
Sambil nyetir Nicole berkata tanpa menoleh,
"Tadi telpon datang dari pak Yang, dia bilang di pabrik ada demo dari masyarakat setempat."
"Semua jalan akses masuk ke pabrik mereka tutup,. sehingga pasokan bahan bangunan untuk pembangunan konstruksi terhenti."
ucap Nicole sambil terus ******* ***** setir di hadapannya, wajahnya terlihat cemas.
Andi menatap Nicole dan berkata,
"Apa pak Yang tidak mencoba melakukan negosiasi dan berbicara baik baik dengan mereka..?"
Nicole menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tentu pak Yang sudah melakukannya, hasilnya adalah kepala nya terluka di timpuk batu sama warga.."
"Apa yang sebenarnya mereka inginkan ? hingga bisa seanarkis itu ?"
tanya Andi heran.
"Aku juga kurang tahu di,.. makanya kita musti melihat kesana, baru bisa tahu duduk permasalahannya.."
ucap Nicole sambil terus fokus menyetir.
Andi mengangguk dan tidak banyak tanya lagi, mereka harus datang ke lokasi baru bisa tahu apa yang di tuntut oleh warga.
Akhirnya kendaraan mereka tiba di dekat mulut jalan yang menjadi akses menuju lokasi pabrik.
Dari kejauhan sudah terlihat berderet-deret mobil besar parkir di bahu jalan.
Mereka tidak bisa membawa muatan mereka masuk kedalam pabrik.
Sehingga terpaksa parkir di sana, karena satu satunya jalan akses menuju pabrik di tutup oleh warga.
Di mulut jalan terlihat banyak warga berkumpul di sana, baik pria dan wanita masing-masing membawa senjata di tangan mereka.
Seperti siap berperang dengan siapa pun yang mencoba untuk masuk.
Melihat situasi tersebut, Andi pun berkata,
"Nicole sebaiknya parkirkan mobil mu, di truk yang paling ujung ini."
"Kamu sebaiknya tunggu di mobil, biar saya dan Marco yang coba lihat kesana.."
"Tapi aku penanggungjawab di pabrik baru ini, bila aku tidak kesana itu sangat tidak bertanggungjawab.."
ucap Nicole mencoba membantah.
Andi tersenyum penuh pengertian dan berkata,
"Aku tahu kamu sangat bertanggung jawab, tapi saat ini mereka sedang emosi.."
"Ini bukan waktu yang tepat bagi mu sebagai perwakilan pabrik untuk muncul.."
"Sebaliknya aku saja yang kesana mencari tahu, apa inti masalah, dan apa tuntutan yang sebenarnya mereka inginkan.."
ucap Andi tenang.
"Tapi keadaan mu, bila terjadi sesuatu kamu sulit melarikan diri.."
ucap Nicole sambil menatap Andi dengan cemas.
__ADS_1
Andi tersenyum tenang dan berkata,
"Justru karena keadaan ku yang seperti ini, orang orang tidak bakal curiga dan tega, untuk menyerang seorang yang duduk di kursi roda seperti aku ini.."
Nicole menilai penjelasan dan alasan sangat masuk akal.
Akhirnya sambil menghela nafas panjang Nicole berkata,
"Baiklah,.. tapi berjanjilah kamu harus hati-hati, bila situasi tidak baik cepat cepat mundur menjauh."
Andi mengangguk sambil tersenyum lembut berkata,
"Terimakasih, tapi kamu tenang saja."
"Tidak bakal terjadi apapun, percayalah."
"Ayo Marco.."
ucap Andi, sambil menoleh kearah Marco.
Marco mengangguk, Marco tidak terlihat takut.
Mental nya sudah cukup teruji, sebelum melamar menjadi marketing dan bekerja di bawah Andi.
Dia dulunya adalah mantan atlet taekwondo dan sempat menjadi instruktur taekwondo selama beberapa tahun.
Marco turun dari mobil menyiapkan kursi roda buat Andi, lalu setelah Andi sudah duduk di kursi roda.
Marco lalu mendorong kursi roda Andi, sambil berjalan menuju lokasi di mana kerumunan masa sedang berkumpul.
