
Andi menerimanya dengan bingung dan berkata,
"Kamu siapa ?"
"Aku ada di mana sekarang ?"
tanya Andi dengan curiga.
"Nama ku Monica, aku adalah salah satu dokter kesatuan pasukan bayangan hitam."
"Atasan ku yang meminta ku merawat mu di sini, ini adalah apartemen pribadinya.."
ucap Monica sambil tersenyum ramah.
"Siapa atasan mu..?"
tanya Andi curiga, dia belum mau minum obat itu sebelum ada kejelasan.
Lagipula saat ini yang paling di khawatirkan bukan dirinya, tapi adalah keselamatan kekasihnya Viona.
Di dunia ini tidak ada yang lebih penting baginya selain Viona.
"Aku atasan nya, kenapa kamu curiga aku bakal mencelakai mu.."
ucap suara berat itu sambil tersenyum ramah..
Melihatnya Andi langsung tersenyum lega, dan langsung meminum obatnya dengan sekali telan.
Setelah menghabiskan obat di dalam gelas kecil itu, Andi mengembalikan ke Monica dan berkata,
"Terimakasih banyak.."
Monica tersenyum dan mengangguk, sambil menoleh kearah James dia berkata,
"Bos teman mu ini keren juga.."
James tersenyum dan berkata,
"Kamu sebaiknya jauhi dia, bila tidak kamu akan terkena racunnya.."
"Maksudnya ?"
tanya Monica heran menatap bosnya.
"Racun cinta.."
ucap James sambil tertawa.
"Bos ini sekarang berubah ya, dikit dikit bicara cinta."
"Kelihatannya istri bos sangat luar biasa' ya..?"
James tersenyum tidak menanggapi ledekan Monica, yang memang cukup akrab dengan nya.
Karena Monica masih terhitung adik seperguruannya, yang lebih memilih ilmu pengobatan.
Meski begitu, ilmu beladiri nya juga termasuk lumayan dan cukup bisa di andalkan.
James menatap kearah Andi dan berkata,
"Bagaimana keadaan mu saat ini..? apa sudah lebih baik ?"
Andi mengangguk dan berkata,
"Aku sudah cukup baik, makasih James."
"Tapi aku mengkhawatirkan Viona dia.."
__ADS_1
ucap Andi terputus di jalan karena di potong oleh James.
"Kamu tenang saja, Viona baik baik saja."
"Kini dia sedang beristirahat di kamar sebelah, dia terlalu Syok semalam, sehingga masih belum sadarkan diri sampai sekarang.."
"Bila kamu mau melihatnya, dia ada di sebelah.."
ucap James sambil tersenyum.
"Yang benar James..? kamu tidak sedang bercanda dengan ku kan..?"
ucap Andi tak percaya.
James tersenyum menggunakan tangannya, memberi kode agar Andi bisa pergi mengeceknya..
Dr Monica menjawab dari belakang,
"Bos pasukan bayangan hitam sudah turun tangan, masihkah ada yang tidak bisa di selesaikan.."
"Rio itu apa ? keluarga Ferdinand itu apa ? apa mereka bisa di bandingkan dengan Khalid dan Osama..?"
"Monic...!!"
tegur James..
Monica langsung meleletkan lidahnya, lalu berlalu dari sana.
Andi menatap kearah James dengan kagum dan berkata,
"Apa sebenarnya latar belakang mu James,? kenapa sepertinya penuh misteri.."
James menghela nafas panjang dan berkata,
"Pokoknya bukan hal yang baik, kami bekerja bukan berdasarkan kebaikan,.. tapi uang ."
"Dan sekali ini adalah pertama kalinya kami bekerja tanpa tujuan uang, membela yang benar dan melawan yang salah ."
"Ini juga pertama kali nya lawan kami di biarkan hidup, Rio sungguh beruntung karena Viona mati matian melindungi nya.."
"Aku tidak tahu alasan nya,lebih baik kamu bicara sendiri saja dengan nya.."
ucap James.
Kemudian dia berjalan meninggalkan kamar Andi.
Andi duduk termenung di tempat tidurnya, sesaat setelah mendengar yang di ucapkan oleh James.
