
"Kini yang kurang hanya tinggal kamu, Davina bersediakah kamu menerima ku untuk menjadi pendamping hidup mu.?"
ucap Berry sambil berjongkok di hadapan Davina dan memegang jarinya dengan lembut.
Kemudian dia memasangkan cincin berlian yang berkilauan kejari manis sebelah kanan Davina.
Sambil memasangkan cincin Berry berkata
"Davina kecuali kamu sudah punya suami, atau pasangan lain, bila tidak ku mohon jangan pernah lepaskan cincin ini dari jari mu.."
Setelah berucap Berry menatap Davina dengan tatapan penuh harap.
Davina menggunakan tangan kirinya menutupi mulutnya, sepasang matanya langsung berkaca kaca karena terharu.
Erika saking kagetnya,.dia jadi berdiam disana menjadi saksi bisu untuk Berry dan Davina.
Davina akhirnya ikut berlutut di hadapan Berry, dia langsung melingkarkan kedua tangannya kebelakang leher Berry.
Davina menyandarkan kepalanya di pundak Berry dan terus menganggukkan kepalanya tanpa bisa berkata-kata.
Hatinya sangat terharu dan bahagia dengan sikap dan ketulusan yang Berry tunjukkan padanya.
Sejak perpisahan terakhir mereka, sebenarnya dia mulai menaruh perasaan yang sam terhadap Berry.
Hanya karena gengsi, sebagai wanita dia tidak berani mengatakannya.
Sedangkan Berry justru menanggapi candaannya yang meminta Berry punya pesawat dulu baru mengejarnya itu, dengan serius.
Hal itu membuat Berry mundur dari nya, sebenarnya dia sedikit menyesal hari itu, setelah berpisah dengan Berry.
Dia menyesal tidak menarik kembali dan mengungkapkan perasaannya ke Berry.
Sebenarnya dengan kecantikannya, banyak pria yang mengejarnya, terutama para pria duda dan pria beristri.
Tapi dia selalu menolaknya dengan tegas, selama ini dia juga terus membanding bandingkan pria yang dekat dengan nya dengan Andi, atau minimal seperti Berry.
Tapi dia selalu tidak pernah berhasil menemukannya, yang cocok dengan hatinya.
Hingga saat ini tiba tiba Berry muncul memenuhi semua harapan dan keinginannya.
Berry bahkan langsung melamarnya, kebahagian ini sungguh tak terlukiskan dan sulit di ungkapkan, mungkin hanya dia yang tahu bagaimana perasaan bahagia yang dia rasakan.
Berry menoleh kearah Erika sambil tersenyum dia berkata,
"Terimakasih Erika, kamu sudah bantu aku menemukan belahan hati ku yang hilang.."
"Akhir bulan nanti kamu dapat bonus 1 bulan gaji tambahan.."
Davina dengan wajah merah memukul lengan Berry dengan pelan.
Sebagai teguran atas ucapan Berry yang memalukan tapi menyenangkan.
Berry hanya tersenyum lebar menanggapi teguran calon istrinya yang malu.
Erika yang mendengar ucapan Berry langsung tersenyum senang dan berkata,
"Terimakasih banyak bos.."
Dia buru buru memberi hormat kearah Berry, dengan semangat, kemudian mendorong kereta makanan minuman, segera meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Berry membantu Davina untuk berdiri, lalu dia merangkul bahu Davina mengajaknya menghampiri bangku Andi dan Violin.
Saat mereka tiba di sana, mereka juga melihat situasi tidak kalah romantis.
Dimana terlihat, Violin merangkul lengan Andi dengan erat sambil menyandarkan kepalanya di lengan Andi.
Sedangkan Andi menggunakan lengannya yang lain terus membelai kepala Violin.
"Di,.. lihat aku bersama siapa ?"
ucap Berry sambil tersenyum gembira.
Andi menoleh kearah Berry, saat melihat Berry bersama Davina, Andi menunjuk Davina dengan kaget dan berkata,
"Ehh Vin,.. kok bisa..?"
Davina tersenyum malu melirik kearah Berry, dia tidak jawab.
Berry sambil tersenyum menunjukkan Cincin di jarinya dan cincin di jari Davina, lalu berkata,
"Tentu aja bisa, karena dia sekarang adalah pendamping hidup ku.."
