AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
KEDATANGAN KEDUA ORANG TUA VIOLIN


__ADS_3

"Panjang ceritanya ma bila harus di jelaskan lewat telpon.."


ucap Violin lesu.


"Baiklah kamu tunggu di sana, mama akan segera kesana bersama papa mu.."


ucap Mama Viona kemudian mematikan teleponnya.


Setelah menyimpan HP nya, Violin menatap Andi dengan tatapan sedih, tanpa tertahan kan airmata nya perlahan-lahan kembali jatuh membasahi pipinya.


Violin menggeser kursi yang didudukinya, agar lebih rapat keranjang Andi.


Sambil meletakkan kedua tangannya di sisi ranjang Andi. Violin sedikit merendahkan tubuhnya, mendekati samping telinga Andi kemudian berkata,


"Kak Andi,.. kalau kamu bisa mendengar ucapan ku, kamu dengarlah kak, tak perlu menjawabnya tidak apa-apa.."


"Kak Andi,.. apapun yang kelak akan terjadi, Violin selamanya akan mendampingi kakak selama nya.."


"Violin tidak akan biarkan kakak kecewa bersedih dan kesepian.."


"Violin akan selalu ada di sisi kakak.."


Violin memperhatikan reaksi Andi sejenak, kemudian dia baru kembali meneruskan berkata lagi.


"Kak Andi,.. dengarkan Violin kak, ayo bangunlah,.. sadarlah,.. kakak harus berjuang.."


"Ingat janji kakak dulu sama Violin, kakak tidak akan pernah meninggalkan violin kan kak..?"


"Kak Andi,.. dengarkan Violin,.. bukankah kakak ingin lihat Violin jadi dokter sukses,..?"


"Bila kakak terus seperti ini, bagaimana Violin bisa punya semangat untuk melanjutkan sekolah, hingga jadi dokter sesuai harapan kakak..?"


"Bila kakak tidak bangun, atau pergi meninggalkan Violin, Violin tidak bakal punya semangat lagi untuk jadi Dokter sesuai harapan kakak.."


"Semua jadi tidak berguna kak, karena bila violin berhasil sekalipun, kakak sudah tidak bisa melihat nya.."


"Oleh karena itu berjuanglah kak,.. berjuanglah untuk bangkit kembali..demi Violin berjuang lah kak.."


Setelah menyampaikan isi hati dan perasaan nya, violin sambil mengatur nafas, dia kembali memperhatikan reaksi Andi.


Tapi saat dia melihat Andi tidak memiliki reaksi apapun, violin hanya bisa menghela nafas kecewa.


Violin melihat bibir Andi yang terlihat kering, dia menggunakan jarinya yang di celupkan kedalam gelas air minum.


Lalu dengan lembut dia menyapukan nya, membasahi bibir Andi dengan pelan dan lembut.


Melihat Andi yang tidak bereaksi diam seperti mayat hidup, Violin pun menjadikan Andi sebagai teman curhat nya.

__ADS_1


Tanpa perlu khawatir, ada yang terluka ataupun tersinggung karena cerita nya.


Selain itu, dia juga tak perlu khawatir ceritanya akan bocor keluar kemana mana.


"Kak Andi,.. kamu tahu tidak kelihatannya pengorbanan kak Andi buat kebahagiaan kak Viona jadi sia sia loh.."


"Kelihatannya kehidupan kak Viona juga tidak sedang baik.."


"Soalnya sewaktu di RS B sewaktu kita masih di kota B,.aku dengan mata kepala ku sendiri..memergoki si bajingan Rio, sedang merangkul wanita lain lewat di depan ku..'


"Melihat kemesraan mereka, kelihatannya hubungan mereka tidak biasa..."


"Bila kelak kak Viona sampai tahu, entah apa reaksinya saat itu.."


"Kak Viona telah salah melangkah, tapi dia tidak memperbaikinya, malah semakin melangkah semakin dalam meneruskan kesalahan nya.."


"Aku sungguh sungguh khawatirkan kehidupan nya, di hari hari mendatang.."


"Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi semua adalah pilihan kakak sendiri, aku hanya merasa semua pengorbanan kak Andi jadi sia sia.."