Lalu dia mencoba turun dari kasurnya berjalan kearah kamar Viona.
Andi melihat Viona tertidur dengan nafas teratur dan di selimuti dengan rapi.
Melihat wajah Viona yang sedang tidur begitu tenang dan cantik Andi tersenyum lega.
"Vi,.. maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu dengan baik, dan selalu membuat mu menderita dan ketakutan."
"Melihat wajah mu yang begitu tenang saat tidur, aku sungguh berharap kamu bisa terus seperti ini.."
"Tapi saat kamu bangun nanti, aku yakin kamu pasti akan kembali kenyataan yang pahit dan menyedihkan..aku benar-benar tidak tega melihat nya.."
"Asalkan kamu bisa bahagia, apapun yang kamu inginkan, aku pasti akan meluluskan nya kamu tenang saja sayang.."
gumam Andi sambil duduk di sisi Viona dan membelai kepala nya dengan lembut.
Viona perlahan lahan membuka matanya, saat melihat yang duduk di sisinya adalah Andi.
Dia tidak terlihat terkejut, dia hanya memaksakan dirinya sedikit tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kepala mu yang terluka, apa sudah lebih baikan..?"
Andi tersenyum lembut dan berkata,
"Aku baik'baik saja, tidak perlu khawatir.."
Sesaat mereka berdua terdiam tidak bersuara cukup lama.
Akhirnya Viona membuka suara,
"Di aku.. dan dia..."
Viona terlihat sedikit ragu untuk bercerita, dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya yang menggantung.
Dia menghela nafas panjang dan berkata dengan tatapan kosong.
"Di...kamu lupakan saja lah aku..aku tidak pantas lagi untuk mu.."
Andi menghela nafas panjang, sambil menoleh kearah Viona, Andi menatap wajah Viona dari samping dan berkata.
"Vi,.. masih kah kamu percaya pada ku, percaya dengan cinta kita ?"
"Bila masih bercerita lah dengan ku, dari awal aku siap mendengarkan, dan aku pasti akan membantu mu mencari solusi, untuk memecahkan apapun kesulitan yang kamu alami.."
"Kamu ingin aku memulai nya dari mana..?"
tanya Viona sambil termenung sedih.
"Sebenarnya apa yang terjadi 2 Minggu yang lalu, saat kamu tiba tiba menghilang dan lost kontek hingga semalaman..?"
tanya Andi sambil menatap Viona dengan sabar.
Viona perlahan lahan menoleh melihat kearah Andi dan berkata,
"Kamu benar-benar ingin tahu ? tapi ini adalah hal yang paling tidak pantas di ceritakan, sangat memalukan dan menyakitkan."
Andi mengangguk serius, dia menatap Viona sambil tersenyum sabar dan berkata,
"Ceritakan lah aku siap mendengarkan semuanya."
Sambil menghela nafas menenangkan perasaannya sendiri,. sesaat kemudian Viona baru mulai bercerita,
"Ini semua berawal dari ajakan pergi karaoke bersama manajer SDM Calvin saat kami selesai belanja."
"saat itu aku sudah berusaha menolak, karena kita punya janji ngobrol sekali seminggu, dan hanya waktu itu yang kita punya.."
ucap Viona sambil menatap Andi dengan tatapan menyesal.
Andi mengangguk dengan sabar dan menepuk punggung tangan Viona dengan lembut dan berkata,
"Teruskan lah tidak apa-apa.."
"Tapi semua rekan ku memaksa, karena menurut Calvin, bila satu batal ikut, maka keseluruhan acara batal."
"Karena mereka semua terus memaksa dan membujukku, untuk ikut akhirnya aku menyerah..dan ikut dengan mereka.."
"Di sanalah kesalahan ku di mulai.."
ucap Viona termenung seperti sedang membayangkan kejadian saat itu.
Dari sudut matanya Andi melihat ada kesedihan dan penyesalan yang sangat besar di dalam sepasang mata kekasihnya yang indah.
Viona sambil termenung kembali melanjutkan ceritanya.
"Karena terbawa suasana gembira, kami semua mulai karaoke dan minum, sambil bercanda dan tertawa.."
"Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat,"
__ADS_1