AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
TELPON DADAKAN


__ADS_3

Nicole tertidur pulas di dalam mobil hingga pagi.


Sedangkan Andi duduk bersila, menggunakan tenaga sakti Fu Mo Se San Cang memulihkan kondisi badannya, sambil melancarkan peredaran darah di kedua kakinya.


Hingga pagi saat matahari menyinari kaca depan mobil, Andi baru menghentikan latihannya, di mana dia untuk pertama kalinya berhasil menggerakkan pergelangan kaki nya.


Andi tentu saja sangat gembira, Tapi Andi terpaksa menyimpan rasa gembiranya, ketika dia mendengar pergerakan Nicole yang duduk di sebelahnya.


Nicole sedikit terkejut saat bangun sudah kembali di dalam mobil.


Sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit, Nicole pun berkata,


"Maaf pak Andi, aku terlalu mabuk semalam, sehingga membuat mu harus menemani ku di sini.."


Andi tersenyum dan berkata,


"tidak apa-apa, itu bukan masalah.."


"Seingat ku, aku mabuk di atas kapal, bagaimana pak Andi bisa membawa ku tidur di sini..?"


tanya Nicole heran.


Andi sambil tersenyum Canggung berkata,


"Maaf setelah kapal kembali ke dermaga, aku terpaksa memindahkan kamu duduk di pangkuan ku, agar aku bisa membawa mu kembali ke mobil."


"Tapi aku tidak bisa nyetir, sehingga terpaksa kita melewatkan malam di sini.."


"Maaf ya..?"


ucap Andi merasa tidak enak hati, takut Nicole berpikir macam macam tentang dirinya, yang mencuri kesempatan menyentuh tubuhnya.


Nicole menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Bisa ada di mobil pun sudah hebat, terimakasih ya pak Andi, aku jadi merepotkan mu..'


Andi tersenyum dan berkata,


"Sudah lupakan saja, lebih baik kita pulang saja sekarang, jam 9 kita masih mau bertemu klien pembuat mesin pabrik motor kita.."


"Nicole kursi roda ku masih di luar sana, aku..boleh kamu tolong..maaf ya..?"


ucap Andi sungkan, tapi dia memang tidak berdaya.


Nicole mengangguk dan berkata,


"Baik pak Andi tenang saja, sebentar saya bantu.."


Nicole langsung turun dari mobil nya, membantu menyimpan kursi roda Andi yang bisa di lipat, ke bagian tengah mobil.


Setelah itu dia baru kembali ke bagian depan dan berkata sambil tersenyum,


"Beres pak, yuk kita jalan.."


Andi tersenyum tidak enak hati dan berkata,


"Makasih ya,.."

__ADS_1


Nicole hanya membalasnya dengan anggukan dan senyum.


Tak lama kemudian mobil Nicole sudah sampai di parkiran apartemen.


Nicole pun membantu Andi menurunkan kursi roda, setelah kursi roda siap di samping mobil.


Dengan ringan sambil menekan kursi jok mobil dengan tangannya, tubuh Andi pun melayang ringan duduk kembali keatas kursi roda nya.


Nicole memperhatikan cara Andi, untuk kembali duduk di kursi roda dengan kagum.


Di dalam hati Nicole berpikir,


"Pantas saja Andi bisa membawanya kembali ke mobil, rupanya Andi memiliki sepasang tangan yang sangat bertenaga, meskipun kakinya lumpuh."


Saat mereka tiba di apartemen, secara kebetulan mereka bertemu dengan Rubi dan Elena yang baru saja keluar dari kamar Peter dan Marco.


Melihat kedatangan Andi dan Nicole sambil tersenyum malu malu, Elena berkata,


"Eh Nicole Andi kalian berdua juga baru pulang, kemana aja ? semalam suntuk.."


"Aku mabuk ketiduran di mobil, jadi baru bisa pulang setelah pagi.."


ucap Nicole sambil tersenyum canggung.


"Nicole makasih ya, Elena Rubi, aku kembali duluan ke kamar bye.."


ucap Andi terburu-buru, malas bergosip yang nantinya semakin melenceng.


Benar saja setelah Andi pergi, Elena dan Rubi sambil tertawa nakal menggoda dan menginterogasi Nicole, sepanjang mereka berjalan menuju tempat parkir.


Mereka bertiga saling ledek dan saling goda.


Dia pun duduk termenung menatap ke arah pemandangan gunung di hadapannya.


Andi sedikit menghela nafas lega, saat teringat kejadian semalam dimana ucapan Nicole ternyata tidak serius, hanya ingin menggodanya saja.


