup puas dengan aroma mocha yang kuat itu, Andi baru mengendarai mobilnya meninggalkan area parkir bar.
Langsung kembali ke kost lamanya.
Beberapa saat kemudian saat mobil Andi berhenti di lampu merah, tiba-tiba sebuah mobil sedan Toyota Camry hitam ikut berhenti di sebelah mobil Andi.
Mobil tersebut menggunakan jendela berkaca hitam yang tidak bisa tembus pandang.
Andi hanya meliriknya sekilas, lalu kembali melihat kearah depan.
Tiba-tiba kaca jendela di sebelah supir terbuka otomatis.
Lalu terlihat seorang gadis cantik berambut pirang dengan kacamata hitam, sedang menatap kearah Andi dengan tatapan mata tak percaya.
"Andi...!"
panggilnya sambil membuka kacamata hitam nya.
Andi sedikit terkejut, saat mendengar ada yang memanggil namanya.
Andi menoleh ke samping saat melihat gadis itu Andi pun memangil namanya dengan heran
"Vero..!"
Andi sempat melihat di sebelah Vero ada seorang pria asing, sedang tersenyum dan menganggukkan kepalanya kearah Andi..
Andi pun tersenyum ramah dan membalas anggukkan nya.
"Andi kapan kamu kembali..? kenapa gak kontek kontek..?"
tegur Vero dengan bibir diruncingkan.
Andi tersenyum Canggung, tidak bisa menjawabnya.Saat Andi ingin memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Tiit..tiit..tiiitt ..!!"
terdengar bunyi klakson nyaring dari belakang mobilnya.
Andi tersenyum tak berdaya menunjuk lampu traffic light, kemudian dia memajukan mobilnya. meninggalkan mobil Vero.
Sesaat kemudian HP Andi berbunyi, melihat panggilan datangnya dari Vero Andi mengangkatnya dan berkata,
"Ya Ver.."
Di,.. aku ada di cafe Dooms tidak jauh dari perempatan, di tunggu bye ."
HP pun mati, dengan malas Andi membawa mobilnya mencari kafe yang di maksud.
Akhirnya Andi menemukan cafe yang di carinya itu, Andi memarkirkan mobilnya di seberang kafe.
Andi mengambil parfum cadangannya yang di simpan di dashboard mobil, lalu menyemprotkan nya keseluruh tubuhnya.
Parfum ini sengaja di belikan oleh Violin untuk nya, di taruh di mobilnya buat jaga-jaga, bila sewaktu-waktu di perlukan mendadak.
Parfum ini masih baru belum pernah Andi gunakan, setelah di gunakan Andi tersenyum puas ternyata aroma nya cukup enak mirip permen karet mint daun..
Andi turun dari mobilnya menyeberangi jalan menuju cafe Dooms, Andi mendorong pintu masuk kedalam.
Mengedarkan pandangannya, dia langsung melihat Vero sedang melambaikan tangannya kearah nya sambil tersenyum gembira.
Andi tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menghampiri Vero yang duduk berdampingan dengan pria asing yang mengendarai mobil Camry tadi.
Begitu Andi mendekat, Vero sambil cemberut mengulurkan tangannya menyambut Andi. dan berkata,
"Kamu ya tega, pulang ke kota B gak ngabarin, sudah berapa hari kamu keliaran di sini..?"
Andi menyambut uluran tangan Vero, sambil tersenyum Canggung berkata,
"Tuh udah 3 hari benar benar kelewatan deh.."
ucap Vero merajuk sambil membanting tangan Andi yang sedang bersalaman dengan nya.
Andi tersenyum tidak enak hati dan berkata,
"Aku ke kota B bersama paman mu ko Ahong dalam rangka even one Pride, aku di karantina di hotel selama dua hari baru hari ini aku bebas.."
Vero pun tersenyum kembali dan bertanya dengan penuh antusias,
"Ohh sama paman Ahong, di mana dia sekarang ? bagaimana pertandingan kalian..?"
"Ko Ahong sudah kembali ke kota J, pertandingan berjalan cukup lancar ."
"Ooh ya hampir lupa, ini kenalkan suami ku, Richard.."
Andi sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyalami Richard dan berkata,
"Andi.."
Richard membalas menyalami Andi dan berkata,
"Senang berkenalan dengan anda pak Andi, saya sudah lama mendengar Vero bercerita tentang anda.."
"Hari ini bisa kebetulan bertemu adalah suatu jodoh ."
"Ohh ya, silahkan duduk pak Andi.."
ucap Richard ramah.
__ADS_1
"Sama sama pak Richard.."
ucap Andi kemudian dia ikut duduk di hadapan mereka.
Andi menoleh kearah Vero dan berkata,
"Kapan, ? kok gak ngundang..? lupa ya sama teman lama..?"
Vero tersenyum dan berkata,
"bulan lalu.."
"Kami memang memutuskan menikah secara sederhana, cuma kumpul keluarga saja.
Tidak ada pesta juga tidak ada undangan."
"Davina dan yang lainnya pun juga tidak hadir, baru kemaren, malam Minggu kita adakan makan makan kumpul kumpul teman lama."
ucap Vero menjelaskan.
"Richard baru memulai usahanya, aku tidak mau membebaninya dengan biaya pesta dan lainnya."
"Asalkan kami berdua bisa hidup bahagia dan langgeng itu sudah cukup.."
ucap Vero sambil menyentuh tangan Richard.
Richards membalas memegang tangan Vero dan berkata,
"Terimakasih banyak sayang, kamu adalah kado terbaik dalam hidup ku.."
Mereka berdua saling menatap dengan mesra dan tersenyum bahagia.
Melihat keadaan dan kebahagiaan kedua orang itu, Andi merasa sedikit iri.
Keadaan mereka sangat berbanding terbalik dengan keadaan dirinya.
Sambil berusaha tersenyum Andi berkata,
"Vero richard aku turut berbahagia untuk kalian berdua."
Andi menyalami mereka berdua, lalu berkata,
"Richard kamu harus jaga baik baik Vero, dia adalah gadis yang sangat baik.."
"Kamu tidak boleh melewatkan nya, atau kamu pasti akan menyesal.."
Richard mengangguk dan berkata,
"Kamu benar pak Andi.. terimakasih banyak nasehatnya."
Vero menatap Andi kemudian berkata,
"Aku tidak menelpon mengabari mu, karena aku tahu kamu pasti sedang sibuk."
"Aku tidak ingin menggangu konsentrasi mu.."
"Ngomong ngomong gimana kabar mu dan kekasih mu, kapan kalian menyusul..?"
"Pakai pesta tidak ? atau niru gaya kami..?"
tanya Vero sambil tersenyum dan menoleh sebentar kearah suaminya, baru kembali menatap ke Andi.
Andi mengaduk ngaduk kopi di depannya, dengan kepala tertunduk dan berkata,
__ADS_1
"Aku tentu saja ingin seperti kalian, tapi sepertinya cobaan dari yang di atas sepertinya belum selesai.."