Andi pun tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya menyalami kedua orang itu secara bergantian dan berkata
"Selamat ya, aku turut bahagia untuk kalian berduaan."
"Semoga selalu langgeng sampe tua nanti.."
Berry tersenyum lebar, sedangkan Davina tersenyum malu.
Tiba tiba terdengar peringatan dari Erika, agar memasang sabuk pengaman, karena pesawat akan segera berangkat.
Berry segera berkata,
Andi mengangguk kearah Berry, lalu dia terlihat sibuk membantu memeriksa sabuk pengaman Violin, baru dia memasang punya dia sendiri.
"Sayang kamu terakhir kerja di perusahaan penerbangan CP kan,..?"
tanya Berry ke Davina,.selagi pesawat sedang take off..
Davina mengangguk dan berkata,
"Ya kenapa gitu .?"
"Siapa sih orang penting dan pilot yang membully mu, hingga kamu mengundurkan diri."
tanya Berry santai.
Davina menghela nafas panjang dan berkata,
"Ohh masalah itu,.lupakan saja gak penting itu."
"Aku juga benarnya dah bosan juga kerja di sana, capek.."
"Hanya saja karena gak punya keahlian lain, sedangkan biaya jalan terus.."
"Mau gak mau ya jalanin aja.."
ucap Davina ringan.
__ADS_1
Berry mengangguk dan berkata,
"Ya sudah mulai sekarang kamu bantu aku aja, gimana ?"
Davina sambil melirik Berry dia tersenyum dan berkata,
"Bantu kamu ada gaji nya gak ?"
Berry tertawa dan berkata, sambil membuka laptopnya.
"Kalau kerja di sini mau ? sebagai dewan direksi ?"
"Gajinya nanti dari keuntungan saham tahunan dan bulanan,."
Sepasang mata Davina terbelalak melihat lambang logo perusahaannya yang lama, yang muncul di layar monitor Berry.
Berry tersenyum dan berkata,
"Aku dulu iseng beli saham ini, karena ingat kamu kerjanya di sini."
"Aku berharap kalau sedang meeting kesana, sesekali mungkin bisa bertemu dengan mu.."
"Tapi kenyataannya kantor pusat dan kantor kalian pisah tempat, bahkan pisah kota.."
"Lama lama pun aku gak pernah ikut hadir mengurusnya, biar yang lain saja yang urus."
Davina menatap Berry sambil menggeleng gelengkan kepalanya dan berkata,
"Kamu ini kalau lakukan sesuatu selalu setengah-setengah, untung kamu punya Andi.."
Berry tersenyum lebar dan berkata,
"Kini di tambah dengan mu, semakin beruntung lagi aku.."
"Dengan pengalaman mu, sebagai mantan dari sana, tentu lebih paham situasi di sana.."
"Aku rasa paling tepat emang kamu yang kesana urusnya.."
"Ini saham ku di sana, satu atas nama ku, satu lagi atas nama Andi."
"Bila ditotal saham kami disana tembus 55% suara kami di sana cukup di perhitungkan, gimana minat gak ?"
Davina menatap Berry dengan serius dan berkata,
"Kamu serius percayakan perusahaan CP ke aku ?"
Berry membelai lembut kepala Davina dan berkata,
"Di dunia ini selain Andi, kamulah orang yang paling bisa aku percaya.."
"Makasih ya Berr.."
ucap Davina sambil menyandarkan kepalanya di bahu berry.
Di bagian paling depan Monica yang duduk di samping James, sesekali, dia akan menoleh kebelakang menatap kearah Andi dan Violin dengan perasaan iri.
Sedangkan di bangku tengah terlihat Violin sedang mendengarkan cerita pengalaman Andi selama ini dengan serius.
Andi menceritakan semuanya, termasuk tentang Nicole dan Bos Wang pun Andi ceritakan.
__ADS_1
Andi tidak mau menutupinya dari Violin, yang nantinya akan menimbulkan masalah di kemudian hari, bila dia akhirnya tahu dari orang lain.
"Ohh jadi yang sempat viral itu kak Andi ya,? aku tidak terlalu memperhatikannya, juga malas mengikuti beritanya sehingga tidak tahu itu kakak.."