Berpikir sampai di sana, Andi pun tersenyum sendiri dan menegur pikirannya sendiri.


"Andi,.. Andi,.. kamu cacat dan lumpuh begini, masih berani berpikir putri Bos Wang benar'benar jatuh cinta pada mu.."


"Kamu ini sungguh naif dan terlalu over percaya diri.."


Sesaat kemudian Andi mengeluarkan sebuah patung menatapnya dan berkata,


"Lin entah bagaimana kabar mu sekarang,?"


"Lin hari ini kakak ada kabar baik untuk mu.."


"Lihat Lin, kaki kakak' hari ini pergelangan kaki nya sudah mulai bisa di gerakkan.."


"Lihatlah,.."


ucap Andi seorang diri, sambil mengerak gerakan pergelangan kaki nya.


"Jadilah Dokter yang hebat jangan kecewakan harapan kakak, hiduplah dengan bahagia, kakak akan selalu mendoakan itu untuk mu.."


gumam Andi pelan, lalu menyimpan kembali patung tersebut kedalam laci meja kerjanya.

__ADS_1


Setelah itu Andi pun kembali keluar dari dalam ruangan kerjanya, untuk menunggu jemputan dari Nicole.


Sekitar jam 9 kurang rombongan Andi pun berangkat meninggalkan apartemen mereka di antar oleh Nicole menuju Pabrik pembuatan mesin kendaraan yang menjadi relasi Bos Wang.


Nicole membawa rombongan Andi tiba di sebuah pabrik manufaktur mesin yang sangat besar.


Di sana rombongan Andi di sambut langsung oleh Bos Lin pemilik langsung pabrik mesin tersebut.


Bos Lin membawa Andi dan rombongannya berkeliling dan memperkenalkan mesin mesin yang sedang di buatnya.


Untuk hal ini Andi mempercayakan pada Toni Doni dan Peter, untuk membahas detilnya mesin yang mereka butuhkan.


Sedangkan Andi lebih banyak menjadi pendengarnya saja, begitu pula dengan Nicole dan Marco.


Setelah puas berkeliling, Bos Lin mengajak rombongan Andi untuk membahas perincian yang lebih detil dan negosiasi harga di ruangan meeting yang cukup besar dan mewah.


Meski harga mesinnya bahkan lebih murah dari mesin bekas Andi di New York,.tapi Andi masih tetap mencoba menawarnya sedikit, dengan jaminan tidak akan menggunakan bahan murahan untuk pembuatan mesin mereka.


Andi dengan cerdik sudah menyiapkan draft perjanjian untuk itu, bila di kemudian hari ada di temukan penipuan oleh pihak Bos Lin.


Pihak Andi bisa menuntut penalti ganti ruginya yang tidak kecil.


Setelah negosiasi alot yang ditengahi oleh Nicole, akhirnya kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan penandatanganan surat kontrak kerja.


Baru saja mereka selesai melakukan penandatanganan kontrak, tiba-tiba HP Nicole berbunyi.


Saat diangkat dan berbicara dengan orang di seberang sana, wajah Nicole terlihat berubah agak pucat dan terlihat cemas..


Melihat hal ini Andi pun bertanya, setelah Nicole memutuskan sambungan telpon nya.


"Ada apa Nicole apa yang terjadi..?"


tanya Andi hati hati.


"Pabrik sedang bermasalah,.aku harus kesana sekarang.."


ucap Nicole yang terlihat tidak bebas menjelaskan di depan bos' Lin.


Andi mengangguk mengerti melihat ekspresi kesulitan Nicole.


Andi menoleh kearah Bos Lin sambil mengulurkan tangannya Andi berkata,


"Bos Lin masih ada pesan atau hal lainnya ?"


Bos Lin mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Andi sambil berkata,


"Tidak ada pak Andi, senang bekerja sama dengan anda, semoga semua berjalan lancar.."


Andi mengangguk dan berkata,


"Bila tidak ada hal lainnya, kalau begitu kami pamit permisi Bos Lin, terimakasih banyak atas waktunya.."


"Sama sama pak Andi."


ucap Bos Lin sambil tertawa.


Setelah mereka semua bersalaman, Andi Nicole dan rombongannya pun buru-buru meninggalkan tempat Bos Lin.

__ADS_1


Mereka langsung masuk kedalam mobil yang langsung bergerak menuju lokasi proyek pabrik yang di kunjungi Andi dan rombongannya kemarin sore.


"Nicole apa yang terjadi di pabrik ?" tanya Andi begitu mereka sudah duduk dalam mobil.


__ADS_2