Violin sambil menghela nafas panjang dia membelai pipi Andi dengan lembut dan berkata,


"Andaikan aku bisa gantikan posisi kakak di hati mu, alangkah akan bahagianya hidup ku.."


Setelah berkata, Violin, pun bangkit berdiri, sambil menghela nafas panjang.


Saat Violin pergi, sepasang pelupuk mata Andi sedikit bergerak gerak, jari telunjuk dan jari jempol kakinya juga ikut bereaksi.


Dari kedua sudut matanya yang terpejam rapat mengalir dua butir air bening, yang mengalir jatuh ke bantal yang dia gunakan.


Tidak ada yang tahu, itu adalah airmata haru, mendengar ungkapan perasaan Violin padanya.


Atau airmata kesedihan mendengar kehidupan wanita yang sangat dia cintai mengalami ketidak kebahagiaan.


Tepat Violin keluar dari kamar mandi, dia mendengar bunyi ketukan di luar ruangan.


Violin buru-buru berjalan kearah ruang depan, lalu membuka pintu kamar, yang bila tertutup secara otomatis akan mengunci.


Orang dari luar tanpa memilik kunci pas masuk yang menggunakan kartu yang di tempelkan di dekat handle pintu.


Pintu tidak akan bisa di buka dari luar, makanya Violin harus membantu membuka nya dari dalam.


Atau dengan bantuan petugas perawat penjaga yang memiliki kartu master.


Baru pengunjung bisa masuk menemui pasien, ini adalah salah satu fasilitas privasi pasien, yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Demi keamanan dan kenyamanan pasien, agar tidak terganggu dengan pengunjung tak di kenal.

__ADS_1


"Pa.. Ma,.. kalian sudah datang ayo masuklah.."


ucap Violin begitu pintu terbuka.


Violin sudah melihat dari monitor kecil di samping pintu kamar, dari monitor kecil itu, Violin bisa melihat dan berbicara dengan orang yang berdiri di depan pintu kamar.


Begitu masuk Mama Viona langsung bertanya,


"Andi di mana Lin..?"


"Ada di dalam ma,.. yuk lewat sini.."


ucap Violin sambil berjalan mendahului kedua orang tua nya masuk kedalam kamar tidur.


Dimana terlihat Andi tertidur dengan wajah pucat dan sekujur tubuh di pasangi alat medis.


Melihat keadaan Andi, mama Viona sudah tidak bisa menahan sedu sedan nya..


Dia langsung menghampiri Andi duduk disampingnya, memegang tangan Andi dengan lembut, dan berkata,


"Andi ini mama nak,.. mama datang menjenguk mu...ayo bangunlah nak.."


"Mama tahu kamu, adalah yang paling kuat dan berani,.. ayo bangunlah nak,.. jangan bikin kita semua bersedih dan mencemaskan mu.."


Mendengar ucapan mama nya, violin langsung membuang mukanya kesamping, menutup mulutnya sendiri dengan tangan nya, berusaha menahan suara tangisannya.


Papa Viona juga berdiri di belakang punggung istrinya, sambil menepuk-nepuk pelan bahu istrinya.


Dia juga memandang ke arah Andi dengan tatapan sedih dan kasihan.


Setelah membiarkan mamanya meluapkan perasaannya, Violin akhirnya melangkah keluar dari dalam kamar.


Dia duduk di sofa ruang tengah, menunggu kedatangan kedua orang tua nya.


Violin tidak ingin berbicara dan berisik di dalam kamar.


Sesaat kemudian Mama dan Papa Viona ikut duduk di hadapan Violin.


Setelah mereka berdua duduk, Violin pun langsung ke pokok masalah, dia menjelaskan semua yang dia tahu dari awal hingga akhir.


Sepanjang violin bercerita, mama Viona dengan geram terus memaki maki Viona, dengan kesal sambil menangis dalam pelukan suaminya.


Wiliam Lin tidak berkomentar apa apa, dia hanya terus berusaha menenangkan perasaan istrinya, yang kecewa dan sedih dengan sikap dan tingkah laku putri pertama mereka.


Bersamaan dengan Violin menyelesaikan ceritanya, pintu kamar kembali di ketuk dari luar.


"Sebentar Pa Ma.. violin mau cek siapa yang datang.."

__ADS_1


ucap Violin sambil beranjak pergi ke arah pintu.


__ADS_2