Saat sudah dekat dengan kumpulan masa beberapa pemuda yang lengan dan dadanya bertato menghadang di depan Andi.
"Hei kalian berdua siapa ? ada urusan apa kemari.."
Andi tidak menanggapi sikap kasar dan tidak sopan mereka, sebaliknya Andi sambil tersenyum ramah berkata,
"Nama ku Andi dan dia teman ku Marco, Kami berdua di tugaskan oleh kantor pergi ke pabrik itu, untuk mengecek fungsi pompa air di sana.."
"Marco rokok.."
ucap Andi sambil mengulurkan tangannya kearah Marco.
Marco buru buru mengeluarkan sebungkus rokok yang masih baru dari sakunya.
Andi menerimanya, kemudian membuka segel dan bungkus rokok lalu Andi menawarkan ke pemuda di hadapannya dan berkata,
"Ayo rokok dulu, ayo semuanya jangan sungkan."
"Mari bersantai sejenak jangan terlalu tegang, rileks aja.."
"lebih baik kita cari tempat teduh ngobrol sambil merokok.."
"Kami juga tidak sedang buru buru, bila akses kesana di tutup, ya kami bisa apa ? paling tinggal pulang aja.."
ucap And sambil tersenyum ramah
Satu persatu pemuda itu menerima uluran rokok dari Andi, Andi menggunakan korek api nya membantu mereka menyalakan rokok.
Setelah rokok nyala dan menghisapnya sekali, pria yang barusan menegur Andi, kelihatannya dia adalah pimpinan rombongan.
"Nama ku Joni, ayo kita kesana saja, lebih teduh.."
__ADS_1
ucap Joni sambil berjalan menuju ke arah sebuah pohon besar yang rindang.
Marco mendorong kursi roda Andi menyusul si Joni bersama teman teman si Joni.
Sambil duduk santai di atas tanah menikmati rokoknya, Joni pun berkata,
"Apa kalian berdua sangat berkepentingan untuk masuk kedalam pabrik itu..?"
"Bila ya, aku bisa membantu kalian berdua untuk masuk.."
ucap Joni santai sambil meneruskan rokoknya.
Andi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak juga sih, kami gak terlalu perlu."
"Kami tinggal pulang dan lapor ke atasan jalan masuk ke pabrik ditutup ada demo.."
"Beres sudah,.."
ucap Andi ringan.
Joni mengangguk sambil memberi tanda jempol kearah Andi dan berkata,
"Benar itu, buat apa mati matian bekerja, hanya untuk memperkaya bos aja.."
Teman temannya pun mengangguk membenarkan sambil tertawa.
"Sebenarnya apa yang terjadi di sini ? sehingga sampai terjadi demo begini ?"
tanya Andi sambil menatap Joni.
Joni membuang rokoknya dengan kesal berkata,
"Sebenarnya cuma masalah sepele, tapi si marga Yang keparat itu, berani' memecat dan memarahi ku di depan umum.."
"Sekarang aku ingin dia merasakan akibatnya.."
ucap Joni dengan wajah kesal.
"Benar itu,..si marga Yang itu terlalu sombong, mentang mentang istrinya orang setempat, lalu dia berlagak seperti orang setempat yang paling hebat.."
"Menjilat keatas, menekan ke bawah, aku mau lihat sekarang bagaimana dia akan bereskan masalah ini.."
ucap teman teman Joni bersahut sahutan, berlomba lomba mengeluarkan unek unek dalam hati mereka.
Andi menatap kearah Joni dan berkata,
"Sebenarnya apa yang terjadi ? mengapa si marga Yang itu sampai memecat anda anda sekalian."
"Sebenarnya cuma masalah sepele aja, hari sedang panas terik, karena lelah capek."
"Kami pun duduk duduk melepas lelah, sambil tiduran."
"Tidak sengaja kamipun tertidur, saat memergoki kami sedang tidur."
"Dia mengumpulkan semua orang, menjadikan kami sebagai contoh, memaki maki kami lalu kami semua di pecat olehnya hari itu juga.."
"Gimana gak kesal coba, udah dipermalukan terus dipecat pula.."
ucap Joni mengeluarkan semua unek unek di dalam hati nya kepada Andi.
__ADS_1